Hargo.co.id GORONTALO – Meski diakui pedagang rokok tradisional ini belum terjadi peningkatan permintaan saat ribut-ribut wacana naiknya harga rokok ini,
namun mereka sadar bahwa suatu saat nanti hau lalahe dan rokok sejenisnya akan berjaya, seperti jaman perang dulu, kata mereka.
Saat ini, yang paling dominan penikmat hau lalahe ini adalah dari kalangan petani, buruh tani, termasuk petani miskin.
Di pasar tradisional Limboto sendiri, ada puluhan pedagang hau lalahe yang sudah lama istiqomah dengan dagangannya.
Bahkan, banyak diantara mereka yang sudah berjualan lebih dari 15 tahun dan 20 tahun.
Fatma Haka, seorang pedagang rokok kuning ini mengaku dagangannya yang paling laris adalah tabaku yang didatangkan dari Jawa.
Mereka membelinya dari agen dengan harga Rp 60 Ribu per Kilogram (Kg) untuk tabaku kuning (tabaku ringan) dan Rp 75 Ribu untuk tabaku cokelat (sedang).
Untuk tabaku kuning dijualnya dengan harga sekitar Rp 10 Ribu per Ons, sedang untuk tabaku cokelat dijualnya dengan Rp 12 Ribu per Ons,
“Ini (tabaku kuning dan cokelat,red) so pake depe minyak dengan so ada cengkeh,” kata Fatma yang mengaku berasal dari Kecamatan Batudaa ini.
Sementara untuk hau lalahe yang berlabel seperti Kunci Mas, Kuda Terbang, bahkan ada juga Marlboro dan seterusnya, dibanderol mulai dari Rp 6 Ribu per bungkus.
Bahkan, ada pita cukainya lagi. Sedangkan kertasnya dihargai Rp 4.000 per gulungan.
Ternyata yang lebih mahal juga ada, tapi penikmatnya terbatas. “Biasa yang suka ini opa-opa (kakek-kakek,red),” kata Saira Kadir, pedagang lainnya.
Itu adalah tembakau lokal dari Gorontalo. Menurut dia, tembakau lokal ini paling banyak dipasok dari wilayah Marisa. Harganya fantastik.
Per tas (kira-kira sekitar setengah kilogram) harganya mencapai Rp 500 Ribu. Tabaku lokal atau biasa disebut “tabaku milu” ini pun dijual Rp 40 Ribu per Ons.
“Iya pak, memang mahal. Tapi lama sekali mo habis,” terang Saira.
Disinggung soal wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 Ribu, mereka mengaku sudah mengetahuinya dari berita koran dan televisi.
Walaupun harganya naik atau turun, mereka mengaku tidak akan mempengaruhi dagangan mereka karena segmennya berbeda.
“Kalau tidak, tidak ada yang bisa mo jualan sampai 20 tahun disini. Jadi, tidak semua suka, tapi yang suka banyak, apalagi orang tua,” pungkas mereka.(axl/hargo)
