Hargo.co.id GORONTALO – Setelah penandatanganan kerjasama antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah daerah kabupaten Gorontalo (Kabgor) pada awal Juli 2016 lalu, pengembangan klaster beras sudah resmi dijalankan dan beras organik adalah fokus sasarannya. Nah, sudah bagaimanakah penampakannya sekarang ini ?
Setelah kerjasamanya diteken, program tersebut langsung action. Dan akhirnya disepakati ada dua kelompok tani yang menjadi percontohan untuk beras organik tersebut.
Kelompok tani yang beruntung itu masing-masing berada di Desa Hutabohu, Kecamatan Limboto Barat yang diketuai bapak Arifin dan satunya lagi di Desa Tuladenggi Kecamatan Telaga Biru yang diketuai ibu Sulastri. Mereka pun diberikan berbagai pelatihan dan bantuan, diantaranya berupa hand tracktor.
Penanaman pun akhirnya dilakukan di lahan seluas 1 hektar dan sudah dimulai sejak bulan Juni 2016. Prosesnya pun berjalan lancar dan diperkirakan akan segera dipanen hasilnya pada pertengahan Oktober mendatang.
Sebelumnya, Kepala KPw BI Gorontalo, Suryono, menyatakan bahwa untuk pengembangan klaster beras ini pihaknya akan mengambil program fokus pada beras organik.
“Jadi, kita ambil spesialis beras organik. Di Gorontalo ‘kan masih beras biasa (non organik), jadi kita buat semacam prototipe, atau percontohan atau pilot project-lah,” ungkap Suryono.
Dijelaskannya, pihaknya memilih untuk mengembangkan beras organik karena banyak manfaatnya. Yang pertama adalah dari sisi kesehatannya. Beras organik, kata Suryono, sudah jelas polanya tidak menggunakan bahan kimia mulai dari pupuk dan semacamnya.
Yang kedua, dari harganya. Beras organik, tambah dia, harganya lebih tinggi dari pada beras biasa pada umumnya dan paling laris di supermarket. Pasalnya, konsumennya paling banyak dari kalangan menengah keatas. “Jadi, petani untung karena tingkat harganya lebih baik dan konsumen diuntungkan dari sisi kesehatan, jadi yang dicari adalah manfaat positifnya,” jelas Suryono.
Suryono mengakui, bahwa untuk mencoba sesuatu yang baru memanglah tidak mudah. Namun, khusus beras organik ini, sudah banyak sekali daerah yang telah sukses, sebut saja di Kabupaten Ngawi, Sragen bahkan di Solo. “Beras organik ternyata tidak begitu sulit.
Tapi, kita tidak serta merta bisa merubah mindset (para petani lokal,red) dan itu butuh proses,” kata Suryono. Olehnya, BI berencana akan membawa dua kelompok tani tersebut untuk studi banding ke Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, untuk melihat langsung bagaimana pengembangannya.
“Jadi disana bisa tahu bagaimana memenej beras organik mulai dari menanam, pupuk, olah tanah dan lain-lain,” sambungnya.
Suryono juga berujar, jika beras organik ini berhasil, maka bukan tidak mungkin klaster ini akan terus dikembangkan demi mensejahterakan petani di Kabgor, “Mudah-mudahan, kalau ini berhasil, ini bisa menjadi pemicu untuk memotivasi petani.
Padi organik memang lebih bagus, tapi mungkin saja petani belum tahu manfaat positifnya saja,” pungkasnya.(axl/hargo)
