Hargo.co.id, GORONTALO – Aktifitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Taluditi, menuai protes warga. Pasalnya, warga yang mayoritas petani ini mengeluhkan dampak pertambangan yang merugikan para petani di wilayah Kecamatan Taluditi dan Randangan. Salah satunya banjir yang akhir-akhir ini mulai mengkhawatirkan.
Salah satu warga setempat mengaku, aktifitas pertambangan di Kecamatan Taluditi tak hanya dilakukan dengan cara tradisional, namun aktifitas tersebut sudah menggunakan alat yang dikhawatirkanya pula akan memperparah kondisi hutan dan lingkungan desa sebagai penerima dampak.
“Benar pak. Kalau tidak salah ada sebanyak 8 alat ekskavator yang saat ini sedang beraktivitas disana (Taluditi),” ungkap salah satu warga setempat.
Tak hanya banjir, kata Warga, Aktifitas Pertambangan menggunakan alat berat semisal Ekskavator, juga kerap merusak jalan dan perkebunan warga Desa.
“Kami sudah sangat lama menderita. Mereka (pelaku usaha pertambangan) itu enak-enak saja menerima hasil, nah, kami hanya bisa menerima banjir dan dampak kerusakan lingkungan lainnya,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Pohuwato, Al Amin Uduala saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa dirinya dengan tegas meminta Kapolda Gorontalo, Irjen.Pol.Drs. Angesta Romano Yoyol., M.M untuk segera menangkap para pelaku perusak lingkungan di wilayah PETI Taluditi tersebut. Terlebih kata bagian Komisi III yang membidangi pertambangan dan Energi itu, jika aktifitas ilegal dilakukan diluar wilayah pertambangan rakyat (WPR) sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
“Apabila aktivitas pertambangan itu masih masuk dalam wilayah WPR, saya kira tidak masalah, namun bila mereka lakukan diluar wilayah tersebut, maka bapak Kapolda Gorontalo harus segera menindak tegas,” ungkap Al Amin Uduala, saat dikonfirmasi, Ahad (4/5/2023).
Disisi lain, kendatipun menurutnya kondisi air sungai randangan yang mulai keruh, dirinya berharap aktifitas pertambangan tidak akan memperparah kondisi yang dialami warganya saat ini. Terlebih, sebagai bagian dari masyarakat Randangan dan Taluditi, dirinya juga berharap agar semua pihak bisa bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap terawat sampai nanti diwariskan ke anak cucu.
“Bukan tidak ada kaitannya dengan aktivitas pertambangan, tapi memang biar tidak ada aktivitas pertambangan juga air di sungai Randangan ini tetap keruh. Nah ini mungkin yang harus kita minimalisir agar tidak tambah parah,” tutupnya.(*)
Penulis: Riyan Lagili
