Hargo.co.id – Gwyneth Montenegro adalah penganut Kristen taat sebelum menjadi pekerja seks komersial. Dia mengklam pernah tidur dengan 10 ribu lelaki sebelum akhirnya memutuskan keluar dari industri esek-esek itu. Sekarang perempuan 39 tahun itu menjadi pengajar.
Warga Melbourne, Australia, itu mengajari perempuan untuk memahami lawan jenisnya. Dia memberikan kisi-kisi apa yang sebenarnya diinginkan lelaki. Dan jawabannya mungkin mengejutkan.
Gwyneth jatuh ke dalam dunia gelao pada usia 21 tahun, tiga tahun setelah dia menjadi korban pemerkosaan. Selama 12 tahun Gwyneth mendapatkan uang dengan menjual dirinya.
Dikisahkan Gwyneth, dia diperkosa saat masih berusia 18 tahun. Pengalaman traumatis itu menjungkirbalikkan hidupnya. Dia yang awalnya penganut Kristen taat dan bersumpah akan menjaga kesuciannya sampai nanti menikah berubah 180 derajat.
Dia merasa tidak berharga. Mimpinya kandas dan alih-alih bangkit dari kemuraman, Gwyneth malah terjebak dalam dunia gelap. â€Begitu Anda dibayar untuk melakukan seks, Anda tidak akan sama,†katanya kepada News.com.au. â€Saya mungkin bisa menerimanya karena saya sudah merasa kotor sebelumnya.â€
Klien-klien Gwyneth beragam. Banderol jasanya berkisar USD 500- USD 1.000 (setara Rp -). Dia melayani pengacara ternama, politisi, sampai musisi. Tempat kencannya hotel mewah sampai resor ternama di Bora Bora. â€Uang itu. Itu yang membuat saya bertahan,†katanya. â€Itu semacam narkoba. Uang itu membuat saya melayang keliling dunia,†katanya blak-blakkan.
Dari klien-klien itu Gwyneth pun belajar. Salah satunya mengenai apa yang diinginkan lelaki dalam hubungan. Gwyneth menemukan kalau sebagian besar kliennya tidak benar-benar menginginkan seks hardcore yang aneh atau melakukan sesuatu yang gila. â€Seksnya normal. Namun, sebagai escort saya menilai banyak lelaki yang merasa menjadi “lelaki†setelah melakukan hubungan seksual dengan saya,†sambungnya.
Gwyneth menganalogikan, saat ini banyak lelaki yang takut membukakan pintu untuk perempuan. â€Perempuan sekarang adalah perempuan mandiri yang juga sama levelnya dengan pria,†ujarnya. Dan, bagi lelaki, kata Gwyneth, itu “menenggelamkan†fungsi mereka. â€Mereka tidak tahu bagaimana menjadi lelaki. Mereka tersesat.â€
Gwyneth mengisahkan, pekerjaannya tidak hanya berhubungan seks. Dia juga menemani kliennya ngobrol dan chit-chat. Bahkan, beberapa klien suka memiliki perasaan kalau mereka memiliki Gwyneth. â€Mereka hanya ingin mengontrol perempuan daripada sekadar seks,†ujar penulis buku 10,000 Men and Counting itu. (hg/dailymail/tia)
