Suka Duka Mahasiswa KKN Kebangsaan di Pinogu
Hidup di wilayah terpencil tentu harus menerima resiko hidup dengan serba terbatas. Termasuk keterbatasan mengakses jaringan telekomunikasi yang bagi masyarakat perkotaan sudah menjadi kebutuhan primer. Kondisi ini turut dirasakan oleh mahasiswa yang melaksanakan kuliah kerja nyata kebangsaan (KKNK) di salah satu wilayah terpencil yaitu Kecamatan Pinogu.
Nurmawan Gusasi – Bone Bolango
Hargo.co.id – KECAMATAN Pinogu memang menjadi salah satu Kecamatan yang terpencil di Kabupaten Bone Bolango. Meskipun terpencil tapi sangat dikenal dengan kekayaan alamnya. Kekurangan-kekurangan yang berada di Kecamatan Pinogu, menjadi tantangan dan tugas tersendiri bagi mahasiswa KKNK, yang disebar di seluruh desa di Kecamatan Pinogu.
Desa Bangio adalah salah satu Desa yang berada di Kecamatan Pinogu yang terpencil dan membutuhkan perhatian. Mahasiswa KKNK yang ditempatkan di Desa tersebut sebanyak 7 mahasiswa, mereka adalah Tawakal dari Universitas Halu Oleo, Kendari. Suryaningrat Ana dari UNG Gorontalo, Nia Nafiah dari Uniersitas Sebelas Maret, Solo.
Kenedi Binowo dari Universitas Samratulangi Manado. Mewarra dari Universitas Negeri Musamus Merauke, Rando S Fallo dari Universitas Nusa Cendana, Kupang dan Abudl Rawin R Bakari dari UNG, dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Fitryane Lihawa.
Ketujuh mahasiswa ini, awalnya melakukan observasi di Desa Bangio, Kecamatan Pinogu, dan permasalahan yang berada di Desa tersebut adalah masih kurangnya informasi mengenai desa tersebut, sehingga itu mahasiswa membuat Sistem Informasi Desa (SimDes) yang memua seluruh profil tentang Desa tersebut.
“Di mahasiswa kami ada yang ahli IT, sehingga itu dia yang bertugas untuk membuat SimDes. Memang jaringan di Pinogu sangat lemah, tapi kami tetap berusaha untuk membuat SimDes, dengan mengumpulkan data-data yang berada di Desa,” ungkap Dr. Fitryane Lihawa. SimDes Bangio sendiri tersebut bisa dikoneksikan juga dengan internet, tapi kalau berada di Desa dia digunakan secara ofline.
Bahkan mereka juga membuat buku saku, yang memuat tentang profil desa Bangio. Di buku saku tersebut bisa bermanfaat bagi setiap orang yang akan Pinogu.
“Kita harapkan akan ada kerjasama dengan pemerintah daerah, dimana setiap ojek yang akan ke Pingo, penumpanggnya bisa membeli buku saku tersebut,” ungkapnya. Selain itu, mahasiswa juga mengembangkan Biogas, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.
Dituntut kreatif untuk bisa melahirkan karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, tapi para mahasiswa juga mendapatkan gemblengan lain. Mereka dituntut untuk membiasakan hidup dengan nuansa pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat perkotaan.
Yang salah satunya adalah identik dengan keleluasaan mengakses jaringan komunikasi. Seperti seluler maupun internet. Selama tinggal di Desa Bangio , para mahasiswa juga dilatih hidup tanpa ada jaringan seluler. Para mahasiswa benar-benar hidup ‘terisolir’. Karena tak leluasa berkomunikasi via seluler termasuk dengan orang tua.
Bahka ada diantara mahasiswa yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang tua selama berada di Pinogu. “Kalau mau dapat jaringan kita harus turun lagi, tapi biaya untuk turun itu sangat mahal, sehingga ada diantara kita yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang tua,” ungkap Tawakal “Alhamdulillah ada orang tua di antara kami yang komunikasnya dengan ibu DPL, Dr. Fitryane Lihawa.
Kalau DPL mengunjungi kita di lokasi, sering kita sampaikan salam ke orang tua kita,” kata Tawakal.
Ia bersama dengan teman-temanya merasa sangat senang bisa mengikuti KKN K di Desa Pinogu, desa yang penuh dengan tantangan, tapi mempunyai banyak kekayaan alam.
Cerita lain juga disampaikan oleh mahasiswa Desa Pingo Induk, Kecamatan Pinogu. Paskalina Wessayau mahasiswa asal Musamus Merauke ini, mengatakan begitu mendengar nama Pinogu yang terletak dibenaknya adalah sulitnya jalan menuju Desa tersebut.
“Perjalanan kita ke Desa itu sangat menantang, tapi setelah sampai di Desa Pinogu, kita menikmati suasana yang alamnya yang sangat indah,” kesan dari Paskalina. Kecamatan Pinogu terdiri dari lima desa, Desa Pingo, Desa Bangio, Desa Pinogu Permai, Desa Dataran Hijau, dan Desa Tilongkabila.
Sebagai bentuk akhir dari kegiatan KKN K, seluruh peserta memaparkan hasil karya mereka dihadapan Bupati Bone Bolango, Hamim Pou, Selasa (22/8). Setelah itu ditutup dengan malam keakraban bersama dengan pemerintah Kabupaten Bone Bolango. (*/hg)
