Waspada Logam Berat Merkuri-Sianida

×

Waspada Logam Berat Merkuri-Sianida

Sebarkan artikel ini
Prof.DR Rizald Max Rompas ketika menjelaskan bahaya logam berat merkuri dan Sianida akibat aktivitas tambang liar Gorontalo.

Hargo.co.id GORONTALO – Tingginya aktivitas pertambangan di Gorontalo mendapatkan perhatian dari sejumlah peneliti, ilmuan hingga akademisi. Pasalnya, penggunaan logam berat seperti sianida dan merkuri dalam aktivitas pertambangan dikhawatirkan akan berpengaruh pada keseimbangan lingkungan.

Hal ini mengingat aktivitas pertambangan, seperti yang terjadi di hulu sungai Bulango dimana muaranya mengarah ke Kota Gorontalo dan langsung ke teluk Gorontalo, sangat berbahaya.

Pakar toksikologi dan farmakognosi laut dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Prof Dr Rizald Max Rompas, mengingatkan bahaya logam berat bagi kesehatan manusia.

Logam berat seperti merkuri (Hg) berpotensi mencemari lingkungan yang berasal dari kegiatan penambangan emas, baik skala kecil dan besar.

“Dalam jangka panjang, organ tubuh yang terakumulasi logam berat seperti merkuri dapat menimbulkan cacat,” kata Rompas di sela-sela seminar nasional berkaitan dengan dies natalis ke-III Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), kemarin, Jumat (6/10).

Rompas mengatakan, pencemaran logam berat seperti merkuri (raksa) biasanya digunakan pekerja tambang untuk menangkap emas. Selain merkuri, ada juga yang menggunakan sianida. Logam berat merkuri, selain yang digunakan dalam penambangan, ada yang dari sumber alami berupa bijih atau batuan.

Merkuri menduduki urutan pertama dalam hal sifat racunnya, dibandingkan dengan logam berat lainnya. Gejala toksisitas merkuri organik, meliputi kerusakan sistem saraf pusat berupa anokresia, ataksia, dan dismetria. Selain itu, gangguan pandangan mata yang bisa mengakibatkan kebutaan, gangguan pendengaran, koma hingga kematian.(tr-45/hg)