Jangan Lewatkan Fenomena 18 Tahun Sekali, Lusa Gorontalo 5 Jam Gerhana Bulan

×

Jangan Lewatkan Fenomena 18 Tahun Sekali, Lusa Gorontalo 5 Jam Gerhana Bulan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gerhana bulan. (Istimewa)
Ilustrasi

Gorontalo,Hargo.co.id - Jangan sampai terlewatkan. Di penghujung bulan ini tepatnya tanggal 31 Januari 2018 akan ada peristiwa gerhana bulan total (GBT). Seluruh masyarakat Indonesia termasuk Gorontalo bisa menyaksikannya. Fenomena alam ini terbilang langka karena hanya terjadi 18 tahun sekali.

Berdasarkan data yang dirangkum Gorontalo Post dari Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) Gorontalo setiap tempat di wilayah Indonesia akan dapat menyaksikannya sesuai dengan periode waktu.

Khusus untuk Gorontalo dan wilayah Indonesia tengah pada umumnya, awal gerhana dimulai selepas Salat Magrib tepatnya pukul 18.49 Wita.

Sejalan dengan pergerakan bulan, bumi, dan matahari, satu jam kemudian pada pukul 19.48 Wita, sebagian bulan akan terlihat gelap yang menandai terjadinya Gerhana Bulan Sebagian (GBS). Selanjutnya cahaya di Bulan akan terus mengecil hingga mencapai puncak GBT pada pukul 21.29.

Durasi waktu bulan di ambang totalitas gerhana ini akan berlangsung selama 1 jam 16 menit, yakni dari pukul 21.29 Wita sampai pukul 22.08 Wita. Setelah itu posisi bulan secara perlahan bergerak keluar dari umbra dan penumbra bumi hingga lepas seutuhnya pukul 00.09 Wita. Bila dihitung berdasarkan waktu proses terjadinya gerhana tersebut, durasi dari sejak mulai sampai akhir berlangsung selama 5 jam 20 menit.

Pengamat BMKG Gorontalo Hasan Arif mengatakan, gerhana bulan terjadi karena terhalangnya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak sampai ke Bulan. Ini merupakan fenomena alam yang diakibatkan pergerakan dinamis posisi matahari, bumi, dan bulan dalam sistem tata surya.

Selang tahun 2018, fenomena gerhana bulan tidak saja akan terjadi pada tanggal 31 Januari. Gerhana bulan di tahun ini akan muncul sebanyak 5 kali. Kedepan akan terulang lagi pada tanggal 15 Februari, 13 Juli, 28 Juli dan tanggal 11 Agustus.

“Namun yang sampai gerhana Bulan total hanya tanggal 31 Januari. Lainnya hanya berupa gerhana Bulan sebagian. Adapun yang bisa teramati oleh masyarakat Indonesia yakni fenomena tanggal 31 Januari dan 28 Juli,” ungkapnya.

Untuk fenomena gerhana Bulan di tanggal 31 Januari, sambung Hasan Arif, pengamat di Indonesia akan dapat melihat seluruh proses gerhana. Sementara di sebagian wilayah Jawa dan Indonesia Barat akan mendapati Bulan sedang dalam proses gerhana penumbra di waktu Bulan terbit.

Fenomena gerhana saat bulan terbit juga dapat teramati dari samudra pasifik serta bagian Timur Asia, Australia, dan bagian Barat laut Amerika serta bagian Barat Asia, Samudera Hindia, bagian Timur Afrika, dan bagian Timur Eropa. Adapun proses gerhana pada saat Bulan terbenam hanya dapat diamati di bagian Utara Amerika dan bagian Timur Samudera Pasifik.

“Perlu diketahui juga, ada sejumlah tempat yang tidak dapat melihat keseluruhan proses gerhana ini. Yakni sebagian Afrika, Samudera Atlantik, dan bagian Selatan Amerika,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan Hasan Arif, fenomena GBT yang akan muncul pada 31 Januari 2018 depan merupakan anggota ke-49 dari 73 anggota pada seri Saros 124.

18 tahun silam, pemandangan langit yang gelap total dari cahaya bulan di malam hari ini pernah terjadi di tanggal 21 Januari 2000 dan diprediksi baru akan kembali terulang pada 11 Februari 2036. “Semua gerhana bulan dalam seri Saros 124 ini diakibatkan Bulan bergerak ke arah utara Ekliptika (jalur dalam sistem tata surya) Bumi,” jelasnya.

Hasan Arif menyampaikan pula, sebagaimana teori ilmu pengetahuan, saat proses gerhana bulan seperti demikian, hewan-hewan malam akan berubah tingkah laku dari biasanya. Disamping itu juga terjadi kenaikan muka air laut. “Tapi yang pasti tidak ada pengaruh negatifnya di bumi. Justru ini adalah fenomena yang indah untuk disaksikan,” pungkasnya. (and/hg)