Asah Kemampuan Lewat GCDP di Tiongkok

×

Asah Kemampuan Lewat GCDP di Tiongkok

Share this article

Siapa yang tak ingin diberi kesempatan, bisa belajar dan menambah pengalaman seru untuk mengembangkan kemampuan diri di luar negeri.

Seperti halnya pengalaman Pipiet Irwansyah yang mendapatkan kesempatan ke Tiongkok setelah mengikuti berbagai tahap seleksi program Global Community Development Program (GCDP) dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Tahun 2013 silam. Bisa berkesempatan menjadi bagian dari kegiatan organisasi internasional kepemudaan terbesar di dunia ini, tentunya menjadi kesempatan dan pengalaman berharga yang didapatkan oleh dara kelahiran 6 November 1993 ini.

Selama enam pekan atau sekitar sebulan lebih mengikuti kegiatan dari organisasi yang tersebar lebih dari 188 negara ini, membuat perempuan alumnus jurusan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya, Malang ini merasa senang dan bangga karena bisa termasuk dari tiga perwakilan untuk Indonesia dan kampus tempat Pipiet mengenyam pendidikannya pada saat itu.

Mengikuti program kegiatan yang harus bertahan di negara yang tak sesuai dengan keadaan dan kondisi di negara sendiri, tentunya menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi. Bersama timnya dari beberapa perwakilan negara, seperti Vietnam, India, dan Mesir, melakukan project yaitu dare to dream project dengan fase kota dan desa, project yang fokus pada pendidikan Rural area atau pendidikan di daerah pedesaan, seperti saat project fase desa tepatnya di Provinsi Qinghai, Xining City, benar-benar membuat perempuan yang juga alumni SMAN 1 Paguat ini semakin tertantang karena harus dihadapkan dengan fasilitas yang serba terbatas, dari tidak adannya signal jaringan internet bahkan toilet pun tidak ada, ditambah air yang masih cukup susah, dan saat melakukan project tersebut tepat waktu Ramadhan dan musim panas.

Susahnya mencari mesjid dan makanan halal, ternyata juga dihadapi Pipiet bersama timnya. Namun berbagai tantangan yang dihadapi selama di negara tirai bambu itu, ternyata bisa berhasil survive. Tentunnya ini menjadi tantangan dan pengalaman yang tak terlupakan bagi anak perempuan dari pasangan Iwan Gumanti dan Nining Abdullah.

“Senang dan bersyukur bisa berbaur dengan masyarakat Xining City, mempersentasikan Indonesia kepada siswa-siswa disana, bisa belajar bahasa mandarin juga, serta menyaksikan penampilan budaya dari negara-negara lain, Afrika, Amerika dan negara lainnya,” ujar perempuan yang gemar menulis dan menyanyi ini.

Menurut perempuan yang bercita-cita menjadi analisis kerjasama luar negeri ini, bahwa kerja antar timlah yang menjadi momen paling berharga untuknya, “Kita berasal dari negara-negara berbeda, jadi bagaimana cara kita membangun mutual understanding diantara anggota tim,” jelasnya. Pipiet berharap apa yang telah didapatkannya bisa menginspirasi generasi selanjutnya dan dapat diterapkan terutama diri sendiri, lingkungan sekitar dan negara untuk skala besar, “Teruslah bermimpi, berkemauan keras, tetap konsisten berusaha, push your self to the limit, dan dont stop until you are proud,” ungkap Pipiet.

Perempuan bersaudara tiga ini mengaku dibalik semua ini, ada sosok Ayah dan Ibu yang begitu luar biasa. Dari prestasi yang diraih Pipiet tentunnya menjadi motivasi bagi banyak orang, bahkan tahun ini tepatnya di bulan maret, akan mewakili Indonesia dalam ASEAN Youth Representatives Im Experiencing The Philoshopy of Sufficieny Economy AY-REPSE di Thailand dan baru-baru ini lolos Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) delegasi Gorontalo untuk Kanada. (ZT-07)