Gorontalo Workshop Film, Tanda Kebangkitan Perfilman Gorontalo

×

Gorontalo Workshop Film, Tanda Kebangkitan Perfilman Gorontalo

Share this article
Foto Bersama usai digelar Wokshop Film, Dari Kita Untuk Film Nasional di Hotel Sumberia, Ahad (24/02/2019). (Foto (Eriyanto Irvan /GP)

DUNIA perfilman Gorontalo sesungguhnya memiliki daya saing yang cukup kompetitif. Buktinya, setelah sukses menggarap film horor Otajin pada tahun 2016, kini Dwisetyo Produksi, kembali akan menayangkan film bergenre horor. Berjudul Wanalathi yang akan tayang di Bioskop seluruh Indonesia pada April mendatang.

Irianto Irvan- Kota Gorontalo

SEMANGAT berkarya dalam memajukan dan mengenalkan potensi yang dimiliki Gorontalo dalam dunia perfilman, turut dibawa Dwisetyo Produksi dalam Gorontalo Workshop Film Dari Kita Untuk Film Nasional. Workskhop itu digelar terkait hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret.

Workshop yang digelar Ahad (24/2) kemarin, di Hotel Sumber Ria Kota Gorontalo itu, seakan menjadi tanda kebangkitan perfilman Gorontalo. Karena berkaitan peringatan hari perfilman, Dwisetyo Produksi berencana menggelar festival Film Gorontalo 2019.

Yang akan diisi dengan berbagai kegiatan lomba membuat film pendek seperti iklan masyarakat, short video bersama Grab dan video blogger.

Gorontalo Workshop Film dihadiri oleh sejumlah mahasiswa, siswa dari sejumlah sekolah SMP dan SMA di Gorontalo. Sementara narasumber yang dihadirkan yaitu produser film nasional Benny Rumambie.

Aktivis Pertelevisian Hadi Sutrisno, Budayawan Muh Karmin Baruadi, produksi film Jhony J. Kandou, Jurnalis sekaligus kritikus film Mohamad Sirham serta Sutradara film Wanalathi, Tobrani. Peserta workhsop film mendapatkan materi, soal proses pembuatan film, hingga proses memasukkan film ke XXI.

Benny Rumambie mengungkapkan bahwa saat ini informasi yang selalu berkembang tentang pemasukkan film dikenakan biaya hingga ratusan juta adalah informasi bohong alias hoax.

“Jadi tidak ada biaya sepeserpun yang diminta XXI untuk memasukkan film ke XXI termasuk bioskop-bioskop lainnya yang setara XXI. Itu tak ada minta bayaran. Hanya yang dimintakan itu yakni harus punya izin, sensor, kalau tak ada sensor film tak bisa tayang serta penggunaan kamera dan ini yang menjadi penting,” jelas Benny.

Menurutnya, pembiayaan paling besar dalam produksi film berada pada pembiyaan peminjaman alat dan crew yang dipinjam se-paket. Selain itu resensi film menjadi hal penting.

“Resensi ini untuk pengakuan bahwa film ini ada pemiliknya. Jangan hanya membuat film tapi tidak ada resensinya,” ujar produser Dwisetyo Produksi ini.

Sementara itu, Budayawan Karmin Baruadi, mengungkapkan perfilman Gorontalo memiliki potensi yang juga besar apalagi tentang budaya.

“Saya kira banyak inspirasi lokal Gorontalo yang bisa diangkat untuk perfilman Indonesia, seperti tradisi khas Gorontalo dan Folklore Gorontalo. Sama seperti daerah lain ,” ujarnya.

Dosen Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo ini menuturkan, bahwa dengan potensi yang ada film dapat menjadi pengembangan budaya. “Dan itu jika kita tahu cara untuk menyisipkan budaya dalam perfilman,”tutupnya saat membawakan materi.

Sementara itu, aktivis pertelevisan Hady Sutrisno dan produksi film Jhony D Kandau, turut mengapresiasi dan mendukung perfilman hasil karya putra-putri Gorontalo yang secara aktif berkarya melahirkan ide film-film yang bisa tayang secara nasional.

Sementara itu Moh. Sirham, Direktur Utama Gorontalo Post yang menyamaikan materi tentang bagaimana menjadi krtikus film ini berharap agar generasi muda, harus berani untuk berkarya.

“Jangan khawatir dengan alat yang mahal. Manfaatkan yang ada seperti kamera handphone kita bisa belajar. Nanti saat mampu dan hasil kita diakui dan miliki penghasilan baru coba alat yang canggih,” pungkasnya. (***)