Harga Jagung Turun, Bulog Siap Intervensi Hingga 100 Ton

×

Harga Jagung Turun, Bulog Siap Intervensi Hingga 100 Ton

Share this article
Ilustrasi Jagung

Hargo.co.id, GORONTALO – Bulog Subdrive Gorontalo siap mengintervensi harga jagung di Gorontalo Utara (Gorut) untuk 100 tom. Hanya saja, harganya tidak melewati Rp 3.150 per kilogram untuk kadar air 17 persen.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Subdrive Bulog Gorontalo Munafri Syamsuddin, usai bertemu dengan Wakil Ketua DPRD Gorontalo Utara, Lukman Botutihe, Kamis (6/3) siang. Sebagaimana diketahui, sebelumnya Lukman meminta kepada Bulog Gorontalo untuk mengintervensi harga jagung agar stabil, karena kindisi yang terjadi saat ini, harga jagung di Gorut turun drastis.

Menurut Munarfi, Bulog siap membantu pembelian atau dengan kata lain menyerap jagung dari petani di provinsi Gorontalo, salah satunya di Kabupaten Gorut. “Memang selama ini kami hanya mengurus beras, namun untuk saat ini, kami Bulog siap untuk melakukan pembelian jagung,” ungkapnya.

Namun yang menjadi kendala saat ini, untuk harga jagung tidak lebih dari Rp. 3.150 per kologram. Hal tersebut karena ada pembatasan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk kadar air 17 persen. Harganya hanya sampai segitu tidak boleh lebih.

Sementara itu, untuk harga jagung di gudang-gudang yang ada di Gorut Rp 3.400 hingga Rp 3.500 per kilogram. “Harga ini tentu Bulog masih kalah jika memang ingin menyerap. Bukan saja dengan gudang, mungkin denfan pengumpul Bulog masih kala,” ujarnya.

Namun demikian, Munarfi menegaskan bahwa penugasan yang diberikan ke pihaknya untuk menyerap jagung yangbdapat dibilang baru berjalan dua tahun ini akan dioptimalkan. “Dengan melihat potensi jagung yang ada di Provinsi Gorontalo termasuk Gorut, ke depan, kami lebih bisa memaksimalkan pembelian. Dan mungkin nanti insya Allah ada sarana dan prasarana, karena selama ini gudang kami hanya gudang-gudang beras,” kata Munarfi.

Yang ada saat ini, Bulog masih menerapkan buy to sell dalam artian Bulog hanya membeli dan kemudian langsung menjualnya. “Hal tersebut dikarenakan Bulog belum ada sarana penampung. Dan untuk tahun ini, Bulog sudah ada anggaran untuk pembelian jagung kurang lebih 100 ton, tapi memang masih dengan sistem by to sell,” tandasnya. (abk/hg)