Hargo.co.id – PROSES evakuasi korban yang tertimbun di tambang emas ilegal di Desa Bakan, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut) hanya bisa berlangsung selama 10 hari. Kawasan tambang yang sering mengalami longsor membuat tim evakuasi memutuskan untuk menghentikan sementara proses pencarian korban.
SEJAK peristiwa itu terjadi pada 26 Februari lalu, hingga Kamis (7/3), tim evakuasi terus melakukan pencarian korban di lokasi tambang Desa Bakan. Namun, dalam dua hari belakangan, evakuasi tak berjalan mulus. Lokasi tambang sering mengalami longsor susulan.
Informasi dirangkum Harian Gorontalo Post dari berbagai sumber, terhitung sejak Rabu hingga Kamis (7/3), sedikitnya telah terjadi 10 kali longsor di kawasan tambang Bakan tersebut. Sementara proses evakuasi sudah sampai pada dasar goa tambang. Saat ini, alat berat yang telah berada di lokasi terpaksa dipindahkan.
Selama proses pencarian sudah ada 45 kantong jenazah yang berhasil dievakuasi. Dari 45 kantong itu, ada 18 jenazah.
“Jadi dari 45 kantong jenazah, 27 orang meninggal,†ungkap Direktur Operasional Basarnas Brigjen TNI (Mar) Budi Purnomo dalam keterangan keterangan persnya, Kamis (7/3).
Ia mengatakan, penghentian proses pencarian korban ini dilakukan karena lokasi tambang tak aman lagi. “Kondisi goa tidak tidak aman lagi. Maka sejak tadi pagi (kemarin, red) tidak lakukan pencarian,†ujar Budi.
Sementara itu, menurut pihak perusahaan tambang PT J Resources, dari hasil pemeriksaan di lokasi, ada kemungkinan terjadi longsor susulan di tebing bagian atas karena sudah ada retakan. Namun sebelumnya telah terjadi longsor karena proses evakuasi telah menggali sedalam enam meter.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Postmortem Polda Sulut membeberkan, dari dua posko yang dibuka yakni Pokso orang hilang dan posko identifikasi hingga hari ini jumlah yang melapor berjumlah 22 orang yang hilang.
Ketua tim Post Mortem tim DVI Polda Sulut dr Paula Lihawa MforSc, mengatakan sejak hari pertama tim DVI menerima 20 kantong jenazah. Dari 20 kantong jenazah itu, 13 orang teridentifikasi positif melalui berbagai tanda khas pada tubuh dan sidik jari.
Lima kantong tidak teridentifikasi berupa satu jenazah utuh dan empat potongan tubuh. Sedangkan masih ada dua kantong yang dalam proses identifikasi tim di RS Pobundayan.
“Jadi dari 22 laporan orang hilang, 13 orang teridentifikasi positif meninggal. Dari tujuh laporan sisa belum ada yang positif. Satu laporan ternyata ditemukan hidup satu lagi dilaporkan meninggal tapi langsung dijemput pihak keluarga tanpa melewati Posko Postmortem,†jelas dr Paula Lihawa.
Bupati Bolaang Mongondow Yasti Soepredjo Mokoagow mengatakan, evakuasi sulit dilakukan karena banyak bebatuan yang labil.
“Persoalannya, satu saja batu disentuh, itu runtuh semua. Sementara kita berharap di dalam masih ada korban yang selamat. Itu tingkat kesulitan kita,” kata Yasti, sebagaimana dilansir detik.com. (dan/fiq/gp/hg)
