10 Kelurahan Rawan Longsor, Pemkot Beri Opsi Relokasi Seluruh Warga

×

10 Kelurahan Rawan Longsor, Pemkot Beri Opsi Relokasi Seluruh Warga

Share this article
Ilustrasi Longsor @google

GORONTALO, Hargo.co.id – Insiden longsor yang menelan dua korban jiwa di Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Jumat sore (31/3) menjadi warning bagi seluruh warga yang bermukim di sekitar kawasan perbukitan agar lebih waspada. Apalagi Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gorontalo mencatat, hujan lebat masih dimungkinkan terjadi hingga akhir April 2018 sehingga potensi longsor bisa terjadi lagi.

Longsor dalam sepekan terakhir juga terjadi di Kelurahan Dembe I, sebuah batu besar menimpa rumah warga. Beruntung tidak ada korban jiwa, hanya rumah yang bocor karena dihantam batu besar.

Grafis @ Gorontalo Post

Di Kota Gorontalo, tercatat ada 10 wilayah permukiman warga yang rawan terdampak longsor. 10 wilayah itu, terletak di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Hulonthalangi, Kecamatan Kota Barat dan Kecamatan Dumbo Raya. Di Hulonthalangi, areal longsor berada di Kelurahan Pohe, Tenda, Siendeng dan Donggala. Di Kota Barat terdapat di Kelurahan Dembe I dan Pilolodaa. Sementara, di Kecamatan Dumbo Raya terletak di Kelurahan Leato Utara, Leato Selatan, Talumolo dan Botu.

Wilayah-wilayah tersebut dikategorikan rawan longsor karena memiliki perbukitan dan tidak sedikit warga yang tinggal di bawah kaki bukit. Lurah Dembe I Adriyun Katili menyatakan, Dembe I termasuk daerah yang sangat berpotensi longsor jika hujan lebat. Sejak tahun 2016, tercatat sudah empat kali insiden longsor terjadi.

Bahkan, pernah di tahun sebelum itu, longsor sampa menelan korban jiwa. Lebih bahayanya lagi, kata Adriyun, dari hasil pemantauan pihaknya di awal pekan ini, terdapat batu-batu besar di atas gunung yang berpotensi tergelincir ke permukiman warga. “Ini yang membuat kita khawatirkan,” ujarnya ketika diwawancarai awak media, Selasa (3/3).

Adriyun mengungkapkan, dari total jumlah penduduk Dembe I sebanyak 4.026 jiwa, ada sekitar 30 persen di antaranya bermukim di kaki bukit yg rawan longsor. Karena jumlah warga yang bermukim di kaki bukit cukup banyak, penanganan bahaya longsor pun cukup pelik. Di satu sisi, mereka tinggal di kaki bukit ini terancam bahaya, namun disisi lain mustahil pula untuk pindah tempat karena tidak memiliki lahan selain di kaki bukit dan rata-rata ekonomi mereka pun hanya menengah ke bawah.

“Jadi, sulit juga mengatasinya,” kata Adriyun Untuk itu kata Adiryun, yang bisa dilakukan pihaknya adalah mengoptimalkan peran aparat kelurahan hingga RT/RW agar proaktif memberikan informasi kepada setiap warga apabila terjadi cuaca buruk. Jika terjadi hujan lebat misalnya, setiap warga diimbau untuk lebih berhati-hati. Pada saat yang sama, pihaknya juga ikut mengimbau warga lainnya yang berencana membangun rumah baru untuk tidak membangun lagi di kaki bukit.

Kepala BPBD Kota Gorontalo Rustham Rahman mengatakan, daerah-daerah yang rawan longsor memang cukup banyak di Kota Gorontalo. Karena itu, menyusul cuaca Gorontalo yang sering dilanda hujan lebat, pihaknya telah mengarahkan camat-camat dan lurah di daerah-daerah yang rawan longsor untuk aktif memberikan imbauan kepada warganya. Disamping itu, pihaknya juga turun langsung memberikan sosialiasi agar warga bisa lebih sigap jika cuaca buruk terjadi. “Ini yang kita lakukan sebagai upaya pencegahan. Jangan sampai longsor menimbulkan korban,” ujar Rustham.

Sementara itu, Plt. Walikota Gorontalo Charles Budi Doku menyampaikan, insiden longsor yang sudah sering berulang di Kota Gorontalo sudah harus mendapat perhatian serius. Apalagi, sekarang, sudah ada korban jiwa. “Tugas utama pemerintah daerah sesuai UU Nomor 23 tahun 2013 adalah melindungi warganya. Karena itu, pemerintah harus berbuat sesuatu sehingga para warga yang tinggal di daerah-daerah yang rawan longsor bisa terlindungi,” kata Budi Doku.
Menyangkut langkah penanganan ini, Budi menyatakan, ada dua alternatif solusi yang bisa dilakukan.

Solusi pertama, warga akan direlokasi keluar dari tempat tinggalnya sekarang. Pemerintah akan mencarikan lahan khusus sekaligus membangun rumah layak huni (Mahyani) untuk mereka. Jika itu tidak bisa, maka solusi kedua adalah membangun infrastruktur tanggul penahan longsor, sehingga jika longsor terjadi saat hujan lebat tidak akan sampai menimpa permukiman warga. “Solusi ini sementara kita bahas bersama instansi terkait. Intinya, Pemkot Gorontalo akan berusaha penuhi kebutuhan warga, asal warga mau,” katanya. (and/hg)