11 Orang Penderita DBD Meninggal di Pohuwato 

×

11 Orang Penderita DBD Meninggal di Pohuwato 

Sebarkan artikel ini

Hargo.co.id, GORONTALO – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) memang masih menjadi salah satu momok yang menakutkan bagi masyarakat di Pohuwato. Pasalnya, dalam tiga tahun terakhir, tren DBD di Bumi Panua (sebutan lain Pohuwato) itu mengalami kenaikan. Bahkan hingga pertengahan 2019 ini, kasus DBD sudah merenggut nyawa 7 orang.

Informasi yang dirangkum, jumlah kasus DBD yang pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus Dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Hal ini merujuk pada data di Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato yang mencatat ada 155 kasus di 2017, dengan jumlah korban meninggal dunia 2 orang di wilayah kerja PKM Marisa dan PKM Lemito.

Sedangkan pada 2018 terdapat 303 kasus dengan 2 kasus kematian di wilayah kerja PKM Wanggarasi dan Motolohu. Sementara untuk 2019, hingga Juni, sudah ada 233 kasus DBD, dengan jumlah kematian mencapai 7 kasus yang terjadi di wilayah kerja PKM Patilanggio, Popayato Timur, dan Popayato.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato Dr. Supandi M Abdullah melalui Sekretaris Dinas Irawati Monoarfa mengungkapkan. Untuk jumlah jumlah kasus DBD di Kabupaten Pohuwato memang mengalami peningkatan kasus dari tahun ke tahun.

Namun kata dia, terjadinya kasus DBD diakibatkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat terhadap Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan masyarakat.

“Artinya jika pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan masyarakat bagus, tentu kasus DBD pun akan menurun. Karena memberantas DBD sangat efektif jika dilakukan dengan PSN. Namun banyak masyarakat masih menganggap fogging adalah satu-satunya solusi untuk memberantas kasus DBD, yang padahal fogging tidak akan menyelesaikan masalah. Karena upaya fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya,” jelas Irawati.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Pohuwato Maryam Samu, mengungkapkan. Upaya pemberantasan sarang nyamuk sangat membutuhkan peran serta semua lapisan masyarakat, mulai dari unsur pemerintah, tokoh masyarakat hingga masyarakat itu sendiri.

“Yang kami takutkan DBD akan menjadi kejadian luar biasa karena sudah mewabah. Maka dari itu sangat penting keterlibatan semua elemen untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan secara rutin melakukan 3M plus yakni, menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan terakhir memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat perkembagnbiakan nyamuk, seperti gelas plastik, botol dan lain-lain,” harapnya. (ryn/hg)