Hargo.co.id GORONTALO – Batalyon Infanteri 713/ Satyatama Gorontalo, kembali mendapat tugas penting dari Panglima TNI, untuk melakukan pengamanan di jalur perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Batalyon yang dikenal dengan kualitas prajurit berani TNI Angkatan Darat ini, ditugaskan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk menjadi bagian dari pasukan pengamanan jalur lintas perbatasan, Indonesia dan Malaysia, di Kabupaten Malino, Provinsi Kalimantan Timur.
Sedikitnya, 350 prajurit Yonif 713/Satyatama Gorontalo ini, diikutkan dalam satgas pengamanan jalur perbatasan, yang akan bertugas selama 9 bulan di sejumlah pos perbatasan yang ada di jalur lintas perbatasan Indonesia-Malaysia itu. 350 anggota Yonif 713/ Satyatama Gorontalo ini akan bergabung dengan Kodam VI/ Mulawarman, Kalimantan.
Para prajurit TNI ini selain melakukan pengamanan di jalur perbatasan, juga akan ikut terlibat dalam sejumlah kegiatan diantaranya, pembinaan terhadap warga lokal, Penanganan kasus ilegal logging, menganalisis medan, tindakan, dan membuat teori terkait dengan prosedur penanganan konflik di daerah operasinya, serta pembinaan wawasan kebangsaan terhadap warga lokal.
Mayor Inf Hanif Bachmid Danyonif 713/ Satyatama Gorontalo yang juga menjabat sebagai kepala satgas mengatakan, sebelumnya para prajurit yang ikut dalam operasi ini, telah menjalani latihan, selama 5 bulan. “Sebelumnya prajurit telah menjalani latihan selama 5 bulan lamanya, baik fisik, mental maupun pengetahuan tentang apa yang akan mereka lakukan di daerah operasinya,” ujarnya.
Mayor Inf Hanif menambahkan, di daerah operasi nanti, prajurit TNI dituntut untuk bisa menerapkan semua latihan dan bekal yang mereka dapatkan selama persiapan, baik kemampuan seni perang maupun pembinaan terhadap masyarakat lokal.
Mayor Inf Hanif Bachmid Danyonif 713/ Satyatama Gorontalo yang juga menjabat sebagai kepala satgas mengatakan, sebelumnya para prajurit yang ikut dalam operasi ini, telah menjalani latihan, selama 5 bulan.
“Sebelumnya prajurit telah menjalani latihan selama 5 bulan lamanya, baik fisik, mental maupun pengetahuan tentang apa yang akan mereka lakukan di daerah operasinya,” ujarnya. Mayor Inf Hanif menambahkan, di daerah operasi nanti, prajurit TNI dituntut untuk bisa menerapkan semua latihan dan bekal yang mereka dapatkan selama persiapan, baik kemampuan seni perang maupun pembinaan terhadap masyarakat lokal.
“Ini merupakan hal penting demi terwujudnya persatuan dan kesatuan NKRI yang menjadi harga mati untuk kita,” tegasnya.
Sementara itu, Karo Ops Polda Gorontalo yang bertindak langsung sebagai inspektur upacara dalam, upacara pelepasan 350 prajurit Yonif 713 Gorontalo berpesan agar saat bertugas di wilayah operasinya, para prajurit bisa menjaga nama baik Indonesia.
“Bagi prajurit tugas yang ditunggu-tunggu adalah tugas operasi, jadi lakukan tugas dengan sebaik-baiknya,” ujar Kombes Pol Budi Sapto, Karo Ops Polda Gorontalo. Kombes Pol Budi menambahkan, tugas operasi adalah suatu kehormatan bagi seorang prajurit. Di mana, seorang prajurit dituntut untuk menjalankan tugas sebaik mungkin.
“Jaga keselamatan jiwa prajurit, jaga kekompakan dalam pelaksanaan tugas di perbatasan. Diharapkan seluruh prajurit untuk tidak memikirkan keluarga yang ditinggalkan sebab menjadi tanggung jawab komando untuk menjaga seluruh keluarga prajurit yang ditinggalkan,” ungkapnya.
“Sekarang prajurit mendapat tugas operasi, ingat ini tugas diberikan oleh negara, menjaga perbatasan negara, Tugas harus tanggung jawab, jangan sampai ada pelanggran sedikitpun,” tandasnya.
Upacara pelepasan ini juga dihadiri anggota keluarga. Mereka berangkat ke Kaltim dengan KRI Teluk Lampung, Rabu (23/3). Upacara pelepasan ini juga diwarnai dengan isak tangis sanak saudara para prajurit TNI kebanggaan Gorontalo itu. (tr-45/hargo)
