Menurut polisi, Mateen beraksi sendirian dengan menenteng senapan, senjata genggam dan sebuah alat yang tak diketahui namanya. Padahal, pria 29 tahun itu tak pernah punya catatan kriminal sebelumnya.
Namun, aksinya tercatat sebagai penembakan masal paling mematikan di AS. Polisi menyebut serangan yang terjadi pada pukul 02.00 itu sudah dirancang dan disiapkan secara baik.
Mateen berasal dari Port Saint Lucie yang terletak di sebelah selatan Orlando. Agen khusus Danny Banks mengungkapkan, ada kecenderungan Mateen terkait dengan kelompok Islam radikal.
Polisi memborbardir klub dengan peledak untuk mengalihkan konsentrasi Mateen sekaligus menyelamatkan 30 sandera yang bersembunyi di kamar mandi. Polisi akhirnya melumpuhkan Mateen setelah empat jam pengepungan dan baku-tembak.
Wali Kota Orlando, Buddy Dyer langsung mengumumkan kondisi darurat. Gedung Putih juga langsung bereaksi. “Pikiran dan doa kami bersama keluarga dan orang-orang tercinta tang menjadi korban,†tulis pernyataan resmi Gedung Putih.
Terpisah, Direktur Pusat GLBT di Orlando, Terry DeCarlo menyebut aksi itu merupakan serangan kepada komunitas LGBT.(nydailynews/ara/jpnn/hargo)
