Selasa, 6 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Akhirnya, Masyarakat di Tengah Hutan Gorontalo Bisa Nikmati Elpiji 3 Kilogram

Oleh Admin Hargo , dalam Ragam , pada Kamis, 10 November 2022 | 15:05 Tag: , , , ,
  Kondisi jalan menuju Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo yang dipenuhi lumpur menyebabkan jalan tersebut hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor khusus yang sudah dimodifikasi. (Foto Hamdan Abubakar/Harian Gorontalo Post)

Hargo.co.id, GORONTALO – Pinogu adalah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Berada di tengah hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) menjadikan Pinogu benar benar tertinggal, terutama dari segi infrastruktur.

Di Kecamatan Pinogu terdapat 5 desa, yaitu Desa Bangio, Pinogu Permai, Tilonggibila, Pinogu dan Dataran Hijau. Jumlah penduduk Pinogu mencapai 2.054 jiwa. Jarak Pinogu ke wilayah Desa Tulabolo (desa sebelum masuk hutan) sekitar 40 km. Sementara jarak ke Kecamatan Suwawa, ibukota Kabupaten Bone Bolango sekitar 60 km. Ada 3 cara untuk bisa ke Pinogu. Yakni menggunakan helikopter, berjalan kaki atau naik kijang (ojek sepeda motor khusus). Kendaraan roda empat tak bisa tembus ke wilayah itu.

Jika ditempuh dengan berjalan kaki akan membutuhkan waktu sekitar 10 jam, dibutuhkan fisik yang kuat untuk berjalan. Sebab pejalan kaki harus menembus hutan, mendaki melewati lereng bukit, menyeberangi sungai. Dalam perjalanan pun harus siap digigit lintah hutan.

Sementara jika naik kijang (ojek sepeda motor khusus) membutuhkan waktu sekitar 6-8 jam. Hanya saja biaya kijang sangat mahal, dikisaran Rp 400-500 ribu sekali jalan. Jika pulang pergi maka membutuhkan biaya Rp800 ribu-1 juta.

Mahalnya tarif ojek ini disebabkan jalan yang harus dilalui begitu ekstrim, bahkan jika musim hujan kijang harus bisa menaklukan becek dengan kedalaman minimal 100 cm dan tiga sungai.

Infrastruktur yang begitu memprihatinkan ini tentu menjadi salah satu penyebab, warga Pinogu lebih banyak menggantungkan kebutuhan hidupnya dari alam. Mulai makanan dari hasil bertani hingga memasak yang awalnya menggunakan kayu bakar.

Seiring berjalannya waktu, kini masyarakat Pinogu sudah bisa tersenyum. Sebab, untuk memasak sebagian mereka sudah menggunakan elpiji 3 kg. Berkat Pertamina, sejak 2020 elpiji sudah masuk ke wilayah Pinogu. Di Pinogu ada dua pangkalan yang telah dibuka yang dilayani oleh dua agen elpiji subsidi.

Sebelum masuk ke pangkalan di Pinogu, elpiji dipasok terlebih dahulu ke pangkalan transit yang berada di Desa Pangi, Kecamatan Suwawa Timur. Bagi warga Pinogu yang sedang turun ke Desa Pangi, mereka membeli elpiji 3 kg dengan harga Rp18 ribu per tabung.

Sementara mereka yang membeli di pangkalan yang ada di Kecamatan Pinogu dihargai Rp70 ribu per tabung. Harga naik disebabkan biaya transport (ojek) yang harus dikeluarkan oleh pangkalan agar elpiji bisa sampai ke wilayah Pinogu.

Ainun Mokodompit, salah seorang warga Pinogu yang diwawancarai Gorontalo Post mengatakan masuknya elpiji 3 kg di kampungnya sudah sangat membantu. Dimana sebelumnya warga hanya memakai kayu bakar untuk memasak.

“Untuk menghidupkan api itu, kami pakai plastik minuman, karet bekas atau sabut kelapa. Sekarang pakai elpiji dapur tidak penuh dengan asap,” katanya.

Sementara itu, Rustam Baso, Checker Elpiji Gorontalo saat diwawancarai menjelaskan, dalam seminggu distribusi elpiji ke wilayah Pinogu sebanyak dua kali dengan total elpiji yang dipasok sekitar 100-150 tabung.

“Pinogu itu masuk zona merah kebutuhan elpiji. Zona merah ini artinya mereka benar benar membutuhkan, sehingga Pertamina fokus kesana. Berapapun permintaan akan segera kita layani,” ujarnya.(*)

Penulis: Hamdan Abubakar

(Visited 42 times, 1 visits today)

Komentar