Begitu senangnya Amrin, masih bisa mendengar suara Kadri. Dari dalam lubang maut itu, Kadri meminta kepada ayahnya agar bisa diberi air minum karena kehausan. Tapi, Amrin tak beradaya. Ia tak bisa masuk ke dalam lubang, batu-batu besar menutupinya.
“Saya mendengar suara anak saya meminta air, tapi saya harus lewat mana di dalam goa itu. Karena banyak batu besar menutupi jalan,†katanya.
Ada satu lagi kalimat yang didengar Amrin dari anaknya saat berada dalam goa itu. Sekitar 7 menit mereka saling berkomunikasi meski terhalang dinding batuan. Seakan kalimat yang disampaikan anaknya adalah pesan terakhir.
“Dia mengatakan, Pa, kasihan saya, kasihan anak saya Reva dan Nava,â€kenang Amrin.
Kadri yang berusia 39 tahun itu memiliki anak bernama Reva dan Nava yang masih berusia dibawah 10 tahun. Saat itu, Amrin turun dari mulut gua. Ia mencari cara agar bisa memberi air pada anaknya yang terjepit di reruntuhan tambang.
Sore sekira pukul 16.00 wita, Amrin kembali meminta izin tim SAR untuk bisa ke mulut gua, satu harapan, bisa menolong Ondeng dari dalam gua. Sayang, ketika nama kesayangan anaknya itu kembali dipanggil. Tak ada balasan lagi dari dalam gua.
“Ondeng… Ondeng.. napa Papa ee,”ucap Amrin berulang kali tepat di mulut goa. Tak ada lagi balasan, tak adalagi suara Ondeng minta air minum.
Pensiunan guru ini lesu, tertunduk. Bulir air mata menetes di pipi pria sepuh itu. Perlahan ia meninggalkan mulut goa dan kembali bergabung di posko SAR. Ia tak kembali ke kampungnya di Bilalang. Hingga kemarin, ia masih berada di lokasi tambang menanti anaknya dievakuasi. Hidup atau pun meninggal, ia harus membawa pulang anaknya ke rumah. (gp/hg)
