Tetapi, Purwa membiarkan Dea melakukan perjalanan sendiri. Mulai memilih kuliah jurusan musik hingga menjalin networking dengan musisi yang lain. ’’Saya sudah kerepotan mengurus sekolah musik. Jadi, senang sekali Dea bisa menjalin networking sendiri,’’ ucap Purwa, lantas tertawa.
Meski begitu, dia tidak melepas Dea begitu saja. Mereka selalu berdiskusi. Purwa selalu hadir untuk menyupervisi album Dea. Apalagi, Purwa menyadari genre operatic pop baru di Indonesia.
Genre yang dipilih Dea tergolong antimainstream. Tapi dia berharap kerja keras Dea di album terebut diterima pecinta musik Indonesia.(ina/c4/jan/hargo)
