Kamis, 27 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Avtur Eceran

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Sabtu, 18 Desember 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  Avtur Eceran - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

MASIHKAN Garuda baik-baik saja?

Setidaknya Garuda masih bisa tetap terbang. Sampai Kamis lalu. Biar pun hari itu hanya terbang dengan 11 pesawat.

Itulah hari terbang paling minimal bagi Garuda. Setidaknya selama banyak tahun terakhir.

Maka tidak salah kalau ada yang tetap berkata Garuda masih baik-baik saja. Setidaknya yang 11 pesawat itu.

Sebenarnya Garuda masih punya 40 lebih pesawat. Masalahnya: mau diterbangkan pakai bahan bakar apa. Pertamina sudah tidak mau lagi memasok avtur. Utang avturnya ke Pertamina sudah sekitar Rp 16 triliun. Bahkan ketegasan Pertamina itu sudah sangat telat. Pertamina sudah terlalu baik pada Garuda.

Bagaimana dengan yang sebelas pesawat itu? Kok masih bisa terbang?

Saya pun mencari info kanan-kiri. Siapa tahu Pertamina kembali jatuh kasihan: diberi lagi bahan bakar. Biar pun sekadarnya –untuk 11 pesawat.

Ternyata tetap: tidak ada lagi kasihan untukmu, Garuda. Satu-satunya toleransi yang masih diberikan Pertamina adalah: boleh dapat BBM asal bayar kontan. Sebelum ada uang masuk ke rekening Pertamina, BBM tidak akan dikucurkan. Seberapa masuknya uang, segitulah BBM yang diisikan ke pesawat.

Rupanya Garuda masih punya uang. Masih bisa untuk membeli BBM secara eceran. Meski hanya cukup untuk 11 pesawat.

Yang penting masih bisa baik-baik saja.

Sayang memang kalau Garuda tidak bisa lagi terbang. Hari-hari ini jumlah penumpang lagi ramai-ramainya. Hari itu –ketika Garuda hanya bisa menerbangkan 11 pesawat itu– Lion terbang 1.000 kali. Dengan perhitungan: pesawat yang menerbangi Jakarta-Surabaya-Makassar-Manado, balik lagi, dihitung delapan kali.

Saya pun bisa membayangkan jalannya operasi Garuda seperti ini: sore-sore berhitung. Ada pemasukan berapa. Lalu berapa yang bisa disisihkan untuk beli BBM eceran. Untuk keperluan besok. Berapa pesawat yang akan terbang disesuaikan dengan berapa uang untuk BBM eceran hari itu.

Itu mirip cara percetakan menyikapi utang penerbit surat kabar. Penerbit tidak tiap hari membayar ongkos cetak. Tunggu tagihan satu bulan. Kalau pun belum bisa bayar koran harus tetap terbit setiap hari. Utang ke percetakan pun menumpuk. Kian sulit ditagih.

Pun ketika sampai tak tertahankan lagi.

Percetakan pun mengancam: menghentikan cetak. Yang diancam cuek: bisa pindah ke percetakan lain. Utang lebih sulit lagi ditagih.

Biasanya percetakan lantas menetapkan cara keras: koran edisi hari itu baru bisa dicetak kalau sudah ada pembayaran untuk hari itu. Yang harga cetaknya sudah sedikit dinaikkan. Biasanya ditambah cicilan utang lama, semampunya.

Koran yang diperlakukan keras seperti itu bisa lebih berhasil. Manajemennya terpaksa kerja keras: cari uang lebih banyak. Terpaksa pula lebih berhemat.

Saya pernah mengalaminya seperti itu. Sering.

Maka Pertamina sudah benar kalau meniru gaya percetakan seperti itu.

Apakah untuk BBM eceran ini Pertamina mengenakan harga sedikit lebih tinggi ke Garuda? Apakah juga mengharuskan Garuda mencicil utang lama biar pun ala kadarnya?

Tak disangka perusahaan sebesar Pertamina kini harus ikut cara percetakan kecil. Apa boleh buat. Memang harus begitu –mestinya sejak dulu-dulu. Cara itu justru akan bisa memaksa Garuda lebih sehat –kalau saja tidak terlambat.

Maka sebenarnya Pertamina memang bisa ”membantu” menyehatkan Garuda secara tidak langsung. Dengan cara Pertamina bersikap keras seperti itu. Sejak dulu. Agar Garuda bisa sehat. Terpaksa sehat. Dan lagi, Pertamina pun tidak sampai punya tagihan segajah itu.

Dalam kasus percetakan kecil, utang itu bisa menumpuk karena ini: percetakan itu dan koran itu berada dalam satu grup. Setiap kali manajemen percetakan berlaku keras, manajemen koran mengadu ke big boss di grup itu. Sang bos biasanya membela manajemen koran. Setiap kali percetakan mengancam –tidak mau mencetak– selalu ditelepon sang bos: harus tetap dicetak.

Dalam hal koran seperti itu yang harus bertanggung jawab jelas: si bos itu sendiri. Yang tak lain juga pemegang saham di percetakan itu.

Di akhir tahun, saya sering mengaku salah: utang ke percetakan itu besar karena salah saya. Saya pun ikut rugi: tidak terima dividen. Manajemen koran itu sendiri harus bertanggung jawab: diberhentikan.

Saya pun mikir: siapa ya yang selalu telepon ke Pertamina agar tetap melayani permintaan BBM Garuda? Masak sih Pertamina tidak pernah mengancam Garuda?

Saya tidak bisa menduga salah satu pihak: Garuda itu punya banyak bos. Tidak hanya kementerian BUMN. Garuda punya banyak pahlawan yang bisa membelanya.

Kementerian BUMN akhirnya membiarkan Garuda digugat ke PKPU. Dengan demikian bisa jelas kapan Garuda bisa tetap baik-baik saja –atau tidak baik-baik saja.

PKPU sudah menetapkan waktu: 45 hari. Terhitung pekan lalu. Dalam 45 hari itu harus sudah ada kesepakatan antara Garuda dan para pemilik piutangnya. Kalau dalam 45 hari tidak terjadi kesepakatan, PKPU yang ambil putusan: Garuda dinyatakan bangkrut. Atau putusan lainnya. Tinggal menghitung hari. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Aipda Kenari

ah.id hidayat
Dalam “Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Kongres Lahan”, ada komentar yang dicantumkan dua kali, yakni dari Komentator Spesialis yang ada di urutan kesembilan dan kesebelas dari atas. Seharian ini saya akan membuka referensi “Jurus-Jurus Rahasia agar Terpilih sebagai Komentar Pilihan Dahlan Iskan” untuk menelaah dan menemukan apa keistimewaan komentar yang disajika dua kali itu.

Mbah Mars
Tiga kali saya didatangi orang yg mengajak gabung investasi skema Ponzi. Saya selalu bertanya:”Kok bisa kasih bagi hasil besar sekali. Ini untuk bisnis apa?” Orang pertama menjawab:”Bisnis sarang burung walet” Orang kedua berkata:”Uang yg terkumpul diinveskan di tambang emas” Orang ketiga bilang:”Ini bisnis telur semut ngangrang. Telur itu menjadi bahan obat yg harganya sangat mahal”. Semuanya terbukti bodong. Jadi, dalam setiap penipuan investasi bodong selalu disosialisasikan adanya bisnis riil yg bisa mengasilkan laba melimpah. Di artikel Abah DI belum terungkap, apakah bisnis riil yg dijadikan alasan FX Family bisa memberi bagi hasil tinggi ?

kopiPakGi
saya pernah denger pameo “investasi terbaik adalah wanita”. sepertinya pameo ini banyak benarnya…

sumartan sumartan
sama dengan orang yang katanya bisa menggandakan uang, kalau emang bisa ngapian juga ngajak ngajak, produksi saja sendiri sampai 2 T, terus sumbangkan, lalu gandakan lagi, dapat amal kaya lagi…

Arif Rahman
Jawaban sy ke yg suka nawarin investasi model gini, kalau bener untungnya besar ngapain ngajak2 orang. Kuasain aja sendiri, hasil besarnya tidak perlu diobagi-bagi.

Tunk BM
dapat warisan sepetak sawah tahun 2010, sekarang harga sudah 4x lipat, padahal harga gabah gitu-gitu aja

Gianto Kwee
Saya pernah di Pulau Manoran (?) pulau kecil di Papua Barat, di bibir samudra Pasifik yang tanahnya adalah “Nickel” Tidak ada Bakau, yang ada pohon kelapa di sepanjang pantai , tak ada Malaria karena gaada nyamuk, yang ada lalat dan Kepiting Kenari, Seekor Kepiting Kenari besar hanya ditukar sebungkus Mie Instan

Aji Muhammad Yusuf
100% dari 3 M itu kenapa nggak di taruh di deposito saja pada tahun pertama. Nanti buat kulakan kepiting kenari, kan itu langka. Margin nya kalau bisa buat bangun kepiting kenari sendiri. Harga nya 1 juta – 2,5 juta. Itu uang 3 M cuma buat fx fx an nggak jelas. Kalau nggak suka bisnis, iya masuk kemana saja harus nya pakai bunga deposito dulu. Dan kalau bisa nggak usah bergantung pada kapitalisme. Tapi kapan orang indonesia bisa nutup jp morgan chase, goldman sachs, credit siusse, atau morgan stanley?. Kalau trend sumbu pendek nya saja masih banyak.

Alexs sujoko sp
Abah DI kapan ke Samarinda ??? kayak lupa sudah dengan kampung Istri tercinta. Mampir Balikpapan sambil cek – cek perkembangan Calon Ibu Kota RI. Sudah ada jalan Tol biarpun masih terbatas dari Samarinda – Balikpapan. Info Samarinda lagi berbenah juga, di sepanjang Sungainya untuk Wisata.

Ndhe Dede
Korban investasi bodong,orang nganggur g punya uang sama orang punya uang  yang nganggur

Buzzer NKRI .
Nurut saya revolusi mental gagal mental pejabat hampir tidak ada bedanya dg sebelum jaman Jokowi kalo nurut saya revolusi mental butuh pemimpin diktaktor spt di China, gak ada jalan lain

Yusman Syaf
mungkin perlu dibuat aturan, tidak boleh pamer kekayaan / materi di TV dan medsos . membuat semua orang jadi hedonis. mentuhankan materi. tanpa materi jadi tersisihkan. dengan materi entah halal/haram jadi pujaan.

Sadewa
Kepiting Kenari = Jalannya Miring Aipda Kenari = Jalannya Murung

Leong Putu
Kasus ini terjadi, mungkin karena pengaruh lingkungan. Dunia sekarang ini, semua orang ingin yang serba cepat, serba instant. -Ingin informasi yang cepat. -Ingin sukses yang cepat. -Ingin cepat kaya. Hanya istriku yang agak beda, katanya ” Kalau papa terlalu cepat, lebih baik papa pakai sabun saja”

(Visited 38 times, 1 visits today)

Komentar