Bahaya Hoax dalam Kehidupan

×

Bahaya Hoax dalam Kehidupan

Share this article
Karjianto Penulis adalah Guru Akidah Akhlak dan Ushul Fiqih Pada MAN 2 Kabupaten Gorontalo.

SAAT  ini Hoax telah merajalela yang telah meresahkan publik melalui informasi palsu, akun palsu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menteri Komunikasi dan Informatika Rusdiantara mengatakan bahwa sudah hampir 800 ribu situs yang menyebarkan hoax di internet. Penyebaran hoax pun bermacam-macam mulai dengan cara menghasut, memfitnah, menghujat, mengujarkan kebencian, dan mencaci maki, bahkan digunakan untuk menjatuhkan dan membunuh karakter seseorang. Olehnya hoax ini sangat berbahaya dalam kehidupan dan harus segera dilawan, jika tidak maka akan merusak kerukunan dan hubungan antar masyarakat.

Hoax dari segi bahasa berasal dari bahasa inggris yang berarti olok-olokan atau cerita bohong, sedangkan secara terminologi hoax adalah usaha untuk menipu dan mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang diciptakan berupa kebohongan. Menurut Muchlis M. Hanafi, wawancara tokoh dalam majalah Fokus pengawasan, istilah hoax pertama kali tercatat oleh Alexcander Boese dalam “Museum Of Hoax”. Hoax yang pertamakali dipublikasikan adalah penanggalan palsu yang dibuat oleh Iscac Bickefres atau Jonathan Swift pada tahun 1709. Saat itu ia meramalkan kematian astrolog Jhon Partridge agar meyakinkan, ia bahkan membuat obiturasi palsu tentang Partridge yang diramal sebagai hari kematiannya. Swift mengarang informasi dengan tujuan untuk mempermalukan Partridge di depan umum. (Fokus pengawasan, 2017:65).

Dalam lintasan sejaran Islam, Hoax juga pernah menimpa Nabi Muhammada Saw dan keluarganya. Ketika itu istri yang dicintainya Siti Aisyah Radliyallahu Anha dituduh selingkuh, dan beritanya pun menjadi “viral” di Madinah. Berita itu disebarkan oleh tokoh munafik yang bernama Abdullah bin Salul. Padahal saat itu salah satu sahabat Rasulullah yang bernama Shafwan bin Mu’aththal tengah membantu Sayyidah Aisyah Radliyallahu Anha yang tertinggal dari rombongan setelah perang dengan bani mushtaliq yang terjadi pada bulan Sya’ban 5 H. Peristiwa itu dalam sejarah dinamakan hadis al-Ifki (berita bohong).

Mendengar berita atau informasi hoax tersebut Nabi Muhammad Saw sempat risau, namun Nabi tidak langsung mengambil kesimpulan. Beliau mengutamakan untuk bertabayyun terlebih dahulu agar masalah menjadi jelas. Akhirnya Allah mengklarifikasi berita itu, dengan menurunkan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Nur ayat 11, yang artinya; Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan ia baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.

Dalam Tafsir Al-Qur’nul Adzim Ibnu Kasir menjelaskan tentang ayat diatas, bahwa ayat itu diturunkan terkait dengan Siti Aisyah, Ummul Mukminin Radliyallahu Anha yang dituduh berselingkuh. Maka Allah Swt menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan dan kesucian Siti Aisyah Radliyallahu Anha untuk memelihara kehormatan Rasulullah Saw. Dengan kejadian yang dialami oleh Rasulullah Saw, dapat memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa ketika menerima berita atau informasi harus bertabayyun terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh beliau.

Tabayyun menurut Imam Asy Syaukani rahimahullah adalah memeriksa dengan teliti, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65) Dengan bertabayyun dalam mencari kebenaran yang kita dengar, harus diteliti terlebih dahulu jangan sampai kita menghakimi seseorang yang tidak bersalah tanpa bertanya dan mengecek kebenarannya.

Allah Swt mengingatkan kepada kita agar bertabayyun, Seperti firman-Nya dalam Surat Al-Hujarat ayat 6 berikut ini yang artinya; Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan klarifikasi terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar merupakan berita dusta atau keliru.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di saat menerangkan ayat di atas, termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari seseorang hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan ketika menerima informasi sangat berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Gara-gara berita yang tidak benar diterima akhirnya menjadi penyesalan di kemudian hari. Olehnya ayat tersebut mengandung makna, keharusan bertabayyun terhadap sesuatu berita atau informasi yang belum jelas kebenarannya. Selain itu pula, Allah mengingatkan kepada kita untuk tidak mengikuti sesuatu yang belum diketahui secara jelas masalahnya dan dilarang mengambil sebuah kesimpulan sebelum mengetahui secara jelas.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw juga pernah mendapatkan informasi hoax dari Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith. Apa yang dilakukan oleh Al-Walid adalah ketika itu ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad.

Al-Walid menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Saat itu juga Rasulullah Saw murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid bin walid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah surat Al-Hujarat ayat 6 untuk mengingatkan bahaya berita palsu (hoax) yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu.

Dengan demikian penting bagi kita semua agar setiap menerima informasi harus diklarifikasi terlebih dahulu agar tidak terjadi salah paham dikemudian hari. Kerena kalu kita mudah menerima informasi yang tidak benar akan berdampak pada perpecahan, bermusuhan dan saling menghujat satu sama lain. Mari kita jadikan Tabayyun sebagai tradisi yang dapat menjadi solusi terhadap informasi maupun berita hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Terutama informasi yang berpotensial memunculkan konflik dalam masyarakat. Metode tabayyun merupakan proses klarifikasi sekaligus analisis atas informasi dan situasi serta problem yang kita alami saat ini. Dengan Harapan Tabayyun yang kita lakukan akan mendapatkan hasil kesimpulan yang lebih baik, bijak, arif dan lebih tepat sesuai keadaan masyarakat sekitarnya tanpa harus merugikan orang lain.

Penulis adalah Guru Akidah Akhlak dan Ushul Fiqih Pada MAN 2 Kabupaten Gorontalo.