Sabtu, 29 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berita Panjang

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Rabu, 12 Januari 2022 | 10:35 AM Tag: , , , , ,
  Berita Panjang - DISWAY

Oleh : Dahlan Iskan

WARTAWAN lama tidak akan bisa melakukan ini: memuat berita yang panjangnya ampun-ampun. Satu berita berisi 700 nama. Yakni, semua nama pelaku sebuah tindakan kriminal-politis. Lengkap dengan riwayat hidup singkat dan ringkasan peristiwanya.

Era koran tidak mungkin melakukan itu. Kalau berita seperti itu dimuat di sebuah koran, tentu sangat membosankan. Bayangkan, panjang satu berita bisa sampai enam halaman koran.

Zaman digital telah mengubah semuanya. Berita online memungkinkan untuk itu. Tidak perlu beli kertas. Tinggal apa kata pembaca. Terserah mereka: mau membaca seluruhnya atau membaca bagian yang diinginkan saja.

Harian USA Today, Amerika Serikat, melakukan itu –untuk edisi online-nya pekan lalu. Harian itu memuat lengkap siapa saja yang ditangkap polisi di pendudukan gedung DPR Amerika 6 Januari setahun lalu.

Tentu yang dipanggil polisi lebih banyak lagi. Tapi, 700 orang itulah yang diproses sampai tingkat menjadi tersangka. Mereka itu berasal dari 41 negara bagian –dari 52 negara bagian yang ada.

Anda masih ingat: hari itu ribuan orang pawai dari sebuah lapangan menuju gedung Capitol. Mereka meneriakkan yel-yel mendukung Presiden Donald Trump. Mereka membawa dan memakai atribut MAGA –make America great again. Yakni, slogan kampanye Trump.

Mereka menerobos barikade untuk memasuki Capitol. Banyak juga yang memanjat dinding. Lalu, menghancurkan kaca-kaca pintu dan jendela. Mereka menduduki Capitol sampai malam. Sampai ada yang duduk di kursi Ketua DPR Nancy Pelosi.

Sasaran mereka: menggagalkan pengesahan Joe Biden sebagai presiden terpilih berikutnya. Sidang pengesahan itu dipimpin Wakil Presiden (saat itu)  Mike Pence.

Mereka akan menekan pimpinan sidang agar jangan melakukan pengesahan. Mike Pence meninggalkan ruang sidang. Ia mengungsi ke bagian lain gedung itu. Selebihnya, Anda sudah tahu.

Sebelum berangkat ke Capitol, mereka –di lapangan tadi– mendengarkan orasi dari berbagai tokoh Partai Republik. Lapangan itu berada di tengah antara Gedung Putih dan gedung DPR.

Orasi-orasi itu umumnya berisi: Pemilu curang, kemenangan Trump telah dirampok, Mike Pence pengkhianat, dan sebangsa itu.

Trump memberikan orasi belakangan. Kata-katanya, seperti biasa, membakar semangat. Kata-kata tersebut kini dijadikan bukti: bahwa Trump-lah yang menyuruh mereka menyerbu Capitol.

Misalnya, ada kata-kata ”pergilah ke Capitol”. Ada lagi kata-kata ”tunjukkan kekuatan”. Lalu, ”bertempurlah habis-habisan”. Untuk yang terakhir itu, saya perlu bantuan terjemahan yang lebih pas dari kalimat ”fight like hell”.

Kata-kata itulah yang sedang diuji oleh hukum Amerika Serikat. Apakah itu bisa ditafsirkan sebagai undangan: kedatangan ribuan orang ke Capitol akibat kata-kata itu.

Saksi banyak: dari mereka yang diperiksa polisi, banyak yang mengatakan mereka masuk Capitol karena diundang presiden.

Ujian kedua: apakah kata-kata itu termasuk kebebasan berbicara atau tidak. Trump ngotot mengatakan itu bagian dari kebebasan yang dijamin konstitusi negara.

Banyak juga di antara yang ditangkap beralasan apa yang mereka lakukan di Capitol adalah bagian dari ekspresi yang dijamin konstitusi.

Ujian ketiga: apakah itu ucapan seorang presiden yang lagi menjabat atau itu ucapan pribadi yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

Kongres Amerika memang lagi menyelidiki pendudukan gedung wakil rakyat itu. Sudah bersidang puluhan kali. Sudah pula memanggil lebih dari 50 orang untuk dimintai keterangan. Salah satunya: Kepala Staf Gedung Putih di zaman Trump.

Sang jenderal tidak mau menyerahkan e-mail apa saja yang pernah ia terima dari Gedung Putih. Sampai sang jenderal ditetapkan telah melanggar hukum: mengabaikan/menghina parlemen.

Semua hasil pemeriksaan tim penyelidik memang mengarah ke Trump. Bahwa harus lewat begitu banyak yang harus diperiksa itu ibarat makan bubur: harus dari pinggirnya.

Bukan hanya parlemen yang akan memanggil Trump –pada saatnya. Pun pengadilan. Berbagai gugatan perdata sudah diajukan ke pengadilan. Yang mengajukan adalah anggota DPR dari Demokrat. Yang hari itu sampai merasa terancam keselamatan mereka.

Saya mencoba membaca berita yang amat panjang di USA Today itu: tidak kuat. Tidak menarik. Tidak ada satu pun dari 700 nama itu yang saya kenal. Semuanya kan orang Amerika.

Saya mengagumi kerja jurnalistik seperti itu: menyajikan secara utuh 700 nama tersangka lengkap dengan nama, umur, asal, dan apa yang mereka lakukan selama lebih dari 5 jam menduduki gedung parlemen.

Saya pernah melakukan ”kegilaan” jurnalistik mirip itu. Yakni, memuat satu berita yang panjangnya sampai lima halaman koran. Anehnya, koran justru laris. Jadi buah bibir pula.

Meski sangat panjang, beritanya sendiri memang menarik. Ada unsur seks, pembunuhan, harta, dan pangkat.

Yakni, ketika seorang wanita, germo para pelacur di Gang Doly, disidangkan di pengadilan Surabaya: dia membunuh beberapa orang dengan bantuan seorang kolonel. Lokasi pembunuhan di kompleks pelacuran terbesar se-Asia Tenggara itu –sudah ditutup Wali Kota Bu Risma.

Saya minta kepada wartawan untuk memuat apa adanya semua yang  diucapkan hakim, jaksa, pembela, dan terdakwa di sidang pengadilan.

Wartawannya tidak perlu mikir panjang. Di bagian pertama hanya perlu  menulis seperti umumnya skenario film.

Hakim diperankan oleh siapa.

Jaksa oleh siapa.

Pembela oleh siapa.

Terdakwa siapa.

Penulisnya siapa.

Selebihnya berupa kutipan tanya jawab.

Termasuk dialog-dialog transaksi seks yang lucu-lucu.

Waktu itu belum ada TV yang bisa live dari ruang sidang. Atau belum mau.

Itu gaya jurnalisme yang tidak mungkin lagi dilakukan sekarang.

Tapi, kini saya berpikir ulang: apa pentingnya jurnalisme seperti itu. Hanya soal memuaskan selera pembaca. Beda dengan yang dilakukan USA Today saat ini: yang penuh perjuangan hukum dan demokrasi. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Pikul Luhut

ProJo Reader
Sepakat.  Oleh karena itu wacana jokowi 3 periode sebaiknya bisa terealisasi

Purnomo Inzaghi
Luhut yang namanya hancur-hancuran dua tiga tahun lalu seperti mendapat obat penyegar : yang di persoalkan dulu itu ternyata berhasil baik. Seorang temen dari tegal sering bilang : “surodadi kotane, sing dadi nyatane” yang artinya segala sesuatu itu yg dilihat kenyataannya atau hasil akhirnya. Bagaimanapun bagus teorinya kalo kenyataannya ngga ada ya ngga akan diakui. Lagipula, di negeri kita apa sih yang ngga di persoalkan?  Ibarat Pak Jokowi adalah Shin Tae Yong, maka Luhut adalah gabungan Rahmat Irianto, Evan Dimas dan Witan Sulaiman jadi satu, kokoh melindungi pertahanan, lihai mengatur irama permainan dan andal mengoyak pertahanan lawan…tinggal nyari sang striker ulung yang bisa menjebol gawang, mencetak gol, memberi kemenangan dan yang paling penting jadi JUARA. Sudah lama kita merindukan itu, sama lamanya dengan penggemar timnas menunggu tim Garuda angkat sebuah piala.

Aryo Mbediun
Kocap kacarito kurang kecap kakehan mrico. Dengan dihela oleh LBP green industrial park ini menandakan gudang2 bulk vaksin dan bahan baku test PCR dahh kosong. Dah sold out. Kantong2 dahh penuh dan masyarakat dahh menerima manfaatnya. Labanya..?? Yo ngge kiya2 di green industrial park. #Aryo, moso githu..?! Too good to be true bro. Something big was coming invited us. Gebyar itu cuma ilusi. Sorry Gus Dahlan, kali ini manufacturing hope njenengan kakehan mrico.

Idub Marto
Kecepatan semua ini, karena Jokowi dalam pereode ke 2, sudah “ndablek” dari pengaturan partai penguasa.

Disway 19082892
adaroooo….. adaroooo.. adarooo…. (mars adaro)

Arif Rahman
Abah tolong usulkan ke LBP. Utk mempercepat surplus perdagangan dengan Tiongkok, Tokopedia dan Shopee harus dibatasi menjual produk impor.  Perbanyak produk lokal. Presiden Tiongkok saja bisa membatasi Alibaba. Mestinya Jokowi juga bisa. Masalahnya mau atau enggak. Jawa Pos News Network => Disway National Network => Ormas Disway => Partai Disway.

Kisman
Jangan2 karena banyaknya rencana pembangunan industri strategis macam ini, mjd alasan masa kepemimpinan jokowi diperpanjang.

Reza Ditya Bramahendra
Salam bapak DI, saya Reza yang bekerja di perusahaan Semikonduktor di LN selama 18 tahun terakhir. Hampir tiap hari saya baca artikel bapak, tapi memang belum pernah komen. Kebetulan juga hari ini juga saya mengikuti wisuda Insinyur di UGM.  Terima kasih sudah sekilas menyebut tentang kebutuhan Semikonduktor yang akan menjadi kebutuhan/kedaulatan nasional negara ke depannya. Untuk saat ini Indonesia masih kalah besar dibandingkan negara2 sekitar. Tidak usah jauh2 ke Taiwan/Korsel. Dibandingkan Malaysia/Thailand/Vietnam kita sudah jauh dibelakang. Semoga bapak DI bisa mulai ngomporin ke birokrat/pemimpin kita agar mulai memajukan industri Semikonduktor kita. Memang tidak mudah, tapi harus dimulai dari sekarang. Semoga suatu saat nanti saya bisa pulang dan berkontribusi pada Industri Semikonduktor di Indonesia. Sehat2 selalu bapak….

Alexs sujoko sp
Setelah Kayu Kalimantan dikuras habis, Minyak Bumi dikuras …….juga mulai habis, kini Tambang Batu Bara dan lainnya sedang diekspose/ diproduksi dengan besar – besaran. Ini juga bahan yang tidak bisa diproduksi ulang,……….dan akan berakhir dengan habis bahan baku tersebut. Sementara dari sisi pembangunan cukup jauh kemajuannya, bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan di Jawa. Jalan – jalan antar propinsi masih sempit dan banyak rusak, apalagi yang di daerahnya. Jadi wajar saja kalau Pemerintah Pusat melarikan alternatif pembangunan ke Pulau Terbesar di Indonesia ini. Kami mengharap begitu untuk pemerataan pembangunan.

donwori
baru kali ini ada pemerintahan yg punya menteri sakti mandraguna seperti Opung. – pensiunan *3 AD – tinggi, besar, enerjik – bicara lugas khas batak, tapi tetap santun khas orang jawa – bukan dari agama mayoritas, tapi juga bukan dari suku minoritas menjadikan beliau kebal hinaan dan cacian. susah dicari kelemahannya Opung. sayangnya beliau mentok hanya bisa jadi menteri. tidak akan pernah bisa nyapres.

Disway 17087206
dulu kalau ada berita2 di media tentang LBP saya selalu memandang beliau dg 1/4 mata saja.tapi sekarang saya memandang beliau dg 100% full mata terbuka sambil dalam hati berguman LBP termasuk manusia langka dg banyak ke ahlian dalam memimpin pantesen Pak Jokowi selalu memberinya tugas2 penting dan LBP layak memperoleh julukan mentri serba bisa dan yg paling hebat adalah sifatnya yg selalu rendah hati, ketika dipuji tentang penanganan corona di indonesia yg banyak mendapat pujian di banyak negara LBP dg rendah hati berkata itu bukan kerjaan saya seorang tapi kerja kami sebagai tim, semoga kerendahan hatinya bukan karena ingin sombong. cia yaooooo LBP.

Sin
kata “akan” cukup banyak muncul di edisi disway hari ini, sebuah mimpi besar dengan pekerjaan-pekerjaan besar yang harus diselesaikan, jelas membutuhkan modal besar dan juga pengorbanan besar. semoga tidak mengecewakan dan tidak hanya harapan palsu. memang Visioner ama Tukang Ngimpi itu beda tipis, sama-sama punya impian..beda nya cuman yang satu masih tidur pules..

Mbah Mars
Pak DI dan Pak LBP adalah contoh yang baik bagi orang-orang muda. Pertama, meski sudah 70 tahun lebih kelihatan masih sehat dan enerjik. Mereka sangat bagus dalam menjaga kesehatan fisik. Kedua, masih semangat dan dinamis bekerja. Mereka berdua, di usia yang sesungguhnya sudah waktunya pensiun, malah disampiri beban kerja yang berat. Komen seperti ini mestinya disepakati oleh kaum Bani Kadrun dan Bani Cebong. Gitu saja.

ThamrinDahlan Ibnuaffan
Sepakat. Beliau berdua ULAMA (Usia Lanjut Masih Aktif)

Udin Salemo
Saham Adaro Mineral terus membubung tinggi. Mungkin salah satunya karena issue green industrial park ini. Sayang sekali saya belum ada RDN. Mau daftar ke NI dan CC nanti mereka kaget lihat uang saya di rekening bni dan mandiri. Uang segini mau trading  saham? hahaha…Saldo saya cukup untuk mendaftar ke XC. Tapi saya takut ntar nasib saya benar-benar ajaib, hehehe….

Komentator Spesialis
Sudah saatnya Indonesia membangun industri semikonduktor. Demand produknya secara global meningkat terus. Sekarang kita punya uang. Sudah saatnya masuk secara massive ke industri ini. Entah dengan menggandeng siapa boleh. At any cost, at any way with disway.

Suwarti Wati
Kawasan industri besar padat modal untuk masa depan Bangsa . Ijin berbagi cerita Abah. Sebagai perempuan dengan segala keterbatasannya berkesempatan kerja jauh adalah pengalaman berharga. Kerja di perusahaan elektronik dengan modal ijazah SMEA adalah hal ajaib bagi saya bisa berkenalan dengan komponen Semikonduktor. Waktu itu setiap memulai produksi harus mengecek setiap komponen produksi. Yang miris setiap membaca rel dan bungkus yang tertulis Made in ……  Luar negeri seperti yang Abah sampaikan di artikel sebelumnya. Sampai komponen yang microchip seukuran pecahan beras tapi bisa dibaca code sebagai pembeda untuk setiap ukuran ohm nya. Dalam hati saya mungkin kah akan ada benda seperti ini yang tertulis Made in Indonesia ?. Setelah membaca uraian Pak Dahlan Iskan saya sadar betapa benda sekecil itu memerlukan proses produksi yang sangat rumit. Kebetulan departemen saya waktu itu kata supervisor namanya Surface Mountain Technology . Mengoperasikan mesin robot untuk proses awal produksi modem komputer. Jadi harus teliti setiap komponen tidak boleh keliru secara posisi meterial maupun secara rinci komponen yang terpasang di PCB . Semoga mimpi aneh ku yang ternyata sangat berpengaruh besar pada perekonomian bisa terwujud Aamiin aamiin ya rabbal alamin. Ohya Abah,  waktu itu saya sudah bangga dengan teknisi kita yang lulusan D3  ITS Surabaya dan Bandung sudah tidak kalah cerdas dengan yang dari Philipina yang di datangkan investor Aztec sebagai pemilik PT Galaxy tempat saya bekerja Majulah terus Insinyur Indonesia kalian bisa.  Semangat Indonesia. Wassalam.

(Visited 12 times, 1 visits today)

Komentar