Berkunjung ke Waduk Bili-bili, Waduk Terbesar di Sulawesi

×

Berkunjung ke Waduk Bili-bili, Waduk Terbesar di Sulawesi

Sebarkan artikel ini
MULTY FUNGSI - Waduk Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan memiliki beragam fungsi, selain pengendali banjir, sumber listrik dan air baku, juga bermanfaat untuk pariwisata. (foto : jitro paputungan / gorontalo post)

Pada instalasi penjernihan air bersih Somba Opu, mampu menyupai air bersih dengan . 3.300 liter per detik dan disuplay di wilayah Makassar.

“Saat ini, waduk Bili-bili juga menjadi salah satu destinasi wisata di Makassar, sekeliling waduk kita buat green belt, dan terdapat aboretum yang dikembangkan durian dan rambutan, ada tempat wisata disini,”kata Rini Harun, mewakili kepala Balai Sungai Jeneberang yang mengelola waduk bilibili.

Rini yang orang Gorontalo itu menjelaskan, dengan hadirnya waduk, banjir sudah dapat dikendalikan, sehingga tidak pernah lagi ada banjir besar di Makassar.

Di sekitar waduk berdiri sejumlah kios bahkan tempat makan yang memanjakan wisatawan datang berkunjung, jelas hal itu menambah perekonomian warga sekitar.

“Sudah sejak tahun 2001 saya jualan disini, ya Alhamdulillah, setiap hari ramai saja yang datang,”kata salah satu pengelola rumah makan di lesehan Bili-bili.

Multifungsi waduk bilibili serupa dengan yang akan dibangun di Gorontalo. Seperti diketahui, pemerintah pusat menetapkan dua proyek strategis di sulawesi dan keduanya hanya ada di Gorontalo.

Yakni, pembangunan waduk bone hulu dan waduk toheti di sungai Bulango. Pembangunan waduk bone hulu sebenarnya telah dirintis masa pemerintahan Presiden BJ Habibie tahun 1998.

Hanya saja mega proyek ini tidak kunjung selesai.

“Begitu saya Gubernur, saya push lagi, dan Alhamdulillah masuk dalam proyek strategis pemerintah pusat. Anggaranya sudah ada, tinggal pembangunanya,”kata Gubernur Rusli Habibie.

Waduk Bone hulu fungsinya akan sama seperti waduk bilibili, yakni untuk irigasi, air baku, listrik, pariwisata dan pengendalian banjir.

“Saya yakin waduk Bone hulu akan lebih indah, lebih bagus karena di hulu sungai itu hutan lebat yang masuk kawasan taman nasional. Jadi sedimentasi atau longsor karena kerusakan hutan itu bisa terhindar,”terangnya.

Untuk mendukung proses pembangunan waduk bone hulu, pemerintah dan masyarakat kawasan terdampak melakukan studi komparasi di dua waduk besar di Indonesia, yakni waduk Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulse dan waduk Cirata di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

“Tidak ada alasan lagi menolak pembangunan waduk. Karena kita melihat dampaknya ternyata lebih besar untuk masyarakat,”kata Usman Hulopi, perwakilan masyarakat Suwawa Timur.

Apalagi, rencana pembangunan waduk lebih condong ke alternatif yang tidak ada kawasan pemukiman penduduk, yakni di area pegunungan hungayono, Suwawa Timur. (*)