BPS: Produksi Padi Kabupaten Boalemo Meningkat

×

BPS: Produksi Padi Kabupaten Boalemo Meningkat

Sebarkan artikel ini
Kepala BPS Boalemo, Andi Idiel Fitri (Foto: Abdul Majid Rahman/HARGO)
Kepala BPS Boalemo, Andi Idiel Fitri (Foto: Abdul Majid Rahman/HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Jumlah produksi padi di Kabupaten Boalemo berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Boalemo tahun 2022, mengalami peningkatan dibanding 2021.

BPS merilis total produksi komoditas padi 2022 sebanyak 29.664 ton. Sedangkan sebelumnya 2021 berada di angka 29.283 ton. Artinya, mengalami peningkatan jumlah produksi sebesar 381 ton.

“Angka tersebut didapat berdasarkan Survei Tanaman Pangan Terintegrasi dengan Kerangka Sampel Area (KSA-padi) yang bertujuan untuk menghitung luas panen padi, dan survei pertanian ubinan tanaman pangan, yang bertujuan menghitung angka produktivitas,” kata Kepala BPS Boalemo, Andi Idiel Fitri, di Ruang kerjanya pada Selasa, (04/4/2023).

Untuk tanaman jagung, angka produktivitasnya tahun 2022 menunjukan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Namun, angka produksi jagung belum dapat disimpulkan. Sebab angka produksi itu dihasilkan dari perkalian angka produktivitas dan luas panen. Sementara untuk tanaman jagung perhitungan luas panen masih dihitung oleh Dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pertanian Boalemo.

“Kami baru sebatas menghitung produktivitasnya yang kami dapat dari hasil survei ubinan tanaman pangan tadi.
Berbeda dengan komoditas padi, untuk menghitung luas panennya BPS sudah menggunakan survei tanaman pangan terintegrasi dengan metode kerangka sampel area atau KSA-padi,” terangnya.

Kata Andi, KSA adalah metode baru yang bertujuan memperbaiki metode pengumpulan data sebelumnya menjadi lebih objektif dan modern dengan melibatkan peranan teknologi di dalamnya. Sehingga data yang diperoleh menjadi lebih akurat, dan tepat waktu.

Menurut dia, sebenarnya baik padi, jagung, dan tanaman pangan lainnya, sama-sama berpotensi sangat besar untuk meningkatkan perekonomian Daerah dan masyarakat di Kabupaten Boalemo.

Hal-hal yg perlu didorong, yakni mana kala petani tak hanya fokus pada hasil bakunya semata. Melainkan bagaimana pula berpikir untuk mengembangkan tingkat nilai ekonominya. Misalnya, dibuatkan olahan pangan berbasis contoh jagung, kelapa, dan lainnya, hingga pada strategi pemasarannya.

“Jika itu dilakukan, tentu di satu sisi kita telah membuka lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran. Kemiskinan kita bisa kikis, apabila potensi yang kita miliki ini ditingkatkan nilai ekonominya. Begitu pun terkait varian daya beli, konsumsi masyarakat dan pemasaran kita dorong,” ujar Andi Idiel Fitri.

“Kalau toh kita menjualnya dalam bentuk mentah, misalnya kita bawa ke daerah lain untuk diekspor, kenapa bukan kita saja yang langsung mengekspor ke luar. Tinggal kita cari investor mana yang mau kerja sama dengan Boalemo,” ujar Kepala BPS Boalemo ini dalam pandangannya.

Lanjutnya, saat ini berdasarkan data SP-Lahan tahun 2022, Kecamatan Wonosari lah yang mendominasi penggunaan lahan pertanian. Sawah sebanyak 2.935 hektar, sedangkan pertanian bukan sawah 59.975 hektar.

“Kecamatan Wonosari yang memang banyak penggunaan lahan. Termasuk untuk sawah. Sisanya Kecamatan lain, kecuali Tilamuta dan Paguyaman Pantai yang tidak punya lahan sawah,” ia menandaskan.(*)

Penulis: Abdul Majid Rahman