Hargo.co.id GORONTALO – Mungkin bagi sebagian masyarakat Gorontalo, arang tempurung kelapa dan cangkang kemiri tak memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun, sebagaimana hasil kreatifitas kelompok mahasiswa kewirausahaan UNG, justru, hasil limbah pertanian tersebut disulap menjadi bahan bakar alternatif yang bisa dijadikan sumber penghasilan atau pendapatan.
Para pengusaha ataupun industri bisa mengadopsi hasil racikan para mahasiswa kreatif ini. Hanya dengan modal tak begitu besar, keuntungan diperoleh dari bisnis briket tersebut sangat memuaskan.
Adapun perhitungannya, yaitu misalnya untuk memproduksi 3 kg briket. Membutuhkan 1 kg arang tempurung, 1 kg cangkang kemiri dan 200 gram tepung tapioka (perekat). Total modal yang dibutuhkan untuk membeli bahan bahan tersebut sekitar Rp 10 ribu.
Setiap kg briket dijual dengan harga Rp 8.500 dan untuk 3 kg dihargai Rp 25.500. Pendapatan Rp 25.500 tersebut dipotong modal, maka keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan 3 kg briket sebesar Rp 15.500, melebihi modal yang dikeluarkan. Jika dibahagi lagi per kg, maka keuntungan diperoleh per kg briket sebesar Rp 5 ribuan.
Apabila diproduksi oleh industri, keuntungan dari bisnis ini tentu akan lebih besar lagi. Misalnya, dengan produksi sebanyak 30 ton per minggu, maka keuntungan diperoleh perusahaan atau industri mencapai Rp 155 juta dalam sepekan.
“Untuk saat ini, kami hanya memproduksi sedikit saja. Karena kami hanya fokus untuk menyiapkan formulanya yang paling bagus dari briket ini. Dan akhirnya saat ini kami telah mendapatkan formula yang pas. Briket ini, panasnya lebih tahan lama, tidak berasap dan beraroma kemiri,” ungkap Ketua kelompok program kreativitas mahasiswa kewirausahaan UNG, Yusniawati Kai.
Sementara itu, pembimbing kelompok program kreativitas mahasiswa kewirausahaan UNG, Wawan Tolinggi mengatakan, untuk saat ini, produksi briket berbahan arang tempurung dan cangkang kemiri oleh mahasiswanya itu masih seadanya.
“Kalau untuk skala kelompok mahasiswa pasti peralatan dan bahan bakunya masih terbatas. Kedepan apabila ada perusahaan mau mengadopsi riset mahasiswa ini, produksinya bisa lebih banyak, cetakan dan kemasannya akan lebih bagus,” katanya.
Saat ini, Wawan mengaku, sudah ada salah satu perusahaan yang dijajaki untuk bekerjasama dalam pengembangan briket tersebut, termasuk bahan baku dan pemasarannya. “Perusahaan itu adalah PT Putri Sinar Buana yang memproduksi briket dan arang karbon aktif. Namun tidak menutup kemungkinan, perusahaan atau industri lainnya bisa menjajaki kerjasama dalam pengembangan briket ini,” ujar Wawan Tolinggi.(dan/hargo)
