Ekonomi

Dari Cianjur ke Suwawa: Perjuangan Narna Menyambung Hidup Lewat Dagangan Siomay

×

Dari Cianjur ke Suwawa: Perjuangan Narna Menyambung Hidup Lewat Dagangan Siomay

Share this article
Dari Cianjur ke Suwawa_ Perjuangan Narna Menyambung Hidup Lewat Dagangan Siomay
Narna Suryaya, pedagang somay asal Cianjur, setia berjualan di wilayah Suwawa selama hampir 10 tahun demi mencari nafkah di tanah rantau.

Hargo.co.id, GORONTALO – Di tengah ramainya aktivitas masyarakat di wilayah Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, seorang pria paruh baya tampak setia berdiri di balik gerobak siomay miliknya.

Berita Terkait:  Optimalkan Peran Korwil Satgas Bencana BUMN Peduli DIY, Jasa Marga Perkuat Koordinasi Penanggulangan Bencana dengan BPBD DIY

Namanya Narna Suryaya (50), perantau asal Cianjur yang telah hampir satu dekade menggantungkan hidup dari berjualan siomay di Gorontalo.

Sejak merantau pada tahun 2016, Narna memilih meninggalkan kampung halamannya demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Berita Terkait:  Di Tengah Dinamika Pasar, Perlindungan Finansial Jadi Semakin Relevan

Bersama harapan besar, ia datang ke Gorontalo mengikuti seorang pemilik usaha siomay yang mempekerjakan sekitar 15 orang pedagang dan menempatkan mereka di sejumlah wilayah berbeda.

Narna pun mendapat bagian berjualan di kawasan Suwawa.

Berita Terkait:  BRI-MI Nilai Volatilitas Pasar Sebagai Momentum Penguatan Fundamental dan Strategi Investasi

“Awalnya saya ikut bos ke sini karena memang butuh pekerjaan. Waktu itu belum tahu kondisi di Gorontalo seperti apa, tapi saya coba saja. Setelah sampai di sini, langsung belajar jualan dan sampai sekarang masih bertahan,” ujar Narna saat ditemui di sela aktivitasnya, Kamis (23/4/2026).

Hampir sepuluh tahun menjalani profesi sebagai pedagang siomay keliling, Narna kini sudah terbiasa dengan lingkungan dan para pelanggannya.

Berita Terkait:  Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Jasa Marga Tebar Dividen Rp1,1 Triliun

Setiap hari, ia membawa sekitar 700 porsi somay untuk dijual. Meski jumlah tersebut tidak selalu habis, ia tetap menjalani rutinitasnya dengan penuh ketekunan.

“Kadang ramai, kadang juga sepi, tidak bisa dipastikan. Kalau lagi ramai bisa cepat habis, tapi kalau sepi ya harus sabar. Yang penting tetap jualan setiap hari, karena ini sudah jadi sumber penghasilan utama,” tuturnya.

Berita Terkait:  Kuliah di Luar Negeri Tanpa Shock? Ini Tipsnya

Dari hasil jualannya, Narna memperoleh upah sebesar 30 persen dari total penjualan.

Meski pendapatan yang diterima tidak selalu besar, ia tetap bertahan karena pekerjaan itu menjadi penopang utama kebutuhan hidupnya selama berada di tanah rantau.

Berita Terkait:  2025 Jadi Tahun Emas Polda NTT: Keamanan Kondusif, Penegakan Hukum Profesional dan Optimal

Di balik gerobak sederhana yang ia dorong setiap hari, tersimpan perjuangan panjang seorang perantau yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Kisah Narna menjadi gambaran nyata tentang kerasnya perjuangan pekerja sektor informal, yang mengandalkan kerja keras dan kesabaran demi menyambung hidup jauh dari kampung halaman.

Berita Terkait:  KAI Salurkan Bantuan CSR untuk Korban Bencana di Sumatera, Komitmen Hadir Cepat untuk Pemulihan Warga

Dengan tekad dan konsistensi, Narna terus melangkah, menjajakan siomay dari hari ke hari, menjaga harapan agar tetap hidup di perantauan. (mg-06)