Ekonomi

Dari Cianjur ke Suwawa: Perjuangan Narna Menyambung Hidup Lewat Dagangan Siomay

×

Dari Cianjur ke Suwawa: Perjuangan Narna Menyambung Hidup Lewat Dagangan Siomay

Share this article
Dari Cianjur ke Suwawa_ Perjuangan Narna Menyambung Hidup Lewat Dagangan Siomay
Narna Suryaya, pedagang somay asal Cianjur, setia berjualan di wilayah Suwawa selama hampir 10 tahun demi mencari nafkah di tanah rantau.

Hargo.co.id, GORONTALO – Di tengah ramainya aktivitas masyarakat di wilayah Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, seorang pria paruh baya tampak setia berdiri di balik gerobak siomay miliknya.

Berita Terkait:  Routing Chat Otomatis Barantum Permudah Distribusi Chat Customer

Namanya Narna Suryaya (50), perantau asal Cianjur yang telah hampir satu dekade menggantungkan hidup dari berjualan siomay di Gorontalo.

Sejak merantau pada tahun 2016, Narna memilih meninggalkan kampung halamannya demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Berita Terkait:  Hari Ke-13 Posko Nataru, KAI Divre III Palembang Angkut 48.176 Penumpang, Tiket KA Sindang Marga Masih Tersedia Hingga 4 Januari

Bersama harapan besar, ia datang ke Gorontalo mengikuti seorang pemilik usaha siomay yang mempekerjakan sekitar 15 orang pedagang dan menempatkan mereka di sejumlah wilayah berbeda.

Narna pun mendapat bagian berjualan di kawasan Suwawa.

Berita Terkait:  Rayakan Idul Adha 1447 H dengan Kemudahan Berkurban di Aplikasi Raya

“Awalnya saya ikut bos ke sini karena memang butuh pekerjaan. Waktu itu belum tahu kondisi di Gorontalo seperti apa, tapi saya coba saja. Setelah sampai di sini, langsung belajar jualan dan sampai sekarang masih bertahan,” ujar Narna saat ditemui di sela aktivitasnya, Kamis (23/4/2026).

Hampir sepuluh tahun menjalani profesi sebagai pedagang siomay keliling, Narna kini sudah terbiasa dengan lingkungan dan para pelanggannya.

Berita Terkait:  UGM Perkuat Kolaborasi dengan Positive Technologies melalui Kunjungan ke Moskow dan KazanForum

Setiap hari, ia membawa sekitar 700 porsi somay untuk dijual. Meski jumlah tersebut tidak selalu habis, ia tetap menjalani rutinitasnya dengan penuh ketekunan.

“Kadang ramai, kadang juga sepi, tidak bisa dipastikan. Kalau lagi ramai bisa cepat habis, tapi kalau sepi ya harus sabar. Yang penting tetap jualan setiap hari, karena ini sudah jadi sumber penghasilan utama,” tuturnya.

Berita Terkait:  Pusat Industri RI Bergeser, Subang Jadi Arah Baru Pertumbuhan

Dari hasil jualannya, Narna memperoleh upah sebesar 30 persen dari total penjualan.

Meski pendapatan yang diterima tidak selalu besar, ia tetap bertahan karena pekerjaan itu menjadi penopang utama kebutuhan hidupnya selama berada di tanah rantau.

Berita Terkait:  Perkuat Inovasi dan Layanan Nasabah Berkualitas, Bank Raya Raih Penghargaan The Best Bank in Customer Experience 2026 dan Digital Innovation Award 2026

Di balik gerobak sederhana yang ia dorong setiap hari, tersimpan perjuangan panjang seorang perantau yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Kisah Narna menjadi gambaran nyata tentang kerasnya perjuangan pekerja sektor informal, yang mengandalkan kerja keras dan kesabaran demi menyambung hidup jauh dari kampung halaman.

Berita Terkait:  YBM BRI Region 6 Gelar Syukuran HUT ke-25 Secara Sederhana dan Penuh Kebersamaan

Dengan tekad dan konsistensi, Narna terus melangkah, menjajakan siomay dari hari ke hari, menjaga harapan agar tetap hidup di perantauan. (mg-06)