GORONTALO-hargo.co.id – Meski harga cabe rawit di sejumlah pasar tradisional sudah turun hingga Rp 65 Ribu per kg, namun tidak berlaku di pasar rakyat Limboto.
Kemarin, Rabu, (29/3), harga rica masih Rp 80 Ribu per kg. Bahkan, pada hari pasar sebelumnya, Selasa (28/3), harganya rata-rata masih Rp 100 Ribu per kg.
Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, cabe rawit atau rica di sejumlah wilayah di Kabupaten Gorontalo sudah berproduksi.
Namun demikian, harganya masih naik turun dengan harga yang masih masih tinggi Padahal, kondisi harga rica di pasar tradisional lain, seperti Pasar Sentral Kota Gorontalo, harganya sudah turun, terendah Rp 65 Ribu per Kg.
Kasim Badu, salah seorang pedagang barito (bawang, rica, tomat) mengakui bahwa ada indikasi pengumpul sengaja menahan distribusi rica ke pedagang karena takut rugi akibat selisih harga yang tipis dari petani.
“Bisa jadi memang sengaja ditahan atau didistribusi di tempat lain. Sekarang saja belum ada penjualan rica di luar daerah karena di sana juga harganya sudah turun,” ungkap Kasim.
Sementara itu, salah seorang ibu rumah tangga, Erna Podungge, saat berbincang dengan wartawan mengatakan bahwa dirinya khawatir jika harga rica dan beras tidak kunjung turun maka akan mengalami kenaikan yang jauh lebih tinggi saat bulan Ramadan nanti.
“Pasti setiap bulan puasa, harga-harga naik Nah, kalau rica sekarang belum turun, bagaimana bulan puasa nanti.
Bisa-bisa tembus Rp 100 Ribu lagi,” ungkap Erna Dikonfirmasi terpisah, staf bidang Perdagangan, Dinas Perindag Kabgor.
Jilpan Liputo, mengakui bahwa stok cabe rawit di kalangan pedagang sudah memadai meski harganya masih tinggi, “Sebenarnya kita tidak usah panik karena stoknya memang sudah aman.
Informasinya, sudah ada panen besar di wilayah Pulubala, Boliyohuto cs, tapi mungkin masih kendala distribusinya. Yang jelas, kami pantau terus pasaran, apalagi menjelang bulan Ramadan,” pungkasnya.(axl/hg)
