Saturday, 18 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dirikan Shalat Akan Selamat

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Friday, 19 January 2018 | 10:47 AM Tags: , ,
  

MENDIRIKAN  shalat sebagai salah satu wujud dari melaksanakan perintah Allah untuk beribadah kepada-Nya. (Az-Zaariyaat; 56). Berarti takwa/taat melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dengan tulus ikhlas. Bila dipahami dan direnungkan sebenarnya kewajiban mendirikan shalat adalah untuk kemaslahatan sendiri dari yang mendirikannya. Bukan untuk kepentingan Allah.

Sebab manusia tidak mendirikan shalatpun tidak ada pengaruhnya apa-apa kepada Allah. Sebab Allah tanpa disembah pun tetap sudah Maha Mulia dan Maha Kuasa. Dikatakan untuk kemaslahatan, kepentingan manusia yang mendirikan shalat karena dengan mendirikan shalat yang mendirikannya akan tercegah dari perbuatan keji dan mungkar (Al Ankabut; 45).

Antara lain tercegah dari berbuat onar, kriminal, mengkonsumsi narkoba. Asalkan yang mendirikannya bukan hanya sekedar sudah shalat, sekedar menggugurkan kewajiban. Karenanya Allah ingatkan; “Celakahlah yang shalat, (yaitu) yang lalai dalam shalatnya.” (Al-Maa’uun; 4 – 5). Dia shalat tetapi pikiran, hati dan gerakan shalatnya lalai (sahun) dari mengingat Allah. Pikiran dan hati serta pandangannya di tempat lain, tidak tertuju pada Allah yang sedang berhadapan menyaksikan apa dilakukannya waktu shalat.

“Allah melihat engkau ketika berdiri shalat. Melihat perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Asy-Syu’araa’; 2l8-220). Karena lalai permohonannya waktu shalat agar “ditunjuki ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan sesat” (Al-Faatihah; 6-7) tidak dikabulkan Allah. Sama dengan menghadap pejabat bermohon sesuatu tetapi hati, pikiran dan mukanya berpaling di tempat lain. Shalat demikian tidak dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Karena itu setelah shalat kalau dia berbicara selalu dusta atau main judi, minum minuman keras atau korupsi.

Mendirikan shalat artinya bersenyawanya atau menyatunya hati, pikiran dan gerakan tubuh waktu shalat seperti yang dicontohkan Rasulullah. Dia yakin Allah menyaksikan apakah dia tulus ikhlas mendirikan shalat. Hati, pikiran dan gerakan shalatnya hanya tertuju pada Allah.

Begitu takbiratul ihram, diharamkan hati, pikiran dan gerakannya keluar dari yang di luar dari pelaksanaan shalat. Sehingga dalam Hadits diriwayatkan Ali ra. dikatakan; “Kunci shalat adalah bersuci. Mengharamkannya adalah takbir dan yang menghalalkannya adalah salam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Begitu takbir hati dan pikiran hanya ingat Allah, tidak ke mana-mana, tidak melakukan gerakan bukan gerakan shalat.

Dengan demikian shalat jadi khusyu’ dan ada thuma’ninahnya. Khusyu’ artinya hati dan pikiran hanya mengingat Allah saja. Thuma’ninah artinya gerakan dalam shalat tidak ngebut. Antara satu gerakan dengan gerakan berikutnya ada jeda waktunya.Hanya shalat yang khusyu’ dan ada thuma’ninahnya diterima Allah sehingga dapat mencegah dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sebab itu kalau melakukan amalan-amalan lain tidak terkontaminasi dengan perbuatan keji dan mungkar. Nantinya di hari kemudian semua amal yang dilakukan akan terterima dihadirat Allah. Dapat imbalan pahala sesuai rida-Nya.

Rasulullah saw. bersabda; Amal seseorang yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik (sempurna) maka akan baik pula seluruh amalnya. Maka akan diterimalah shalat beserta seluruh amalnya. Tetapi jika shalatnya buruk, tidak sempurna, maka akan buruk pula seluruh amalnya. Maka akan dikembalikan kepadanya shalatnya beserta semua amalnya.”

Maksudnya Allah tidak terima shalat dan semua amalnya, tidak dapat imbalan pahala. Sebab itu bila mendirikan shalat disamping dalam keadaan suci lahir batin, tempatnya bersih, tepat waktunya, ikhlas karena Allah, dipahami apa yang diucapkan atau diucapkan imam, juga harus khusyu’ dan ada thuma’ninahnya. Semuanya hanya bisa dikuasai dengan baik dan benar pelaksanaannya bila diawali dengan peduli pada ayat pertama kali Allah perintahkan waktu turunnya Al Qur’an. Yaitu perintah “iqra,” membaca atau belajar baik dari Al Qur’an, dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw. atau oleh para ulama agama Islam.

Tidak bisa hanya bermodalkan apa yang dilihat dikerjakan orang tua, nenek moyang atau dilakukan imam kampung. Apa lagi hanya bermodalkan pendapat dan pikiran sendiri. Nantinya tidak akan selamat. Karena di hari kemudian setelah dihisab pelaksanaannya tidak sempurna. Sendirinya seluruh amal ibadahnya juga jadi tidak baik. Karena terkontaminasi dengan perbuatan keji dan munkar akibat dari shalatnya lalai. Karenanya orangnya ditegaskan akan celaka.

Hampir dapat dapat dipastikan kehidupannya di dunia juga tidak akan jadi baik. Antara lain rejekinya tidak ada berkahnya. Meskipun kelihatan rejekinya melimpah tetapi dengan rejekinya itu justru dia akan mengalami berbagai cobaan yang akan mempersulit hidupnya. Hidup dan kehidupannya baik pribadi maupun keluarganya tidak tenteram.

Sebab hanya dengan mengingat Allah, antara lain dengan mendirikan shalat hati jadi tenteram. Karena tidak terganggu dengan kemelutnya akibat perbuatan keji dan munkar.
Semoga ulasan singkat ini ada maknanya meskipun mungkin tidak seberapa. Sesuai pesan Rasulullah saw. “Sampaikan dari padaku meskipun hanya satu ayat.” Bahkan sampai saat menghembuskan nafas terakhir Rasulullah saw. masih mengingatkan masalah shalat.

Menunjukkan betapa besarnya nilai shalat dalam kehidupan manusia. Sebab shalat dapat menyelamatkan bagi yang mendirikannya. “Shalatlah jadi pembatas antara yang kafir dengan yang beriman.”

Akhirnya perlu diingat dan direnungkan dengan menggunakan akal, pikiran dan hati nurani Allah anugrahkan; Sedangkan yang sudah shalat bisa celaka karena lalai mendirikannya, apa lagi yang tidak peduli dengan shalat.Tentu akan lebih celaka dan lebih celaka lagi yang tidak pernah shalat sama sekali. Mohon maaf atas semua kekeliruan. Hanya kepada Allah jua ampunannya diharapkan. Wassalam.

*Penulis adalah mantan guru.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar