Tak ada pengaman seperti helem, masker oksigen dan peralatan pengaman tambang lainnya. Ada beberapa warga yang tewas akibat tertimpa batu saat melakukan penggalian.
Namun hal itu tak menyurutkan niat warga berburu batu akik. Bahkan bukan hanya kaum lelaki, para ibu rumah tangga dan anak-anak ikut melangkahkan kaki ke lokasi penggalian batu akik.
Festival batu akik turut digelar Pemkot Gorontalo seiring demam batu akik yang melanda warga daerah ini.
Namun waktu seakan cepat berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Perlahan demam batu akik menurun. Warga yang sebelumnya bangun tidur langsung mengerumpi soal batu akik, satu per satu kembali ke rutinitas awal.
Tak ada lagi perbincangan dan diskusi panjang soal batu akik. Kalaupun ada maka itupun hanya memang mereka yang benar-benar pecinta batu akik.
Tawaran harga yang sempat menggetarkan hati dan kantong, juga tak senyaring lagi. Batu yang dulunya sempat diklaim berharga jutaan rupiah, kini hanya berkisar ratusan ribu rupiah. Bahkan ada pula yang tak lagi bernilai dan hanya menumpuk di depan rumah.
