Senin, 18 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dunia dalam Ketidakpastian Pandemi Covid-19

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Minggu, 12 April 2020 | 15:05 PM Tag:
  Muhammad Sudirman Akilie

Oleh: Muhammad Sudirman Akilie

MASYARAKAT dunia menghadapi Pandemi Corona Virus Disease (Covid’19) yang kasusnya bermula terjadi dari Kota Wuhan, Cina di bulan Desember 2019 kemudian menyebar dengan cepat hingga awal tahun 2020 di 210 Negara.

Worldmeters mencatat kasus Covid-19 di dunia per 12 April 2020, 11.00 wita bahwa pasien positif 1.780.314 orang, pasien meninggal 108.827 orang dan pasien sembuh 404.031 orang. Total kasus dan total kematian cenderung mengalami peningkatan yang tajam sejak 22 Januari-12 April 2020.

Episentrum covid-19 berawal dari Cina hingga saat ini menyebar dan menjadikan Amerika sebagai negara dengan total kasus tertinggi di dunia dengan jumlah kasus 532.879 orang. Jumlah kematian 20.577 orang dan jumlah yang sembuh 30.453 orang. Peningkatan kasus di sana akibat kurangnya kesadaran bersama antara pemerintah dan masyarakat menerapkan jarak sosial dan fisik secara disiplin.

Gejala penyakit yang ditimbulkan dari virus ini berupa demam tinggi 39°C, batuk kering dan sesak napas serta berpotensi menginfeksi manusia yang memiliki penyakit beresiko tinggi seperti diabetes, hipertensi, pneumonia karena dapat menyebabkan kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan kepada masyarakat dunia untuk mencegah penularan yang begitu massif dengan mematuhi jarak sosial dan fisik yaitu tidak bersentuhan dan berjabat tangan. Tidak berkerumun dan berkumpul lebih dari 5 orang di tempat umum, menggunakan masker, menjaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan, rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

Jika tidak penting dan mendesak keluar rumah disarankan untuk tetap bekerja dan belajar secara daring serta beribadah di rumah selama pandemi ini. Selain itu beberapa negara di dunia juga menerapkan kebijakan menekan penyebaran virus dengan deteksi dini dengan melakukan rapid test (sampel darah) dan swab test (sampel lendir di tenggorokan) kepada mereka yang diduga memiliki gejala covid-19 serta pemberlakuan lockdown (penutupan akses keluar masuk kawasan selama kondisi darurat) selama 14-21 hari yang berimbas kepada sektor ekonomi.

Sementara pembatasan jarak sosial dan fisik terus dilakukan di beberapa kawasan lainya. Kondisi ini akan terus terjadi dalam rentan waktu yang tidak pasti. Jumlah kasus akan terus bertambah meski beberapa ahli memprediksi wabah akan berakhir di pertengahan tahun tetapi jika vaksin yang diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada manusia dari covid-19 belum diproduksi massal maka ketidakpastian yang dihadapi akan terus berlangsung dan berakibat pada guncangan ekonomi, mental, psikis masyarakat dunia. (*)

 

*) Penulis adalah Akademisi di Universitas Ichsan Gorontalo

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar