Kamis, 29 September 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ekonom Sebut Rencana Pemindahan Ibu Kota Terlalu Mahal

Oleh Aslan , dalam Ekonomi , pada Selasa, 21 November 2017 | 02:00 Tag: ,
  

Hargo.co.id – Rencana pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke Palangkaraya hingga saat ini tak menemui titik terang. Bahkan, wacana tersebut menguap begitu saja.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Tony Prasetiantono mengatakan, pemerintah perlu mengkaji kembali wacana tersebut. Sebab, pemerintah perlu memastikan berapa dana yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota tersebut. Apalagi, sampai saat ini studi kelayakan masih belum dilakukan.

“Berapa ongkos memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya? Enggak ada yang tahu karena belum bikin Feasibility Study,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (20/11).

Meski demikian, Komisaris Utama Bank Permata ini juga memperkirakan jika anggaran yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota sangatlah besar. Hal itu mengacu dari sejumlah proyek yang dilakukan oleh pengembang properti di Indonesia.

“Kalau saya buat benchmark, Meikarta yang dibuat Lippo itu ongkosnya, kata pak James Riady (CEO Lippo Group), sebesar Rp 278 triliun. Jadi kalau pindah ke Palangkaraya saya berani pastikan ongkosnya lebih mahal, mungkin bisa dua kali lipat. Katakanlah Rp 500 triliun,” jelas dia.

Dengan penghitungan sebesar itu, Tony menilai wacana pemindahan ibu kota kurang tepat. Tony berpendapat, uang sebesar itu akan lebih baik jika dialokasikan untuk hal yang produktif secara nasional.

“Tujuan pindah ibu kota ke Palangkaraya itu apa? Tujuannya kan pemerataan pembangunan. Mana yang kita pilih? Rp 500 triliun disuntik ke Palangkaraya atau disebar kemana-mana? Masing-masing (katakanlah) dapat Rp 20 triliun. Jadi menurut saya yang masuk akal adalah disebar ke semua titik,” tandasnya.

(cr4/JPC/hg)

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar