Hargo.co.id Gorontalo – Kebijakan Full Day School yang diwacanakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajirin Effendi, mendapat reaksi dari sejumlah kalangan, bahkan kebijakan ini tidak serta merta diterima oleh daerah.
Seperti halnya di Gorontalo. Kebijakan Mendikbud ini justru dinilai tidak tepat, pasalnya ada sejumlah alasan yang harus menjadi pertimbangna pihak kementrian sebelum resmi menerapkan kebijakan baru.
Salah satu yang utama adalah menyangkut infrastruktur dan fasilitas. Di Gorontalo sendiri masih terdapat sekolah yang menerapkan sistem sift, yakni pagi dan siang.
” Kalau alasannya karena ingin menambah jam belajar guru-guru, kasihan anak-anak” Ujar Rizal Yusuf, salah satu orang tua siswa kepada Gorontalo Post (group hargo).
Rizal menambahkan alasan yang paling mendasar adalah biaya makan dan minum bagi para siswa. Sebab menurutnya jika kebijakan ini diterapkan maka biaya makan dan minum akan membengkak.
“Anak-anak juga akan gerah jika berlama-lama disekolah”
Disisi lain, menanggapi hal ini Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Weni Liputo, mengatakan penerapan full school day itu masih harus dikaji terlebih dahulu dari berbagai aspek.
Seperti aspek sosial, budaya, geografi dan ekonomi masyarakat, khususnya di Gorontalo.
“Kalu orientasi program ini hanya ingin memberi waktu yang panjang bagi anak di sekolah, maka harus ada pertimbangan mutlak
terhadap aspek-aspek tersebut” Ujar Weni Liputo.
Menurut Weni eksistensi anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan peran edukasi keluarga dan lingkungannya.
“Kita harus hindari juga anak berada pada lingkungan yang menoton yang bisa membuat mereka stres dan jenuh.” Pungkasnya.(dan/and/gip/roy/hargo)
