dari negeri tirai bambu tersebut hanya akan memanfaatkan Manado sebagai jembatan mereka untuk berwisata ke Gorontalo, Ternate, Makassar dan kota-kota lainnya.
“Karena ini akan segera menyusul juga Citilink menerbangi Hongkong-Manado PP (pulang pergi), dan juga Sriwijaya Air Guangzhaou-Manado PP,” jelas Marten. Ditanya soal keuntungan apa yang akan diperoleh Gorontalo ? Marten menjelaskan bahwa sementara ini penerbangan dari Bandara Sam Ratulangi Manado hanya maskapai Lion Air.
“Yang direct dari Manado ke China (Tiongkok) hanya lion air, yang lain ada penerbangan internasional dari Manado dengan Silk air, tapi itu tujuannya ke Singapura,” urainya. Dengan begitu, lanjut Marten, Gorontalo diharapkan bisa mendapat limpahan sedikitnya 20 persen dari kunjungan wisatawan Tiongkok ini meski tentunya berbagai kesiapan di Gorontalo sendiri belum tersedia.
“Banyak, mulai dari guide berbahasa mandarin belum ada, bus pariwisata yang sesuai standar internasional belum ada, juga akses jalan ke lokasi-lokasi favorit seperti ke Olele belum memadai lewat bis berukuran besar. Dari 10 sampai 20 persen itu target yang realistis, meski tentunya yang kita harapkan lebih banyak, tapi dapat segitu saja sudah bagus dan perlu kerja keras,” jelasnya.
Jika sudah terlaksana, bukan tidak mungkin kedepan akan dibuka charter flight dari Tiongkok langsung menuju Gorontalo. Olehnya, pariwisata Gorontalo harus diperhatikan sekaligus melakukan berbagai pembenahan agar menjadi sektor unggulan. “Pariwisata maju, investor bertambah, hotel, resto dan lain-lain bertambah. Ada juga lapangan kerja bertambah, penduduk bertambah, perputaran uang bertambah. Efek berantainya itu. Apalagi mumpung Gorontalo ada fenomena whaleshark (hiu paus), membantu sekali promosi Gorontalo di mata dunia,” tegasnya.(axl/hargo)
