Friday, 24 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



GORR Dipastikan Tuntas 2019, Khusus Segmen I,II, Segmen III Tersendat Pembebasan Lahan

Oleh Aslan , dalam Gorontalo , pada Wednesday, 7 February 2018 | 10:21 AM Tags: , ,
  

GORONTALO, Hargo.co.id – Mega proyek Gorontalo Outer Ring Road (GORR) yang dibangun sejak 2014 dipastikan tuntas tahun 2019 mendatang. Tapi baru untuk segmen I dan segmen II atau jalur sepanjang 30 KM yang menghubungkan Kecamatan Tibawa dan Telaga, Kabupaten Gorontalo.

Seperti diketahui GORR dibangun dengan perencanaan hingga segmen III (wilayah Bone Bolango dan Kota Gorontalo) dengan panjang kurang lebih 45 KM. Optimisme itu disampaikan pejabat pembuat komitmen (PPK) GORR Balai Jalan Nasional Gorontalo, Resopim Lingga, kepada Gorontalo Post, Selasa (6/8) kemarin.

Menurutnya, dengan ketambahan anggaran lebih kurang Rp 200 Miliar tahun ini, pihaknya bisa menuntaskan GORR segmen I dan II sesuai target. “Tahun depan sudah tuntas semuanya, sudah bisa digunakan.

Jadi dari Bandara Djalaludin ke Kota sudah bisa lewat GORR,”kata Resopim, kemarin. Bahkan menurut Resopim, mulai tahun ini sebetulnya sudah bisa digunakan. Ajang lebaran ketupat 2018 nanti, masyarakat tidak lagi kemacetan seperti yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, karena sudah bisa menggunakan GORR.

“Dari Ombulo (kampung jawa), keluar sudah bisa langsung ke GORR, jadi bisa menghindari macet,”jelasnya. Resopim mengatakan, tahun ini GORR belum bisa difungsikan seutuhnya karena masih terdapat beberapa pekerjaan yang harus dituntaskan.

Misalnya pekerjaan dua jembatan besar di wilayah Haya-haya dan Pilohayanga, proses pembebasan lahan yang belum tuntas khususnya di Desa Datahu, adanya lahan yang masuk kawasan hutan produksi terbatas (HPT) di Isimu, serta jaringan listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT).

“Kendala GORR segmen I dan II tinggal itu saja. Kalau lahan warga itu menurut Pemda (Pemprov,red) ganti rugi sudah titip di pengadilan. HPT katanya sudah ada izin pakai. Kecuali SUTT itu sedikit sulit. Karena kalau harus digeser, Gorontalo akan mati lampu berbulan-bulan,”terangnya.

Langkah lain yang dilakukan Balai Jalan Nasional adalah konstruksi menghindari SUTT. “Dampaknya adalah penambahan pengadaan lahan,”terang Resopim. Lebih lanjut Resopim menambahkan, proses konstruksi GORR terbilang cepat, sebab Kementerian Pekerjaan Umum juga memberikan perhatian serius terhadap GORR.

“Jalan ini membuka akses masyarakat. Gorontalo diuntungkan dengan GORR. Sebab ada daerah yang ring roadnya belum jalan. Tapi Gorontalo sudah hampir selesai (segmen I,II). Ekonomi pasti tumbuh, dan investor akan senang ke Gorontalo,”kata Resopim.

Yang membanggakan kata Resopim, selain pembebasan lahan, GORR tidak mengganggu anggaran daerah sebab biaya konstruksi semuanya dikucur dari kementerian. Sejauh ini sudah hampir Rp 1 triliun anggaran yang digunakan untuk membangun GORR.

“Kita doakan semoga tidak ada kendala lagi, dan GORR bisa segera difungsikan,”tandasnya. Sementara itu, terkait segmen III, Resopim menyarankan agar Pemerintah Provinsi Gorontalo segera melakukan pengadaan tanah. Balai Jalan, lanjut Resopim sudah siap dengan anggaran konstruksi.

“Program kita saat ini adalah siap lahan dulu baru dibangun. Sebab dikhawatirkan anggaranya sudah ada, lahanya belum siap,”ujarnya. Ia menyarankan agar pengadaan lahan dicicil sehingga tidak terlalu membebani APBD.

“Kita ketahui bersama APBN kita sangat berat, berebut anggaran dimana-mana. Tol Jawa, Sumatera, Trans Papua itu juga butuh anggaran banyak,”terangnya. Jika segmen III sudah siap lahan, pihaknya tidak ada alasan untuk tidak membangun. “Misalnya 5 KM dulu. Berarti itu dulu yang kita bangun,”tandasnya.

Seperti diketahui, GORR untuk segmen III tidak saja terkendala pada mahalnya pengadaan lahan, namun juga mengalami perubahan trase. Jika sebelumnya GORR berakhir di Pelabuhan Laut Gorontalo, kini dirancang tembus ke Atinggola, Gorontalo Utara dan di Botutonuo, Bone Bolango. (tro/hg)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar