Rabu, 26 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hanoman MC

Oleh Tirta Gufrianto , dalam DI'SWAY , pada Minggu, 19 Desember 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  

Oleh : Dahlan Iskan

INI kata komentator Disway tiga hari lalu: hidup itu simple, yang ruwet itu keinginan. Komentator lain menuliskan hal senada dengan rumusan kalimat yang beraneka.

Saya langsung memilihnya sebagai salah satu komentar pilihan. Saya setuju dengan isinya. Saya pun sudah melihat contohnya: bulan lalu.

Hari itu, saya menghadiri satu resepsi perkawinan. Lokasinya masih di Surabaya tapi perlu waktu hampir 1,5 jam untuk mencapainya. Di pojok kampung  Sememi. Masih lebih jauh dari Perumnas lama Manukan: masuk ke gang-gang yang bercabang-cabang.

Resepsi perkawinan itu dilangsungkan di gang sempit di depan rumahnyi –tiga bulan lalu masih disebut rumahnya. Gang itu disulap dengan tenda dan kursi-kursi plastik. Saya hampir tidak mengenal lagi gang itu. Saya pernah sekali ke situ: ketika sang suami sakit keras. Ia baru berumur 50-an tahun. Pekerjaan seumur hidupnya loper koran.

Ia sudah terbaring lemas di ruang depan. Saya sudah lama tidak bertemu –sudah lama tidak lagi di koran itu.

https://www.instagram.com/p/COd0nmErYN2/?utm_source=ig_web_button_share_sheet

Begitu kritis kondisi bapak itu. Putri sulungnya –yang sudah dilamar perjaka idamannyi– cepat-cepat dinikahkan. Di sebelah pembaringan sang ayah. Hari itu juga ia pun meninggal dunia.

Sang istri juga pekerja keras: jadi penunggu kios di Pasar Atom. Pasangan itu punya tiga anak. Yang sulung itu saat dinikahkan hampir tamat D3 bidang kesehatan. Adiknyi kuliah di informatika.

Waktu sakit keras itu sang ayah lagi punya proyek: memperbaiki total rumahnya. Jadi rumah bata. Dengan lantai keramik. Dan plafonnya gipsum.

Baru bagian depan yang setengah selesai.

Beberapa waktu kemudian anak sulung itu kirim WA ke saya: ibunyi sakit keras –terkena Covid-19. Tidak bisa berobat di Puskesmas. Tidak ada tempat juga di rumah sakit. Covid lagi ganas-ganasnya. Nafasnyi sesak. Tersengal.

“Posisi ibu di mana?” tanya saya.

“Di kamar belakang,” jawabnyi.

Saya tahu kondisi kamar itu –kamar tidur sang ibu. Saya pun minta agar sang ibu dipindah ke kamar depan: ke ruang tamu –yang bisa diubah jadi tempat tidur. Biar ada udara yang masuk.

Sang anak nangis-nangis melihat keadaan sang ibu. Memburuk. Saya tidak bisa ke sana: Covid-19. Maka, lewat HP, saya lakukan apa yang harus dilakukan. Sehari saya kontrol tiga-empat kali: vitamin apa saja yang harus diminum, latihan apa yang harus dipaksakan dilakukan.

Membaik. Sembuh. Saya terkesan dengan keuletan hidup ibu itu: bagaimana harus mencukup-cukupkan hidup. Tanpa pernah mengeluh. Penghasilan kecil. Anak-anak harus tetap sekolah tinggi. Harus pula memperbaiki rumah.

Begitu sembuh, terpikir oleh sang ibu: perkawinan putrinyi belum pernah dirayakan. Saya datang lagi bulan lalu: untuk resepsi perkawinan itu. Pengantin wanitanya sudah hamil muda.

Begitu rukun semua warga di gang itu. Depan-depan rumah mereka jadi tempat duduk tamu. Pasti tidak perlu sewa. Itulah bagian dari gotong royong yang masih hidup di zaman digital.

Resepsi hari itu pakai adat Jawa. Tidak perlu ada panggung. Hanya ada backdrop di belakang pengantin –melintang menutup gang. Juga ada karpet di bawah kursi pengantin. Warna hiasan di gang itu meriah, menambah suasana gembira.

Sebanyak 20-an jenis peralatan dapur digantung berjejer di teras rumah tetangga –yang sudah jadi bagian dari arena resepsi ini. Itulah bagian dari adat Jawa: resepsi perkawinan harus menampilkan semua peralatan dapur. Setelah acara selesai alat-alat dapur itu boleh diambil. Dibawa pulang. Kadang sampai rebutan –mengincar alat dapur yang paling berharga.

Ketika saya tiba di lokasi, resepsi baru saja dimulai. Suara gending Jawa mengalun keras. Gendingnya: kebo giro. Tidak terlihat ada gamelan ditabuh. Oh… suara itu dari rekaman.

Yang juga langsung terlihat oleh saya adalah kiprah Hanoman. Yang lagi sibuk loncat sana loncat sini. Bukan main pentingnya kera putih itu di situ. Sang Hanoman punya fungsi ganda: penghibur sekaligus penata gaya.

Sambil berjoget, Hanoman itu selalu  memperhatikan apa yang perlu dibenahi.

Misalnya: di acara sungkeman –mengantin harus berlutut di depan orang tua. Hanoman itu sambil berjoget mengarahkan pengantin: harus bagaimana posisi sungkem yang benar –tanpa terasa mengoreksi kesalahan mereka.

Ketika ia lihat ada bagian baju pengantin yang mengsle, Hanoman itu merapikannya. Sambil tetap berjoget. Tanpa terasa ia sedang memperbaiki busana. Tidak pula terasa mengganggu kesopanan. Ketika ia lihat tidak ada lagi yang perlu dibenahi, Hanoman berjoget di sela-sela kursi tamu: menghibur. Anak-anak menggodanya. Ia meloncat ke sana ke mari seperti kera sungguhan.

Hanoman itu pula yang mewaspadai kalau-kalau ada botol minuman yang jatuh di meja depan pengantin. Ia yang memungut botol itu, merapikannya.

Sang Hanoman ternyata satu paket dengan juru rias pengantin. Dengan adanya Hanoman tukang rias tidak perlu mondar-mandir ke arena pengantin. Yang biasanya terlihat seperti adegan iklan di tengah YouTube. Hanoman bisa menyelesaikan semua persoalan secara menghibur. Itulah Hanoman serba bisa, multi fungsi.

Yang lebih serba bisa lagi adalah MC di acara itu: ia hanya perlu tripod –untuk menaruh handphone. Di HP itu sudah lengkap: ada gamelan, ada lagu barat, ada dangdut dan ada apa pun yang diperlukan di sebuah resepsi perkawinan.

Nama MC itu: Andus Srianto.

Ia berpakaian adat Jawa –meski lahir di Bengkalis, Riau. Ia kawin dengan orang Tuban, Jatim. Ia belajar adat Jawa di Tuban –tepatnya di sebuah desa jauh dari Tuban.

Andus bisa membawakan kata-kata apa saja untuk mengantarkan perjalanan pengantin menuju pelaminan. Dalam bahasa Jawa halus.

Ia juga bertugas menarasikan seluruh adegan di resepsi itu – dengan background suara gamelan dari HP-nya.

Setelah ritual selesai, Andus berdiri: memerankan diri sebagai MC tunggal.

“Acara pertama”, katanya, “pembacaan ayat-ayat suci Alquran”.

Lalu ia duduk di kursi. Ia jadi pembaca Quran. Lima ayat. Yang sudah ia hafalkan. Sambil tetap melihat layar HP. Quran itu kelihatannya ada di situ juga.

Selesai baca Quran ia berdiri lagi. Jadi MC lagi. Menyilakan saya memberi sambutan. Juga dari wakil kedua belah pengantin.

Di sela-sela acara itu ada hiburan: ada penyanyinya. Ia sendiri yang menyanyi. Diiringi musik dari HP-nya.

Begitu simple resepsi perkawinan ini. Tetap terasa meriah. Mengalir lancar. Seluruh acara cukup dikendalikan dua orang: Hanoman untuk di pelaminan dan MC untuk selebihnya.

Hidup itu benar-benar simple.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Avtur Eceran

Udin Salemo
Salam Pak Dayat.  Tiga besar yang sulit dikalahkan jadi pertamax:1. Fadil 2. Amat 3. ah.id Yang lain perlawanannya gak alot seperti tiga besar diatas.

ah.id hidayat
Salam Bang Udin. Saya hanya menjalankan tugas menjaga pertamax menggantikan jika Bang Amat berhalangan.

Panggiring At Alasroban
Konosuke Matsushita kurang lebih akan kometar seperti ini ke management Garuda. Jika anda tidak bisa mendapatkan kauntungan, itu berarti anda melakukan semacam kejahatan terhadap negara. Anda mengambil modal dari negara. Anda mengambil orang-orang terbaik nya. Namun tak ada keuntungan. Anda menggunakan sumberdaya berharga yang dapat di gunakan lebih baik di tempat lain.

Amat
Ssstttttt…. Tadi nemenin “si kecil” sama ibunya. Kuota internet juga lagi sekarat. Kayak garuda. Ini juga lagi nyari kuota eceran. Moga dapat.

Sadewa
Terakhir kali naik Garuda, bulan lalu saat terbang dari CGK ke DPS. Alhamdulillah pesawat terbang baik baik saja, pramugari-pramugara tetap sigap melayani penumpang. Hanya saat antrian check in counter perlu waktu 1 jam karena tidak semua counter dibuka. (mungkin karena efisiensi), selebihnya penerbangan nyaman, pesawat penuh dengan penumpang, tidak ada sosial distancing. Hari itu sebenernya pas banget Hari Pahlawan, kami ingin menjadi pahlawan kecil-kecilan yg mencoba “menolong” Garuda dengan cara lain. Dengan tetap memilih Garuda, meskipun harga tiketnya 3 kali lipat dari maskapai lainnya. Semoga Garuda tetap baik-baik saja. Jikapun harus bangkrut, saran saya nanti maskapai penggantinya tetap ada nama Garudanya. misalnya : Garuda Perjuangan.

munawir syadzali
Klo beli avturnya ngecer, harusnya gaji direksinya diecer juga. Misal gini ya, hr ini terbang 11 kali, dpet omset 1 miliar. Buat beli avtur 300juta, bayar pilot pramugari 150juta, buat operasional dll 400juta. Lha masih ada sisa 150juta. buat bayar hutang 100juta. yg 50 juta buat gaji harian para direksinya. Kalo dia bs nyisihkan 100jt utk byar hutang x 30 = 30 M x 12 = 360 M. Lumayan lho. kalo utangnya 140 T, 389 tahun lg lunas. Alon alon sg penting baik baik saja. haha kalo garuda jadi mati, abah ada rencana tahlilan sampe 7 hari nggak? tahlilanya sama Pak CT

Disway 17086784
Hari ini saya naik Batik Jayapura Jakarta . Full. Transit di Cengkareng ..naik Lion ke YIA  melalui pintu D2 .. Full juga …

Johan
Ingat ya, apa yang menimpa Garuda sekarang, ada andil Abah DI juga secara tidak langsung. Direktur korup yang dipilih Abah, yang membawa kemajuan semu ternyata bobrok di dalam. Nyinyirin direktur sekarang, yang mengatakan Garuda baik baik saja, direktur yang ingin membangun optimisme dikala situasi sangat sulit. Saya anggap ini cara cuci tangan yang buruk. Selamat siang.

Iwang Wahyu Prasetyo
Saya belum lama ini terbang dengan Garuda, ke Papua, setelah Papernas, berapa penumpangnya? 14! Itu pernerbangan tambahan sepertinya, kosong sekali dari Jakarta, semoga dari Papua penuh. Penuhpun masih tetap rugi, secara agregat penerbangan PP itu hanya terisi 50%. Saya menduga ini penerbangan penugasan.

Tarjo
Rupanya abah masih dendam waktu dirut garuda bilang garuda baik baik saja hahaha

Alexs sujoko sp
Ketika sudah mati, kemudian ada proses memandikan mayat, dilanjud proses mengkafani, kemudian ada proses disembahyangi. Di acara disembahyangi ini ada sambutan keluarga : bagi bapak – bapak atau saudara yang punya sangkutan hutang dengan almarhum, maka diminta berurusan dengan sanak keluarga atau ahli warisnya. Jadi apa besok perlu pakai acara seperti ini agar hutangnya tidak dibawa mati ???????

Tarjo
Garuda itu ibarat orang sekarat, kalau ditanya apa pesan terakhir anda, pasti dijawab “katakan pada pak Dahlan bahwa kami baik baik saja”

Pryadi Satriana
Saya cek harga tiket pesawat dr Cengkareng ke Surabaya di tiket.com utk tgl 1 Jan 2022. Ada 5 penerbangan Citilink – semua di harga Rp665.600,00; 13 penerbangan Batik Air – 7 di harga Rp732.100,00 dan 6 di harga Rp796.600,00; dan ada 3 penerbangan Garuda – semua di harga Rp1.418.700,00. Saya simpulkan Garuda tidak akan mampu bertahan karena “tetap sombong meskipun mau mati.” Salam.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Komentar