Harga Jagung Bisi 18 Meroket, Dari Rp. 3.700 Perkilogram Jadi Rp. 4.700

Ekonomi
Afgalsi, salah satu petani jagung yang sedang melakukan penyemprotan di Desa Tudi, Kecamatan Monano, Kabupaten Gorontalo Utara, Selasa (07/03/2023). (Foto: Istimewa)
  Afgalsi, salah satu petani jagung yang sedang melakukan penyemprotan di Desa Tudi, Kecamatan Monano, Kabupaten Gorontalo Utara, Selasa (07/03/2023). (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Harga komoditas jagung di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Petani setempat mengaku kenaikan harga ini dipicu oleh mahalnya harga bibit hingga perawatan tanaman.

Apip, salah satu petani jagung di Gorontalo menuturkan, kenaikan harga ini mencapai Rp. 1000 dibandingkan harga tahun kemarin. Khususnya harga jagung merek Bisi 18.

banner 300x300

“Harga jagung bisi 18 pada berkisar Rp 3.500 sampai Rp. 3.700 per kilogram pada tahun lalu. Namun, terkini harga jual jagung bisi 18 mengalami lonjakan hingga Rp 3.700 sampai Rp. 4.700 per kilogram,” kata Apip.

Menurutnya, harga jual jagung bisi 18 yang ada di Gorontalo sudah sesuai dengan perkembangan komoditas pangan nasional. Jenis bibit ini memang paling banyak dipilih oleh para petani karena bisa menghasilkan jumlah yang banyak dalam sekali panen.

Dirinya mengatakan, bibit jagung bisi 18 saja paling banyak ditanam di daerah daerah pengasih jagung di Provinsi Gorontalo. Sebut saja di daerah Paguyaman, Atinggola, Sumalata, Monano dan Tolinggula.

banner 728x485

“Petani juga tidak mengalami kesulitan pada saat mereka menanam jagung jenis bisi 18 dikarenakan kualitasnya yang sudah teruji. Petani saja apabila panen besar-besaran penghasilannya dalam penjualan jagung bisi 18 mencapai Rp 5 juta sampai Rp 6 juta,” katanya menuturkan.

Belum diketahui penyebab kenaikan bibit tersebut. Hanya saja, kenaikan harga bibit Bisi 18 ini juga dinilai menguntungkan bagi para petani. Seperti yang dituturkan oleh Afgalsi, salah seorang petani jagung di Kabupaten Gorontalo Utara.

“Dengan naiknya harga jagung bisi 18 ini bisa mempermudah kita sebagai petani untuk mengolah lahan untuk penanaman jagung selanjutnya. Tentunya menjadi kabar sangat gembira bagi petani,” kata Afgalsi.(*)

Penulis: Febrianca Toloy/ Mahasiswa Magang UNG

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *