Hargo.co.id GORONTALO – Menjelang hari raya Idul Adha yang tak kurang dari 2 pekan lagi, sejumlah harga sembilan bahan pokok (sembako) di sejumlah pasar tradisional di Kota Gorontalo masih cenderung normal.
Seperti penuturan Yusni Nelu, salah satu pedagang beras di pasar sentral Kota Gorontalo, mengatakan, hingga kini permintaan beras dari masyarakat masih terbilang normal seperti biasanya. Dan saat ini harga beras juga masih normal alias belum ada kenaikan.
Rata-rata harga beras dijualnya mulai Rp 8.000 untuk ciheran, membramo, Santana dan IR64 hingga yang tertinggi Rp 10 Ribu per Kg untuk jenis Sultan, Pandan Wangi hingga Superwin.
“Masih standar-standar pak. Orang yang beli juga masih biasa-biasa,” ungkap Yusni, kemarin, Ahad (20/8).
Menurutnya, kondisi harga yang cenderung “hijau” ini karena pasca musim panen. “Itu mungkin sudah hukumnya pak, biasanya habis panen besar, beras jadi normal,” tambah Yusnil.
Khusus harga daging, rata-rata pedagang di Gorontalo menjualnya Rp 110 Ribu per Kg. Asmin Ayuba, salah satu pedagang daging di pasar sentral Limboto mengakui, terakhir kali harga daging naik yakni pada moment hari raya Idul Fitri dan lebaran ketupat.
Kenaikannya menjadi Rp 120 Ribu per Kg. Saat ini, harga daging kembali lagi ke harga semula dengan Rp 110 Ribu per Kg.
Ditanya kemungkinan kenaikan harga daging pada hari raya Idul Adha nanti, Asmin mengaku bergantung dari permintaan masyarakat.
“Biasanya memang mau naik. Kemungkinannya bisa sampai Rp 120 Ribu per Kg lagi, sama seperti moment Idul Fitri,” katanya.
Sementara harga bahan pokok lainnya seperti gula masih Rp 12 Ribu per Kg, minyak kelapa Rp 12.500 per liter, cabe rawit atau rica Rp 50 Ribu per Kg, bawang merah Rp 30 Ribu per Kg, tomat Rp 10 Ribu per Kg juga masih normal.
“Waktu harga tomat sudah turun, rata-rata semuanya harganya masih normal. Permintaan juga normal,” kata Asri, pedagang di pasar Liluwo, Kota Gorontalo.
Sementara itu, Kepala Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveilance, Bank Indonesia perwakilan Gorontalo,
One Yusril Fikar, berharap agar pemerintah dengan stakeholder terkait dapat menjaga kelancaran distribusi elpiji kepada masyarakat karena dapat memicu “kejutan ekonomi” yang bisa berdampak pada komoditas lainnya.(axl/hargo)
