Clinton pun bilang begini. Dan hadirin menggemuruh: Hanya delapan tahun saya di Gedung Putih sudah mampu menyediakan untuk Anda sekalian bahan berita yang tidak akan habis selama 20 tahun.
Dia benar. Sekarang peristiwa itu sudah 16 tahun berlalu. Soal gadis tersebut masih jadi bahan pemberitaan. Apalagi istrinya kini jadi capres. Rasanya tidak hanya cukup untuk 20 tahun. Tapi sampai setelah dia meninggal pun.
Forum tahunan wartawan bertemu presiden di acara makan malam besar seperti itu sudah berlangsung sejak 1921. Sudah hampir 100 tahun. Semua berpakaian resmi. Jas dan dasi kupu-kupu. Tentu akan banyak yang kangen dengan acara tahunan yang mengesankan itu. Apalagi kalau yang terpilih nanti Trump.
Trump tidak kalah menghibur. Penampilannya di acara TV sangat disukai. Humornya juga brutal. Hanya gaya membawakannya lebih norak. Tidak pernah mau mengejek diri sendiri.
Dari ingatan media, Ronald Reagan, George W. Bush, dan Clinton termasuk yang suka melawak. Tapi, di antara semua itu, mereka sepakat Obamalah yang nomor 1.
Persiapan Obama tampak begitu baik. Meskipun tidak membaca, pidato lawakan itu ada teksnya. Slide-slide-nya juga brilian. Pakai film pendek segala. Obama tahu kapan berhenti sebentar dan kapan agak lama. Seorang pelawak profesional pernah diterima Obama. Dia mengatakan kadang Obama berhenti terlalu lama. ’’Saya tahu,’’ jawab Obama. ’’Saya sengaja.’’
Jadi, Obama memang mengatur penampilannya dengan sadar, dengan ilmu dan dengan latihan.
Tahun ini Obama mengakhiri pidatonya agak mengejutkan. Begitu mengucapkan kata penutup ’’God blessed America’’, tangan kirinya mengangkat mik tinggi-tinggi. Tangan kanannya membuat gerakan merokok di dekat bibirnya. Mik tersebut dia jatuhkan. Glodak.
