Sementara itu Bupati Bonbol Hamim Pou mengatakan, penyakit berbahaya ini mulai meresahkan masyarakat peternak di Bonbol khususnya. Rata-rata mereka khawatir jangan sampai ternak mereka kena imbasnya.
Untuk itu, pemerintah dalam hal Satker teknis diminta segera turun melakukan identifikasi seluruh ternak yang ada di Bonbol. “Kalau
tidak segera diantisipasi khawatir penyebaran virus makin meluas,”kata Hamim Pou.
Diakuinya, jika permasalahan ini tidak segera di antisipasi oleh satker terkait maka secara otomatis sapi sapi yang ada di wilayah Bone Bolango terinfeksi dengan virus itu.
Lanjut Hamim, dimana jauh sebelumnya dirinya sudah mendengar informasi penyakit/virus yang menyerang tersebut kepada hewan ternak yakni sapi.
Sejauh ini tambah Hamim, Bone Bolango mengembangbiakan sebanyak 34 ribu ekor sapi. “Jadi satu atau dua bahkan lebih dari sepuluh ekor sapi di korbankan tak maslah,”terangnya.
Lebih lanjut Hamim menegaskan, bahwa ini menjadi catatan buruk dan pembelajaran sehingganya kedepan dalam pengadaan sapi harus ada pengawasan sejak awal.
Baik dari lokasi pembelian, daerah asal dan harus dikondisikan sejak awal bahwa sapi ini benar benar clear dari daerah asal sebelum di mobilisasi dan dibawah ke daerah tujuan,”tandasnya.
Seperti diketahui, penyakit sapi yang mengidap virus Brucellosis rata-rata berasal dari distribusi pengadaan APBD 2015 itu, diduga pengadaannya tidak melalui syarat pemeriksaan kesehatan berupa karantina secara spesifik pada proses serah terima bibit sapi kepada para kelompok peternak di Bonbol. (tr-42/roy/hargo)
