Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Jembatan Darurat Ini Tak Ada yang Perduli

Oleh Aslan , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Selasa, 22 Agustus 2017 | 09:38 Tag:
  Takut: Warga saat melintas di jembatan darurat Kedunglumpang (FOTO: NASIKHUDDIN/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Hargo.co.id JOMBANG – Meski sudah setengah tahun usai ambrolnya jembatan di Desa Kedunglumpang, Kecamatan Mojoagung, hingga kini kondisi jembatan penghubung antar desa semakin belum tersentuh perbaikan. Warga mengaku ketar-ketir setiap kali melintasi badan jembatan darurat yang dibangun dari bahan kayu.

”Takut mas, khawatir pasti, apalagi saat anak-anak sekolah yang melintas,” keluh Darmaji, 52, warga Dusun/Desa Kedunglumpang, kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Rumahnya yang bersebelahan langsung dengan bibir jembatan membuat dirinya hafal betul ihwal ambrolnya jembatan tua tersebut. ”Seingat saya kejadiannya Februari lalu, sekitar pukul 00.00 dini hari,” bebernya.

Sebelumnya kejadian tersebut, menurutnya sudah ada tanda-tanda bakal ambrolnya jembatan. ”Sebelumnya sudah muncul retakan-retakan parah, sampai-sampai warga memasang tiang penyangga dari kayu agar tidak ambrol,” bebernya.

Benar saja, bertepatan terjadinya banjir besar yang melanda wilayah Mojoagung, membuat badan jembatan tak mampu lagi menahan gempuran air. ”Saya dengar suara bruak, keras sekali, saya cek ternyata jembatannya sudang menggantung, baru siangnya material berjatuhan ke sungai,” terangnya.

Tak ayal kejadian ini memantik respon masyarakat yang langsung melapor ke pihak terkait melalui pemerintah desa. ”Sudah lapor ke desa, kecamatan juga, tapi belum ada penanganan kongkrit,” imbuhnya.

Setelah berhari-hari akses warga terputus, muncul inisiatif warga membangun jembatan darurat. ”Swadaya warga sendiri, yang membangun juga warga, ada beberapa petugas turut membantu,” terangnya.

Pasalnya, keberadaan jembatan tua ini dinilainya sangat penting untuk aktivitas sehari-hari warga sekitar. ”Ini jembatan sentral, menghubungkan wilayah Desa Kedunglumpang-Mojolegi,” terangnya. Selain itu, akibat ambrolnya jembatan memaksa anak-anak sekolah dan pedagang pasar harus rela memutar sepanjang 4 kilometer menuju sekolah.

”Kalau tidak ada jembatan ini, yang paling terkena imbasnya anak-anak sekolah, mereka harus memutar sejauh 4 kilometer menuju sekolah, karenanya warga swadaya bangun jembatan seadanya,” tandasnya.

Terhitung sampai dengan saat ini, warga dua kali membangun jembatan darurat. ”Pertama dulu kita bangun dari bambu, tak lama rusak, karena bahaya warga membangun kembali, yang kedua dari bahan kayu seadanya,” tandasnya. Karena tidak segera dibangun, saat ini kondisi bangunan jembatan darurat kian memprihatinkan.

Warga mendesak pemerintah segera memperbaiki. ”Sudah beberapa kali dicek, diukur juga oleh petugas, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan tindaklanjutnya. Ini menyangkut keselamatan warga, harusnya bisa didahulukan pengerjannya,” pungkasnya.

Pantauan di lokasi, kondisi jembatan darurat sangat memprihatinkan, selain kontruksinya dari bahan kayu, keberadaan palang pembatas sisi jembatan nampak yang terbuat dari bambu sewaktu-waktu bisa ambrol, terlebih kondisinya yang mulai melapuk. Selain sempit, sehingga memaksa warga bergantian melintas, di lokasi tidak terpasang tanda peringatan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemkab Jombang saat ini belum bisa melangkah lebih jauh terkait perbaikan jembatan Kedunglumpang. Mereka berdalih masih menunggu realisasi dana tanggap darurat bencana dari Pemprov Jatim.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang Arif Gunawan menyebut telah merampungkan proposal yang diajukannya kepada BPBD untuk dilanjutkan ke BPBD Provinsi Jatim. ’’Sudah rampung sejak lama, dan sudah kita berikan kepada BPBD. Mengingat itu pendanaannya dari dana tanggap darurat, yang berhak mengajukan memang BPBD Jombang kepada BPBD Provinsi Jatim,” jelasnya (*/hg)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar