Kepri Go Digital Direspons Positif Industri Pariwisata

×

Kepri Go Digital Direspons Positif Industri Pariwisata

Sebarkan artikel ini
Kepri Go Digital. dok.tribunnews.com

Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis ITX, Sigma menjelaskan banyak pihak yang belum tahu betul apa itu Go Digital dalam industri pariwisata. “Yang dimaksud Go Digital itu sudah 100 persen menggunakan basis digital, dari look, book, dan pay ke dalam satu platform, dalam bentuk online. Bayarnya tidak lagi di sistem yang berbeda. Tidak perlu datang ke ATM atau ke counter teller lagi. Kalau masih pakai cara itu, ya belum Go Digital,” kata Claudia.

Lalu, juga masih ada kontak atau komunikasi orang dengan orang, customers dengan penyedia service, itu juga belum biaa disebut Go Digital. Semua harus sudah tersistem dengan baik, rapi, aman, dan tersertifikasi. “Booking system saja, kalau membangun sendiri bisa ratusan juta rupiah,” kata Claudia.

Booking itu harus sudah terintegrasi dengan baik, antara hotel (supplier), travel agent (distributor) dan market place-nya. Sebab, satu hotel bisa jadi dijual bersama oleh banyak Agency seperti Booking.Com, Agoda.Com, atau lainnya.

“Bagaimana kalau kamar hotel, jenis tertentu, sudah penuh? Lalu dari agency yang lain bersamaan booking? Sistem tidak boleh double, yang merepotkan customers yang datang ke hotel, sudah merasa bayar, tetapi kamar sudah penuh? Kami sudah temukan solusi di sistem booking,” kata dia.

Claudia menegaskan lagi, bahwa bergabung di ITX itu gratis biaya joint, gratis template website, sehingga bisa menyusun website sendiri yang sudah disiapkan, dan gratis booking system. Kalau itu harus dibuat sendiri, biayanya cukup mahal. “Hanya success fee saja 2,5 persen dari transaksi saja, dan itu dipotong sesudah terjadi transaksi,” kata dia.

Stafsus Menpar Bidang IT, Samsriyono Nugroho menyebutkan Go Digital itu tidak bisa dihindari. Seperti halnya Menpar Arief Yahya dimana-mana berucap “Semakin Digital Semakin Personal, Semakin Digital Semakin Global, Semakin Digital Semakin Profesional” dan itu selalu diulang-ulang. Sampai-sampai pernah “diprotes” oleh banyak pelaku bisnis tour and travel konvensional.

“Ini bukan hanya untuk pelaku industri yang sudah lama dan besar, tapi juga buat yang baru, UMKM, yang masih kecil. Syaratnya, harus berbadan hukum dan punya reputasi baik, karena kalau di lapangan terjadi eror nanti akan menjatuhkan reputasi ITX juga,” ungkap Sam.(hg)