Selasa, 9 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



K’Jay, Salah Satu ‘Pendekar Serimpi’

Oleh Admin Hargo , dalam Persepsi , pada Minggu, 5 Juni 2022 | 23:44 Tag: ,
  Alm. Dr Ir Jailani Husain MSc semasa hidupnya.

Oleh : Suhendro Boroma

Innaalillahi wainnaaa ilaihi raji’un.

KABAR duka itu menyayat hati. Meremukkan persendian. Menggetarkan sanubari. Mengoyak kalbu. Mengalirkan kesedihan. Menumpahkan tangisan. Diterpa duka mendalam. Tapi juga, diiringi keikhlasan jiwa…

Ahad pagi, 5 Juni 2022, Dr Ir Jailani Husain MSc berpulang ke rahmatullah. Kanda yang baik hati. Bersahaja. Selalu peduli. Sejak dulu, di Serimpi. Hingga di hari-hari panjang sampai ajal menjemputnya.

Saya sedang  ke Bandara Soekarno Hatta saat membaca kabar duka ini. Untuk melakukan perjalanan ke Surabaya.  Maafkan K’Jay. Dinda tak sempat melayat. Maafkan saya Yunda Hartin. Saya tidak bisa datang ikut mengantarkan detik-detik terakhir K’Kay meninggalkan kita semua.

Maafkan aku Anisa dan adik-adikmu. Saya tahu, pasti Yunda Hartin, Anisa dan keluarga kuat, tabah dan ikhlas melepas suami tercinta, ayah tersayang. Kanda yang baik hati, Jailani Husain, menghadap sang pencipta Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

Akad nikahmu Anisa dengan sang pujaan hati, Sabtu (04/06/2022) ba’da Ashar menjadi penyempurna kasih sayang sang ayah. Memberi kebahagiaan tiada tara. 

Di detak waktu akhir hayatnya. Di sisa-sisa karunia umurnya.  Ananda dr Anisa bersama kekasihmu di VIP Nyiur Melambai tempat perawatannya. Memulai babak baru untuk membentuk keluarga sakinah mawadah warahmah.

Menjadi ‘bab penutup’ sayangnya sang ayah sepanjang hayat. Seperti pamungkas dari doa-doanya untuk kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan akhirat para ahli warisnya. Kala raganya sudah tak berdaya, papàmu tersayang, kanda Jay, membayar tunai amanatnya sebagai orang tua.

Rabu, 31 Mei ba’da Maghrib di Bogor. Saya ditelepon Yunda Hartin. Mengabarkan K’Jay sedang di IGD RUSP Malalayang. “K’Jay so ndak bisa bicara,” kata Yunda Hartin terbata-bata. “Tapi torang terus berikhtiar memberi terbaik untuk perawatan K’Jay.”

Saya segera mengontak teman-teman. Untuk membantu K’Jay secepatnya mendapatkan tempat perawatan di VVIP Nyiur Melambai. Dengan status ‘transit’, untuk selanjutnya ke kamar VIP yang malam itu belum tersedia.

Pukul 22.42WIB. Hampir pukul 00.00 di Manado. “K’Jay sudah di ruang VVIP,” kata Yunda Hartin mengabarkan via telepon. “Sudah bisa bicara lagi setelah diinfus dan mendapatkan perawatan dokter.” Spontan saya menjawab, “Alhamdulillah.”  

Saya lega. Sambil berdoa untuk kesembuhan K’Jay dan keteguhan Yunda Hartin, Anisa dan adik-adiknya. 

Saya punya alasan berharap kesembuhan K’Jay. Bukan baru kali itu K’Jay masuk rumah sakit. Di Paviliun Nyiur Melambai. K’Jay sudah bolak-balik. Selang-seling dengan perawatan oleh dr Anisa di rumah.

Oktober tahun lalu, dirawat di  RS Pancaran Kasih Manado. Di tengah puncak badai pandemi Covid-19. Kala aturan di semua rumah sakit sangat ketat: tak membolehkan siapapun menjenguk. Kecuali keluarga yang punya kartu sebagai penjaga pasien.

Ba’da Subuh di 11 Oktober 2021. Saya dan istri ‘menyelinap’ masuk. Tanpa hambatan. Bisa bercengkrama lebih dari sejam dengan K’Jay dan Yunda Hartin.

Saya tahu K’Jay sedang menahan sakit. Tapi dia begitu bersemangat. “Tetangga-tetangga saya di ruangan ini sudah duluan pergi (wafat),” katanya. “Tinggal K’Jay yang bertahan,” timpal Lily, istri saya.

K’Jay tersenyum. Wajahnya memancarkan semangat kuat. Panjang lebar dia menceritakan ihwal penyakitnya. Detail. Sistematis. Lengkap dengan istilah medisnya. Seperti dia sedang mengajari para mahasiswanya.

Begitu tegar dia. Energi untuk sembuh terlihat jelas. Ada optimisme, bisa menyudahi hari-hari yang getir di rumah sakit. Begitu sabar dia menerima ujianNya. 

Saya menyelipkan pertanyaan. “Mengapa K’Jay masuk rumah sakit ini (Pancaran Kasih).” 

K’Jay tahu betul maksud pertanyaan saya. Dia harus segera mendapat perawatan yang peralatan dan dokter ahlinya tersedia lebih memadai. Adanya di RUSP Manado. Rumah sakit rujukan di Sulut, Gorontalo dan Malut. 

Yunda Hartin langsung menyahut, “banyak teman yang bertanya seperti Hendro.” K’Jay bertutur datar, “dokter yang pertama menangani dan tahu riwayat penyakit saya, ada di sini (Pancaran Kasih).”

Saya tidak melanjutkan. K’Jay dan Yunda Hartin sudah menangkap maksud pertanyaan saya. Lagi pula, dr Anisa sehari-hari bekerja  di RSUP Malalayang. Dalam hati saya, K’Jay lebih nyaman dirawat di tempat anaknya bekerja.

Benar saja. Siang harinya Yunda Hartin mengabari saya. “K’Jay mau pindah ke RSUP Malalayang. Tolong bantu supaya segera dapat kamar perawatan yang bagus.”

Setelah segala sesuatunya siap, termasuk harus ‘lolos’ tes Covid-19 (tes PCR), akhirnya K’Jay bisa dirawat di VIP Nyiur Melambai. “Terima kasih bantuannya,” katanya saat saya dan Lily menjenguknya.

Saya menyesal tidak sempat menjenguk (almarhum) Rustam Conoras. Kanda Utam sempat dirawat di RS Siloam Manado. Saat mendengar K’Utam meninggal, begitu sangat menyesal tidak sempat ‘menyapanya’ kala dirawat di Siloam. Padahal, saya sedang di Manado.

Pengalaman yang sama saya tak mau terulang. Karena itu, walau prokes pandemi Covid-19 sangat ketat diterapkan di semua rumah sakit, saya dan istri berusaha ‘menyelinap’ ke RS Pancaran Kasih. Dan, senangnya, karena bisa menjenguk K’Jay.

K’Jay, K’Utam sudah mendahului kita. Bersama K’Ipoel (Syaiful Bahri Ruray), dan K’Uul (Syahrul Polontalo) merupakan ‘empat serangkai’ tokoh Serimpi. Keempatnya sedang pada puncaknya (K’Ipoel Ketum, K’Utam dan K’Jay ketua-ketua bidang, K’Uul Sekjen), kala saya ikut Maperca dan Basic Training HMI Cabang Manado di 1987. 

Berbeda dengan K’Utam yang meledak-ledak saat berdiskusi dan memberi argumentasi, K’Jay tenang, datar tapi sistematis. K’Jay salah satu pilar kepemimpinan dan figur yang punya kedalaman ilmu di Serimpi kala K’Ipoel dan K’Utam menjadi Ketua Umum HMI Cabang Manado. 

Diam-diam K’Jay memperhatikan saya. Terutama di era K’Utam menjadi Ketum. Kebetulan saya kos di dekat Asrama Bali. Ibunya punya rumah makan di samping Asrama Bali. Kami sering mampir di rumah makan itu saat pulang kuliah di siang hari.

Bersama K’Uul, K’Jay ‘merekam’ jejak aktivitas saya. Dibanding teman-teman seangkatan basic training rumah sakit Muhammadiyah Kampung Arab Manado 1987, saya tidak intens aktif di Serimpi. Saya lebih aktif di YLBHI-LBH Manado, Walhi Sulut, dan senat mahasiswa. Sambil mulai  “belajar menulis” memperebutkan tempat di halaman opini Cahaya Siang—koran utama di Manado era 1980-an.

Semua aktivitas saya ‘di luar Serimpi’ rupanya diikuti K’Jay. Berbeda dengan K’Utam yang secara terbuka memuji dan mempromosikan saya di forum-forum resmi Serimpi, K’Jay memilih cara ‘tertutup’ tapi elegan. 

Dia memang seorang dosen. Sejak menjadi aktivis HMI sudah kelihatan. Cara dia menominasikan kader-kader binaannya seperti guru: tidak kasak-kusuk.

Maka, ketika dilakukan pemilihan Ketua Panitia Konferensi  Cabang (Konfercab) untuk memilih suksesor K’Utam, saya merasa K’Jay, K’Utam, dan K’Uul ‘bersekongkol’ memilih saya. Secara aklamasi rapat pleno cabang menyetujuinya.

Saya menyatakan siap, dan menyampaikan ide: Konfercab dilaksanakan di Kotamobagu, 1989. Rapat pleno juga langsung menyetujuinya.

Inilah Konfercab HMI Cabang Manado yang untuk pertama kali dilaksanakan di luar “kandangnya”. Pembukaan dan penutupan Konfercab di Gedung Bobakidan. Sidang-sidangnya dilaksanakan di gedung yang menjadi Kantor Walikota Kotamobagu saat ini. 

Di seberangnya kampus Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK). Di sela-sela konfercab dilakukan diskusi dengan para aktivis mahasiswa UDK, cikal bakal terbentuknya HMI Cabang Bolmong/Kotamobagu. Fadly Tantu terpilih pada konfercab ini, meneruskan kepemimpinan K’Utam.

Setelah wisuda, saya menjadi wartawan Manado Post. Saya kemudian tahu K’Jay menjadi dosen di Fakultas Pertanian Unsrat. Saya ikut bangga karena K’Jay menyelesaikan jenjang S2 dan S3nya di Kanada dan Jerman.

Saya intens kembali berhubungan dengan K’Jay kala keinginan para alumni HMI Manado mengadakan sekretariat untuk adik adiknya begitu kuat. Sering terlibat diskusi intens. Beberapa kali K’Jay, ditemani K’Uten mendatangi saya di lt 4 Graha Pena Manado Pos. 

Pertemuan dia atur jauh-jauh hari. Menyesuaikan dengan waktu saat saya di Manado. Begitu seriusnya K’Jay ingin mewujudkan sekretariat yang permanen bagi HMI Cabang Manado. Jadwal pertemuan diatur dan direncanakan secara khusus.

“Serimpi menghasilkan banyak kader (HMI Manado) yang sukses,” katanya kepada saya. “Itu karena HMI Manado punya ‘rumah’ yang tetap,” ujarnya meyakinkan saya untuk harus sungguh-sungguh membangun “rumah permanen” bagi HMI Manado. 

Setelah ‘periode Serimpi’, HMI Cabang Manado memang menjadi ‘nomaden’. K’Jay melanjutkan, “HMI Cabang Manado harus segera punya ‘rumah permanen’ agar bisa melahirkan kembali kader-kader hebat dan sukses seperti era Serimpi.”

K’Jay memang dipercayakan sebagai Ketua Panitia Pembangunan Sekretariat HMI Cabang Manado. Sekretariat yang permanen. Di Pangiang, depan Universitas Muhammadiyah Manado. Bahwa K’Jay kemudian mendukung ‘percepatan’ pendirian sekretariat di Pangiang sekarang, tidak lain lahir dari tekad dan niatnya untuk membuat HMI Cabang Manado segera punya rumah.

Tapi keinginan, tekad dan niatnya tidak bergeser: membangun sekretariat permanen di Pangiang. Graha Insan Cita di Pangiang yang dicita-citakan sebagai pusat kegiatan adik-adik HMI dan generasi muda lintas agama di Manado. 

“Saya mendambakan Graha Insan Cita di Pangiang menjadi Youth Center bagi mahasiswa dan pemuda lintas agama di Manado,” katanya.

Gedung yang dicita-citakan K’Jay itu juga iconic: arsitektur dan desain yang menggunakan energi matahari. Dia secara khusus “menggandeng” Prof Sangkertadi, arsitek yang bersertifikat mendesain gedung yang menggunakan energi terbarukan-ramah lingkungan. 

Untuk meyakinkan gagasan ini, K’Jay mengundang para senior HMI Manado untuk menyaksikan dan mendengar langsung penjelasan Prof Sangkertadi (alumni dari Cabang Surabaya) di Hotel Swiss Bell Manado. Hadir kala itu antara lain Sofyan Mile (saat ini Bupati Luwuk Banggai), Marthen Taha (Walikota Gorontalo), Nelson Pomalingo (Bupati Kab. Gorontalo), Hamim Pou (Bupati Bone Bolango), Iskandar Kamaru (Bupati Bolsel), Ade Adam Noch, Syaiful Ruray (saat itu Anggota DPR RI), dan banyak lagi.

Setelah ‘rumah panggung’ Pangiang sudah digunakan sebagai sekretariat HMI Cabang Manado, cita-cita ini tak pernah padam. Setiap kali bertemu, K’Jay selalu mengingatkan saya, “Torang masih ada utang di Pangiang.” 

Mungkin, karena keinginan kuat mewujudkan cita-cita itu, K’Jay terlihat senang saya masuk salah satu Presidium KAHMI Sulut. “Saya bersedia menjadi pengurus. Torang pe tugas utama mewujudkan sekretariat permanen di Pangiang,” katanya saat saya memintanya untuk bersedia menjadi salah satu pengurus KAHMI Sulut periode 2020-2025.

Tapi tidak semata karena alasan itu. Saya melihat karena konsistensinya mendukung “adik-adik ideologis” yang mereka kaderkan di Serimpi. Saat berjumpa, entah direncanakan atau berpapasan, K’Jay selalu menunjukkan dukungannya. Dengan penuh gairah.

“Saya mendukung dan mendoakan Hendro terpilih pada Pilkada Boltim,” katanya saat saya bersua secara tak sengaja di Mantos. Saat ini masih tahap pra-pilkada. Pencalonan masih wacana.

“Saya bersedia membantu,” katanya memberi semangat kepada saya. “Kandungan kekayaan Boltim di bawah dan di atas tanah petanya saya punya,” ujarnya meyakinkan saya.

K’Jay memang salah satu pakar pertanian dan konsultan AMDAL yang dimiliki Unsrat. Selain mengajar dan membimbing mahasiswa, dia mendedikasikan ilmunya untuk mengelola sumberdaya alam dan sumberdaya buatan secara berkesinambungan. Kerap dia keliling dari satu daerah ke daerah lain. Di Sulut. Di Gorontalo. Di Malut. Di Sulteng, dan banyak daerah lain di Indonesia. K’Jay salah satu ahli dari Unsrat yang punya peta geologi di banyak tempat. 

Di tengah kesibukannya itu, dia selalu menyempatkan waktu membina mahasiswa. Entah di HMI. Pun di Kampus. K’Jay lama menjadi Ketua Badan Takmir Masjid Ulil Albab Kampus Unsrat. Sampai sekarang, dia aktif membina jamaah masjid yang menjadi salah satu ‘rumah’ mahasiswa Unsrat-IKIP dulu menempa diri.

Pun untuk Ali dan keluarganya. Pengungsi Afghanistan yang ‘bertahan’ di Manado. K’Jay sudah menjadi “ayah angkat@ Ali, bagian dari keluarga Ali yang terus berjuang kejelasan status mereka. Beberapa kali K’Jay meminta saya untuk membantunya memperjuangkan status Ali dan keluarganya.

Tidak sebatas itu. K’Jay berupaya “menghidupkan” kembali ICMI Sulut. Saya kira, K’Jay yang meyakinkan Prof Sangkertadi untuk mau menjadi Ketua ICMI Sulut. Wakil PR Unsrat bidang kerjasama itu pun menerimanya. Dan K’Jay menjadi salah satu ‘andalannya’.

Saat penyusunan pengurus, dia menghubungi saya. Untuk masuk menjadi pengurus ICMI Sulut. Dia juga melibatkan banyak dosen Unsrat, UNIMA dan IAIN Manado. 

“Melalui ICMI, kita sama-sama berikhtiar memberi kontribusi bagi kemajuan Sulut dan Indonesia,” katanya saat mendampingi Prof Sangkertadi pada rapat perdana Pengurus ICMI Sulut di ruang pertemuan apartemen Mega Mall Manado.

Ahad tadi pagi, 5 Juni 2022 K’Jay meninggalkan kita semua. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, memaafkan kesalahan-kesalahannya, menerima amal ibadahnya dan mendapatkan tempat terbaik disisiNya.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Semoga Yunda Hartin, Anisa beserta adik-adiknya dan semua keluarga diberi ketabahan dan keikhlasan. 

Mari kita doakan, semoga Allah memberi rahmat dan ridhoNya mempertemukan dan mengumpulkan K’Jay dan semua ahli warisnya, dan kita semua, di surgaNya. (***)

 

Graha Pena Surabaya, 

Ba’da Maghrib 5 Juni 2022

(Visited 62 times, 1 visits today)

Komentar