Membuktikan Mandeh Sukses, Lebih Baik dari 1000 Kata Sambutan

×

Membuktikan Mandeh Sukses, Lebih Baik dari 1000 Kata Sambutan

Share this article

Karena itu, ucap Arief, tidak perlu “maju-mundur” atau “ragu-galau” untuk memutuskan industri apa yang paling cocok buat Sumbar! Pariwisata dan ekonomi kreatif. Revolusi industri itu ada tiga, menurut Alfin Toffler. Gelombang industri agriculture atau pertanian, lalu industri manufacture atau pabrik-mekanisasi, dan level ketiga adalah Teknologi Infermasi (IT). “Saat ini, dan masa depan, kita akan memasuki era ekonomi kreatif, atau crultural industry atau creative economy,” kata Arief Yahya.

Pariwisata itu industry kreatif. Industri yang paling mudah dan murah untuk menyumbangkan PDB atau pendapatan per kapita. Industri yang paling besar menghasilkan devisa. Dan menciptakan lapangan pekerjaan. “Kalau kita sudah memutuskan Pariwisata? Maka harus ada CEO Commited, atau keseriusan CEO-nya. Alokasi waktu budget yang signifikan, pilih Kadispar yang terbaik,” kata Arief Yahya, yang diulang lagi saat Pembukaan Tour de Singkarak 2016 di Kab Solok dan dihadiri Gubernur Irwan Prayitno.

Arief menegaskan lagi, PDB Pariwisata Indonesia terbesar di ASEAN saat ini. Pertumbuhan PDB di atas rata-rata industry. “Kalau orang spending Rp 100 juta akan menjadi Rp 170 juta. Atau USD 1 M, multiplier effect nya 170%, atau naik 1,7 kali. Sebaliknya, industry otomotif misalnya, kalau beli mobil seharga Rp 100 juta, impact kepada rakyat hanya 0,7 persen. Tidak sampai 100%. Malah rugi. “Setiap PDB naik, maka pendapatan per kapitanya juga akan naik. Itulah yang sering saya sebut dengan mudah, murah, dan menghasilkan devisa,” kata dia.

Hal serupa juga terjadi di tenaga kerja. Jumlah pengangguran itu ada 7 juta orang saat ini Pariwisata bisa meng-create job opportunity. “Untuk menciptakan 1 lapangan pekerjaan di pariwisata, cukup dengan modal USD 5000. Sedangkan industry lain, harus menyiapkan USD 100.000, jadi 20 kali lipat. Saya bertanya, industry mana yang bisa menyaingi Pariwisata? Mudah, murah dan cepat,” sebut Arief Yahya yang menyebut kelak kategori industry itu ada dua, pariwisata dan non pariwisata. Bukan lagi migas dan non migas.(hg)