Hargo.co.id – Meninggalnya Tiara Arifah (6), putri dari Haryuningsih Atule (30) yang didiagnosa terinfeksi Demam Berdarah Dengue (DBD) meninggalkan duka yang dalam bagi keluarga. Tidak hanya itu, sebelum berpulang ke Rahmatullah, bocah perempuan yang sangat hobi mewarnai tersebut ternyata meninggalkan cerita-cerita
Kediaman Tiara Arifah, bocah perempuan yang meninggal akibat terinfeksi DBD di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, masih diselimuti rasa duka.
Kamis (18/1) sekitar pukul 16.30 Wita, Gorontalo Post mencoba mendatangi kediaman Haryuningsih Atule, ibu korban. “Waalaikumsalam,” balas Haryuningsih Atule ibunda Tiara.
Dia lalu mulai berkisah mengenai anak sulungnya ini yang sangat aktif dan ceria itu. “Tiara sangat friendly pada siapa saja,” kata Haryuningsih.
Bukan hanya itu, ternyata Tiara juga beberapa kali memenangkan lomba mewarnai di tingkat Kabupaten maupun di tingkat Provinsi. “Tiara selalu juara 1 di tiap lomba,” kata Haryuningsih sambil tersenyum mengingat anaknya itu.
Namun, semua itu berubah ketika Tiara menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tiara Arifah yang meninggal dunia pada Senin (15/1), bertepatan dengan ulang tahun sang ibu, Haryuningsih Atule.
Sehari sebelum meninggal, Tiara sempat mengatakan kepada ibunya bahwa dia akan memberikan kado buat sang ibu. Namun kado yang dimaksudkan Tiara itu adalah kado yang tak terlihat dan tidak akan dilupakan oleh ibunya.
Haryuningsih membalas pernyataan anaknya dengan mengatakan bahwa Haryuningsih juga punya kado buat anaknya itu. “Saya sudah siapkan sepatu baru buat Tiara,” ungkap Haryuningsih yang sering disapa Ayu.
Senin (15/1) pagi, Tiara memuji habis ibunya dengan megatakan bahwa sang ibunda sangat cantik pagi itu. Haryuningsih lalu bertanya kepada Tiara perihal kado yang ia janjikan kemarin.
“Tiara bilang : Nanti sebentar bu,” kata Ayu bercerita. Malam harinya, bukan barang berharga ataupun nyanyian indah dari sang anak, ternyata hadiah misterius yang dibisikkan Tiara adalah waktu ia berpulang ke sisi Allah, Tiara meninggal dunia pukul 21.30 Wita.
Tiba-tiba wajah Ayu berubah menjadi murung dan tak kuasa mengeluarkan air mata saat menceritakan momen itu. “Ternyata kadonya ini,” ucap Ayu, sambil mengeluarkan air mata.
Sebelum meninggal dunia, Tiara Arifah sempat dibawa ke Puskesmas Limboto, Kamis (11/1). Sebelum puncaknya Tiara dilarikan ke Rumah Sakit Mm Dunda Limboto, Sabtu (13/1) karena suhu badannya yang tak juga turun.
Saat masa perjuangannya melawan sakit tersebut, Tiara sempat juga beberapa kali menunjukkan gelagat aneh yang baru disadari ibunya setelah Tiara berpulang ke Rahmatullah.
Dalam beberapa kesempatan, Tiara sering bertanya hal-hal yang janggal kepada ibunya. “Tiara pernah bertanya : Mama, orang meninggal itu disayang Allah? Tiara juga pernah bertanya kalau meninggal, apa Tiara akan disayang Allah?.
Tentu saja nak, Tiara sangat disayang Allah,” jawab Haryuningsih yang sempat merasa aneh mendengar pertanyaan-pertanyaan anaknya tersebut.
Haryuningsih beserta keluarga lainnya harus menerima kenyataan ditinggal Tiara Arifah anak berparas imut nan cantik, yang selalu ceria dan sopan kepada siapapun tersebut. “Ia selalu menyapa orang-orang ia kenal,” kata Ayu.
Selain itu, Tiara juga sangat setia kawan pada teman-temannya di Taman Kanak-kanak ABA Limboto. Kini Keluarga hanya harus ikhlas dan terus mendoakan agar Tiara Arifah akan selalu bahagia di sisi sang pencipta Allah SWT. “Saya ikhlas, semoga Tiara tenang di alam sana,” tandasnya. (Franco Bravo Dengo)
