Sebelumnya Agus adalah seorang abang bentor. Tetapi Agus harus membuat pilihan saat melihat peluang ekonomi sebagai abang bentor semakin menipis. Membanjirnya bentor membuat Agus harus menyerah, karena pendapatan yang sudah tidak lagi dapat memunuhi tuntutan hidup keluarganya.
“Dari situ saya memutuskan untuk mencari objekan lain yang menunjang perekonomian keluarga saya,” lanjutnya.
Berbekal dari ilmu yang didapatkan dari seorang teman yang juga pengrajin ban bekas serta keuletannya mengasah kemampuan dengan terus belajar, Agus pun akhirnya membuka usaha yang saat ini telah menjadi tumpuan ekonomi bagi keluarganya tersebut.
Di awal usahanya itu, tidak serta merta Agus menjadi pengrajin profesional. Namun seiring berjalannya waktu usaha kerajinan ban bekas Agus mulai dibanjiri orderan.
Dirinya juga semakin giat membuat berbagai macam kreasi seperti pot bunga unik dengan macam-macam bentuk serta corak warna sesuai dengan pesanan. “Kalau ini rata-rata sudah dipesan, tinggal menunggu dijemput saja,” ujarnya menunjuk sebuah pot bunga.
Keuntungan yang diraup Agus dari usahanya ini menurutnya cukup untuk menopang kebutuhan rumah tangga serta untuk sekolah anaknya yang saat ini duduk di kelas 2 SMP.
Sedikitnya Agus bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 300 ribu perhari, bahkan jika ramai orderan bisa mencapai lebih dari Rp 500. Terlebih lagi saat ini Agus mengakui jika sudah ada beberapa lembaga dan instansi yang memesan pot bunga dan tempat sampah dalam jumlah besar mulai dari 300 hingga 500 buah.
Dan semua itu juga bukan tanpa kendala. Agus mengakui, meskipun usahanya mulai terbilang lancar, tetapi kendala yang dihadapi Agus mulai menemukan kendala yakni, ketersediaan bahan bakunya.
Dirinya harus mencari ban bekas lebih banyak lagi untuk bisa menerima orderan besar karena di sisi lain, beberapa bengkel tempat Agus memperoleh bahan bakunya ini mulai kekurangan ban bekas.
“Kadang harus mencari ke wilayah Kota Gorontalo dengan menyisir bengkel untuk bisa dapat ban bekas,” ujarnya.
Agus menambahkan, dirinya tidak pernah merasa khawatir, jika nanti akan mendapat saingan pada kerajinan ban bekas yang kini digelutinya.
“Saya yakin rezeki itu sudah ada yang atur, tugas kita hanya berbuat saja,” tandasnya. (tr-55/hargo)
