Tiga fokus langkah percepatan yang sudah disampaikan Presiden Jokowi di atas, adalah strategi yang sedang kita jalankan di Kementerian Pariwisata. “Fokus pertama, Infrastruktur, itu syarat mutlak memajukan pariwisata.
Kami sedang percepatan 10 destinasi prioritas, dari Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Kep Seribu Jakarta, Borobudur Jateng, BTS Jatim, Mandalika NTB, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara,†jelasnya.
Fokus kedua, SDM merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global. Tuntutannya adalah segera memiliki SDM-SDM profesional terbaik. Caranya, build, borrow, dan buy. Cara optimal saat ini adalah borrow.
Oleh karena itulah kita sekarang didampingi oleh Shadow Management yaitu para ahli dengan reputasi yang sudah teruji di bidangnya.
Fokus Ketiga, debirokrasi-deregulasi. Beberapa langkah deregulasi yang sudah kita lakukan antara lain BVK (Bebas Visa Kunjungan) 196 negara termasuk Tiongkok.
Pencabutan CAIT untuk industri wisata layar dan moratorium azas cabotage untuk wisata kapal pesiar pada lima pelabuhan besar di Indonesia.
“Sehingga kapal pesiar bisa menaik turunkan penumpang di pelabuhan-pelabuhan tersebut,†kata dia.Langkah debirokrasi, kata Arief Yahya, yang dilakukan adalah implementasi teknologi digital, kita harus semakin digital.
karena itu kita kembangkan E-Government, E-Tourism, TXI (Travel Exchange Indonesia), ITDW (Indonesia Travel Data Warehouse) dan lain-lain.
“Kami punya War Room untuk menjadi pemain global, dan siap bersaing di level internasional,†kata Arief Yahya.
Mantan Dirut PT Telkom yang asli Banyuwangi ini juga menunjukkan fakta-fakta situasi pariwisata Indonesia yang belakangan sangat bergairah.
“Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi nasional untuk mewujudkan kemakmuran. Peningkatan investasi dan destinasi pariwisata menjadi faktor kunci dalam hal pendapatan ekspor dan penciptaan lapangan kerja,†kata dia.
Pariwisata juga  telah melakukan lompatan yang luar biasa, yang membuatnya menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dan tercepat di dunia.
Industri pariwisata merupakan pilihan yang termudah dan termurah untuk meningkatkan pertumbuhan PDB, menghasilkan devisa, dan meningkatkan penciptaan lapangan kerja.
Pertama, untuk menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB). Data terbaru World Travel & Tourism Council (WTTC), sektor pariwisata Indonesia telah memberikan kontribusi 10% dari total GDP, dengan nominal tertinggi di ASEAN.
Pertumbuhan PDB pariwisata sebesar 4,8% dan memiliki potensi untuk mencapai 7%, tingkat pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan industri pertanian, otomotif, manufaktur dan pertambangan.
“Selain itu, saya juga ingin menunjukkan bahwa pendapatan dari 1 juta USD valuta asing (valas) dalam pariwisata
akan menghasilkan 1,7 juta USD, atau berkontribusi 170% bagi PDB Pariwisata, sebagai penyumbang tertinggi dibandingkan dengan industri lainnya, kata Arief Yahya.
Kedua, Pariwisata adalah penghasil devisa, dan diambil di dalam negeri. Tahun 2015, devisa pariwisata peringkat ke-4, berkontribusi 9,3%. Tingkat pertumbuhan tertinggi dialami juga pariwisata, 13%.
Industri minyak dan gas, batubara, minyak kelapa sawit, yang selama ini menjadi primadona mengalami pertumbuhan negatif.
“Ini perlu dicatat baik-baik, biaya pemasaran pariwisata hanya 2% dari proyeksi pendapatan devisa. Jadi tinggal kita balik, kita menginginkan proyeksi berapa, maka 2% nya lah biaya promosinya,†kata dia.
Ketiga soal ketenaga kerjaan, yang selama bertahun-tahun menjadi problem bagi Indonesia. Pariwisata Indonesia telah memberikan kontribusi 9,8 juta pekerjaan, atau sekitar 8,4% dalam skala nasional.
Peringkat ke-4 dari keseluruhan sektor. Tingkat pertumbuhan total sektor pariwisata adalah 30%, dalam kurun 5 tahun.
Pariwisata hanya perlu 5.000 USD untuk membuat satu pekerjaan penuh-waktu, sedangkan industri lain membutuhkan lebih dari 100.000 USD,†jelas Arief Yahya.
Dalam acara ini juga dihadiri oleh Duber RI untuk China Soegeng Rahardjo, Konjen Shanghai Siti Mauludiah, Presiden INACHAM James Hartono, Chairman INACHAM Liky Sutikno, GM Garuda Indonesia I Wayan Sudiarta, dan tokoh pengusaha lainnya.
Sore sebelumnya, Menpar Arief Yahya juga mempresentasikan potensi bisnis Pariwisata Indonesia dalam business forum yang digelar dengan audience yang berbeda.
Vincensus Jemadu, Asdep Pengembangan Pemasaran Mancanegara Wilayah Asia Pasifik, Kemenpar memaparkan 10 Top Destinasi Baru yang biasa disebut sebagai 10 Bali baru itu.(hg)
