Kamis, 19 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menpar dan Olahraga Thailand Kopkarn Serius Belajar Go Digital ke Menpar Arief Yahya

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Jumat, 28 April 2017 | 15:29 Tag: , ,
  

Hargo.co.id BANGKOK – Jalinan kerjasama pariwisata Thailand-Indonesia tampaknya bakal semakin mesra. Sinyal itu terasa ketika kedua menteri pariwisatanya bertemu khusus di sela-sela forum World Travel and Tourism Council (WTTC) Global Summit 2017, yang digulirkan di Bangkok, Thailand, 25-27 April 2017 ini.
Menpar RI Arief Yahya dan Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Kobkarn Wattanavrangkul bertemu bilateral di Centara Grand Hotel and Convention Center, Bangkok, 26 April 2017. Menteri Kopkarn merekonfirmasi kembali soal Go Digital dan Visa Fasilitation yang dibilang “inovatif” oleh Sekjen UNWTO Taleb Rifai, hari sebelumnya 25 April 2017.
“Terus terang, kami mau belajar go digital dan e-visa itu. Kami benar-benar 0.1 untuk digital, kami ingin mendengar langsung, apa sih sebenarnya itu,” ujar Menteri Kopkarn membuka perbincangan.
Buru-buru Arief Yahya menyebut, bukan e-visa, bukan electronic visa yang dia maksud. Tapi Mobile Positioning Data (MPD).
Metode baru dalam mendeteksi wisatawan mancanegara di kawasan crossborder dan bisa dikembangkan ke semua pintu masuk kedatangan. “Prinsipnya pergerakan orang, sama dengan pergerakan phone cell,” sebut Menpar Arief yang memang ahli digital itu.
Menteri Kopkarn pun semakin penasaran. Dia saling melihat dua orang staf di kiri dan kanannya. Semua nomor asing, yang masuk ke wilayah coverage, sudah pasti terdeteksi di Big Data.
Mesin akan mencatat secara otomatis selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun nok stop. Sudah di-exercise di Indonesia, sudah diterapkan di beberapa negara Eropa, sudah diakui UNWTO dan margin erornya sangat kecil.
“Yang terpenting dari MPD adalah data customers, atau wisatawan yang masuk. Kita sebagai penyedia jasa pariwisata, semakin tahu apa yang dicari, apa yang disukai, kapan mereka searching, sehingga materi promosi dan timingnya bisa presisi dan tepat di mention ke wisatawan yang bersangkutan,” jelas Arief Yahya.
Program digital kedua, yang menarik Menteri Kopkarn adalah Online Travel Agent, semacam AirBnB.Com. Yang cukup “meresahkan” industri perhotelan di seluruh dunia. Mereka sering disebut “unregistered accomodation”, karena transaksinya secara online, dengan aplikasi yang mudah didownload di appstore.
Di Indonesia, Menpar Arief Yahya meluncurkan konsep Digital Market Place, yang dikenal dengan ITX. Indonesia Tourism Xchange, untuk mewadahi semua industri pariwisata di tanah air.
Terutama yang terkait langsung dengan 3A, Atraksi, Akses, Amenitas. “Termasuk di dalamnya homestay desa wisata, karena ada 70 ribu desa di Indonesia yang bisa disentuh dengan pariwisata,” kata dia.
(Visited 2 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar