Hargo.co.id – Monitor CCTV itu menunjukkan halaman depan RS di Marawi. Jan Yamit, 23, melihat di layar TV yang berada di ruang lain. Dia menyaksikan bagaimana militan menembaki polisi dan penjaga sebelum kemudian menyerbu RS.
â€Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya. Saya gugup, saya marah. Mereka membunuh orang yang tidak berdaya,†katanya mengenai aksi militan yang menyerang Marawi, kota di Kepulauan Mindanao, Filipina.
Dia dan kakaknya yang bekerja sebagai operator lift berhasil lari dari kepungan militan dengan diam-diam. Dengan menggunakan kayu yang dimanfaatkan sebagai jembatan, mereka pindah ke gedung lain.
Serangan militan ke Marawi yang merupakan negara mayoritas muslim oleh grup Maute berlangsung selama tiga hari. Setidaknya, 46 orang, 15 adalah pasukan militer dan 31 militan, terbunuh dalam serangan itu.
Saat ini, warga Marawi berusaha keluar kota yang dikuasai militan yang berafiliasi dengan ISIS itu. Mereka berbondong-bondong keluar Marawi demi keselamatan diri sendiri dan keluarga. Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera, juru bicara Marawi, pasukan militer berusaha sekuatnya untuk melawan militan. Tetapi tidak mudah. Pasalnya militan itu bergerlya di hutan yang tidak terlalu familiar dengan tentara dan mereka juga bersenjata lengkap.
â€Pemerintah harus menghentikan semua ini. Saya tidak bisa berjudi dengan ISIS karena mereka ada di mana-mana. Dan, Anda sekalian tahu apa yang terjadi. Atau, Anda harus menyadari apa yang sudah terjadi di Timur Tengah,†sambungnya. Pada Rabu (24/5) Presiden Filipina Rodrigo Duterte memutuskan untuk menerapkan darurat militer di Marawi. (theguardian/tia/JPK/hg)
