Meretas Masalah Gizi Anak

×

Meretas Masalah Gizi Anak

Share this article
Hernanto Adwiluvito Statistisi di Badan Pusat Statistik

MUNGKIN belum banyak yang tahu bahwa tanggal 25 Januari diperingati sebagai hari gizi nasional. Sejatinya pencapaian pemenuhan gizi di Indonesia masih jauh dari harapan. Kasus di
Kabupaten Asmat, Papua belum lama ini seolah mengugah kesadaran kita bahwa masih banyak calon penerus bangsa yang terancam masa depannya akibat ketimpangan akses pangan.

Seperti yang diketahui, Indonesia telah berhasil memenuhi 70 persen dari target Millenium Development Goals (MDGs). Namun, perhatian khusus perlu diberikan untuk bidang kesehatan yang capaiannya masih jauh dari target awal salah satunya yaitu persoalan gizi buruk (BPS, 2017).Permasalahan gizi jelas masih menjadi momok bangsa ini. Data terakhir dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan anak usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia masih masuk kategori gizi akut dan kronis. Tidak terkecuali di Provinsi Gorontalo.

Apa yang terjadi? Dalam melihat perkembangan status gizi balita, pemerintah menggunakan dua indikator  rekomendasi WHO yaitu prevalensi malnutrisi dan pendek (stunting).Kedua indikator ini juga menjadi bagian dari target Sustainable Development Goals ( SDGs ) y a i t u menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030,termasuk mencapai target yang disepakati secara internasional untuk anak pendek dan kurus di bawah usia 5 tahun pada tahun 2025.

Data resmi yang digunakan memahami permasalahan gizi bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) oleh Kementerian Kesehatan. Kemenkes (2017) menyebutkan yaitu bahwa hanya 3 provinsi yang terbebas dari masalah gizi buruk dan gizi  kurang yaitu Bengkulu, Bali dan Sulawesi Utara.

Di Gorontalo sendiri prevalensi balita yang mengalami gizi buruk dan kurang  masih  berada di atas rata-rata nasional. Data Riskesdas 2013 menunjukkan fakta bahwa 26,1 persen balita
atau dengan kata lain 1 dari 4 balita di Gorontalo mengalami gizi buruk dan kurang. Angka ini hanya sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010 (26,5 persen).

Selanjutnya , kejadian balita stunting di Gorontalo juga tercatat masih cukup tinggi dan dapat dikatakan mengalami permasalahan gizi kronis pada balita. Sekitar 2 dari 5 balita di Gorontalo memiliki tinggi badan yang pendek dan sangat pendek. Stunting (pendek/sangat pendek) ini adalah kondisi kurang gizi kronis yang diukur berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dibandingkan dengan standar WHO pada tahun 2005.

 Stunting dapat berdampak serius  pada kehidupan anak di masa mendatang. U N I C E F bahkan  menyebutkan bahwa stunting dan berbagai bentuk kekurangan gizi merupakan penyebab
sekitar setengah kematian anak di seluruh dunia. Anak yang mengalami stuting berpotensi besar akan mengalami perkembangan otak yang lambat, penurunan kemampuan mental dan dalam jangka waktu lama akan mudah terjangkit penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.

Permasalahan malnutrisi balita yang mencakup kurus dan obesitas perlu menjadi kewaspadaan juga  Wasting (kurus) adalah kondisi kurang gizi akut yang diukur berdasarkan indeks be rat badan menurut tinggi badan (BD/TB) dibandingkan dengan menggunakan standar WHO 2005. Sebaliknya obesitas (gemuk/sangat gemuk) adalah penyakit kronis dengan cir-iciri timbunan lemak tubuh yang berlebihan yang biasanya menggunakan ukuran BD/TB > 2 standar WHO 2005.

Permasalahan obesitas umumnya terjadi pada daerah dengan kota besar mengingat adanya kemudahan akses panganyang tidak memiliki gizi seimbang seperti makanan cepat saji  Masalah obesitas balita memang belum banyak terjadi di Gorontalo, tetapi hal ini tetap harus menjadi kewaspadaan tersendiri meng ingat pesanya kemajuan industri pangan yang tidak sehat khususnya di wilayah perkotaan.

Di sisi lain, pemerintah Gorontalo saat ini masih harus berupaya untuk mengurangi prevalensi wasting balita a y ang menyentuh angka 11,7 persen. Beberapa penelitian telah  menunjukkan secara  empiris bahwa prevalensi malnutrisi gizi sangat berhubungan dengan t i ngkat kemiski nan daerah. Kemiskinan memang disinyalir  menjadi penyebab sulitnya memenuhi kebutuhan
gizi anak. Namun kita harus mengingat bahwa permasalahan gizi bukan hanya menyangkut  ketersediaan pangan tetapi juga mennyangkut faktor pola asuh, lingkungan tempat tinggal, kualitas pangan, asupan nutrisi dari  ASI dan adanya infeksi.

Perlu Dukungan Pemenuhan gizi anak pada dasarnya bukan hanya untuk mencapai status cukup, melainkan juga harus seimbang. Permasalahan gizi pada anak telah sepatutnya diperhatikan lebih jauh mengingat anak merupakan aset masa depan bangsa. Persoalan ketimpangan pangan menjadi isu penting yang terus diupayakan untuk dituntaskan. Selain itu juga, pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu solusi penunjang yang bisa membantu tercukupinya gizi anak.

Perlu  diketahui pada tahun 2017, persentase anak usia kurang dari 2 tahun (baduta) yang pernah diber i ASI di provinsi Gorontalo telah mencapai 91,07 persen. Akan tetapi rata- rat a lama pember ian ASI untuk baduta di Provinsi Gorontalo masih tergolong rendah yaitu 9,25 bulan. Angka ini masih jauh dari anjuran kesehatan yaitu selama 24 bulan. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa permasalahan gizi ini tidak hanya berkaitan dengan pemberian ASI melainkan juga berkaitan dengan faktor lain.

Seluruh kebi jakan terkait perbaikan gizi anak indonesia  membu tuhkan data  sebagai indikator untuk melihat perkembangan dan dampak kebijakan secara periodik. Tahun ini, pengumpulan data Riskesdas akan kembali di laksanakan setelah periode sebelumnya  dilaksanakan pada tahun 2013. Oleh karena itu, semua pihak diharapkan dapat mendukung penyediaan data kesehatan salah satunya mengenai perkembangan gizi balita. Sebagai penutup  pembangunan pangan bukan sekedar untuk mengejar produksi  pangan, melainkan juga perbaikan akses pangan, kualitas pangan, dan mutu pelayanan gizi.

Hal inilah yang perlu dipahami dan didukung oleh pemerintah, swasta dan masyarakat. Sistem kerawanan pangan perluditerapkan di seluruh wilayah. Sistem ini juga harus disertai aksi nyata dengan melibat kan seluruh pihak sampai tingkat rumah tangga itu sendiri Perlu diingat bahwa kepedulan keluarga terhadap pemenuhan gizi anak merupakan kunci penting kesuksesan penuntasan masalah gizi anak di samping berbagai program kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Statistisi di Badan
Pusat Statistik