Rabu, 6 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Muhammad Zohri, Pelari Tercepat Dunia Asal Indonesia

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Jumat, 13 Juli 2018 | 10:00 Tag: ,
  

Hargo.co.id, GORONTALO – Di tengah hiruk pikuk kompetisi Piala Dunia 2018. Kabar membanggakan datang dari perhelatan Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7). Sprinter muda Indonesia Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih medali emas dalam kompetisi paling bergengsi itu.

Zohri berhasil mencatatkan diri sebagai pelari tercepat dunia kategori yunior dengan torehan waktu 10,18 detik. Torehan Zohri itu berpeluang mengalahkan seniornya Suryo Agung Wibowo, pemegang rekor manusia tercepat di Asia Tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik.

Prestasi yang ditorehkan Zohri mencengangkan banyak pihak. Pasalnya, pemuda kelahiran Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenag, Lombok Utara ini tak masuk favorit. Apalagi dua sprinter asal Amerika Serikat Anthony Schwartz dan Eric Harrison digadang-gadang memenangi lomba.

Zohri yang berlari di line 8 membungkam prediksi itu. Saat tanda strat dibunyikan, Zohri langsung melesat dan memimpin perlombaan. Zohri mampu unggul atas Anthony Schwartz dan Eric Harrison yang mencatat waktu 10,22 detik. Keduanya menempati posisi 2 dan 3.

Selebrasi menjadi salah satu ritual wajib bagi atlet usai menyabet gelar juara. Itulah yang dilakukan oleh sprinter muda Indonesia, Muhammad Zohri.

Usai menjadi juara di nomor 100 meter, Zohri lantas berlari ke arah tribun. Ia mencoba mencari bendera merah putih untuk dipakainya pada victory lap, atau perayaan gelar juara yang diraih. Tapi, Zohri tak kunjung mendapatkan bendera merah putih.

Kondisi itu berbeda dengan pesaingnya asal AS Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Kedunya sudah berpose di depan fotografer dan wartawan sembari menyilangkan bendera Amerika Serikat di punggung. Bahkan Zohri sempat diajak berpose bertiga oleh Anthony Schwartz dan Eric Harrison, walau belum memegang merah putih.

“Bendera sebenarnya sudah disiapkan ofisial dan pelatih. Namun, memang ada keterlambatan pemberian bendera dari panitia,” kata Pejabat Penerangan KBRI di Helsinki, Rizki Kusumastuti dilansir VIVA. Bendera merah putih baru dikenakan Zohri saat dirinya para peserta lomba sudah mulai meninggalkan lintasan.

Sementara itu dengan catatan waktu 10,18 detik, pemuda berusia 18 tahun tersebut berpeluang memperbaiki rekor sekaligus mengalahkan seniornya Suryo Agung Wibowo, pemegang rekor manusia tercepat di Asia Tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik.

“Saya sangat gembira dengan catatan waktu terbaik saya dan rekor junior nasional. Sekarang, saya akan mempersiapkan diri untuk Asian Games bulan depan,” kata Lalu kepada situs resmi Federasi Atletik Dunia (IAAF).

Dia mengaku sangat bangga atas prestasinya dan pengalaman luar biasa di Finlandia ini akan menjadi cambuk bagi dia untuk menorehkan prestasi yang lebih baik di masa depan.

Sosok Lalu Muhammad Zohri mendadak jadi perbincangan masyarakat Indonesia. Atlet asal Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara ini, baru menjadi juara kejuaraan dunia Junior Athletic di Finlandia. Zohri panggilan akrabnya, sukses meraih medali emas setelah berhasil menaklukkan pelari asal berbagai negara.

Meski begitu, kehidupan keluarga Zohri masih memprihatinkan. Dibutuhkan perhatian pemerintah guna membantu keluarga Zohri.

“Zohri kalau pulang tidur di rumah bedeng peninggalan orang tua kami. Kami sudah usulkan bantuan program rumah kumuh dari pemerintah Lombok Utara, namun belum ada kabar sampai saat ini,” kata Ma’rif, kakak Lalu Muhammad Zohri sebagaimana dilansir INDOPOS, Kamis (12/7).

Zohri kelahiran 1 Juli 2000, merupakan anak ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Semasa hidup, orang tua Zohri, Lalu Ahmad, bekerja sebagai nelayan dengan pekerjaan sampingan sebagai buruh tani untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Sedangkan ibunda Zohri, meninggal saat Zohri duduk di bangku SD. Ayahnya menyusul menghadap Sang Pencipta hampir setahun lalu. Kala itu Zohri sedang di luar daerah melakukan persiapan menghadapi salah satu kejuaraan bergengsi. Namun terpaksa pulang untuk melihat orang tuanya terakhir kali.

“Semasa hidup, orang tua kami sangat mensupport Zohri untuk terus mengukir prestasinya. Alhamdulillah amanat itu dijalankan dan sekarang telah mengharumkan nama Indonesia. Kami sangat bersyukur,” ungkapnya.

Ia menceritakan, saat pertama kali ditawari mengikuti kejuaraan, Zohri sempat menolak. Beragam alasannya. Salah satunya persoalan biaya yang dikhawatirkan. Namun, dengan support orang tua yang mengharapkan Zohri tetap ikut, akhirnya membangun semangatnya menerima tawaran itu.

Lalu Muhammad Zohri mengenyam pendidikan SDN 2 Pemenang Barat, dan melanjutkan di SMPN 1 Pemenang. Belum tuntas menjalankan studi di SMP itu, Zohri mendapat tawaran untuk ikut dalam kejuaraan. Ia dianggap berpotensi dan berhasil hingga beberapa kali menoreh prestasi.

“Dulu saat SMP, Zohri terbilang siswa yang malas. Beberapa kali dijemput ke rumah untuk bisa sekolah oleh gurunya, dan bahkan pernah tidak naik kelas satu kali,” kata sang kakak.

Dengan prestasi yang ditoreh Zohri saat ini, Ma’rif pun berpesan agar tetap mempertahankannya demi mengharumkan nama bangsa Indonesia. Namun Zohri juga diingatkan tetap memperhatikan masa depannya.
Ma’rif juga sangat berharap pemerintah memberikan perhatian atas prestasi adiknya.

Sebagai kakak, ia berharap Zohri tidak menikah dengan waktu yang cepat saat ini. Karena dinilainya perjalanan Johri masih panjang untuk mengharumkan nama Indonesia.

“Saya sering komunikasi dengan Zohri, saling menanyakan kabar. Meskipun dalam keadaan sibuk ia menyempatkan diri untuk menghubungi kelurganya di Lombok Utara,” tutupnya.(indopos/bam/san/gp)

(Visited 8 times, 1 visits today)

Komentar