Rabu, 20 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Nani Wartabone dan Muhammadiyah

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Selasa, 23 Januari 2018 | 11:13 AM Tag: , , ,
  

TIDAK  terasa sudah 76 tahun peristiwa patriotik 23 Januari diperingati oleh segenap rakyat Gorontalo. Sejarah mencatat bahwa pada hari jumat 23 Januari 1942 Masehi atau bertepatan 5 Muharam 1361 Hijriyah, Nani Wartabone atas nama seluruh rakyat, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ini berarti Proklamasi di Gorontalo 3 tahun lebih awal daripada proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta. Rakyat Gorontalo mengadakan rapat umum di pusat kota Gorontalo untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Nani Wartabone yang bertindak sebagai inspektur upacara berpidato:“Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini, sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, Pemerintah Belanda sudah diambil alih Pemerintah Nasional”. Atas jasa-jasanya yang sangat luar biasa kepada bangsa dan negara, maka Nani Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003. Gelar tersebut diserahkan Presiden Megawati Soekarnoputri melalui salah seorang anak laki-lakinya, Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara, pada tanggal 7 November 2003.

Sebagai tokoh pejuang, Nani Wartabone ikut terlibat dalam sejumlah organisasi pergerakan. Saat bersekolah di Surabaya, beliau bersama sejumlah pemuda Gorontalo pada 1923 mendirikan organisasi pemuda pelajar Gorontalo yang disebut Jong Gorontalo. Beliau juga termasuk tokoh yang ikut menyaksikan kongres pemuda Indonesia yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda. Sepulang ke Gorontalo, pada tahun 1928 beliau mendirikan Perkumpulan Pemuda Tani (Hulunga) yang beranggotakan 300 orang pemuda. Melalui perkumpulan ini, beliau menanamkan jiwa kebangsaan dan pendidikan politik para pemuda Gorontalo. Di akhir tahun 1928 beliau mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang Gorontalo. Setelah PNI dibubarkan, pada tahun 1931 beliau mendirikan Partai Indonesia Raya (Partindo) di Gorontalo. Pada tahun 1933, kegiatan Partindo di seluruh Indonesia dilarang pemerintah Belanda. Oleh karena itu maka Nani Wartabone mengalihkan perjuangannya melalui persyerikatan Muhammadiyah.

Dalam bukunya Sejarah Gorontalo Modern dari hegemoni kolonial ke Provinsi terbitan penerbit ombak (2012), sejarawan dari Universitas Negeri Gorontalo Joni Apriyanto menjelaskan bahwa pemerintah kolonial sangat mencurigai setiap kegiatan yang berbau politik karena dapat menimbulkan rasa kebencian terhadap Belanda. Olehnya mereka berusaha merongrong kegiatan pergerakan politik dengan melakukan pelarangan-pelarangan. Masyarakat Gorontalo berusaha mengantisipasi larangan tersebut dengan memberikan kesempatan kepada organisasi sosial budaya yang tumbuh di Jawa untuk berkembang di Gorontalo.

Salah satunya adalah persyerikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini mulai masuk ke Gorontalo mula-mula diperkenalkan oleh Jusuf Otoluwa yang merupakan salah seorang siswa sekolah guru di Jakarta dengan mengajak beberapa kawannya untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah sekembalinya mereka ke Gorontalo. Mereka mengundang sekretaris Pimpinan pusat Muhammadiyah, Mohammad Junus Anis ke Gorontalo untuk meresmikan berdirinya Muhammadiyah Cabang Gorontalo pada 18 November 1928. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah cabang Gorontalo tidak saja mendirikan ranting-ranting di seluruh Gorontalo, akan tetapi juga meluas sampai ke Manado dan sekitarnya bahkan ke beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Muhammadiyah melalui kegiatan dakwah dan pendidikan telah mewujudkan sejumlah amal usaha diantaranya pendirian sekolah dari Taman Kanak-kanak sampai sekolah lanjutan atas, mendirikan masjid, musholla serta pusat kesehatan masyarakat di berbagai ranting Muhammadiyah di wilayah Gorontalo. Hal inilah yang membuat Muhammadiyah mendapat simpati dari masyarakat Gorontalo sehingga banyak tokoh masyarakat yang ikut terlibat dalam kegiatan persyerikatan termasuk Nani Wartabone.

Dalam buku Biografi Nani Wartabone yang disusun FKIP Unsrat di Gorontalo (1985) disebutkan bahwa sejak tahun 1930, Nani Wartabone bersama Imam A Nadjamuddin berinisiatif mendirikan grup muhammadiyah Suwawa. Maksud Nani Wartabone masuk Muhammadiyah adalah untuk mengarahkan umat Islam agar sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya, sehingga pandangan yang merugikan Islam dapat dihilangkan dan rakyat dapat berjuang bersama untuk mencapai kemerdekaan. Beliau menggunakan kesempatan dakwah melalui kegiatan tabligh muhammadiyah di kampung-kampung, selain untuk menyampaikan ajaran islam, juga berusaha menanamkan kesadaran berpolitik rakyat untuk bersatu menggapai Indonesia merdeka. Masyarakat Gorontalo ternyata sangat suka dengan ceramah-ceramah Nani Wartabone. Apabila masyarakat tahu bahwa yang memberikan dakwah adalah Nani Wartabone, maka mereka akan datang berbondong-bondong untuk menghadiri dan mendengarkan tabligh. Oleh sebab itu aktivitas dakwah beliau selalu dipantau pihak kepolisian Belanda. Bahkan beberapa kali pemerintah Belanda melalui kakaknya Ayuba Wartabone yang menjabat Wedana Gorontalo, memberikan peringatan kepada Nani Wartabone terkait kegiatan dakwahnya, termasuk ancaman akan diasingkan kalau tetap bergiat dalam persyerikatan. Namun Nani Wartabone tetap konsisten dan konsekuen berjuang lewat gerakan dakwah muhammadiyah.

Pada tahun 1934, diadakan konferensi ke-3 Muhammadiyah cabang Gorontalo yang dihadiri oleh utusan-utusan kelompok Muhammadiyah dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah yang diselenggarakan di Suwawa. Sebagai tuan rumah, Nani Wartabone memiliki andil besar dalam pelaksanaan konferensi yang juga dihadiri oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari Yogyakarta. Sebenarnya Nani Wartabone diusulkan menjadi pimpinan konsulat Muhammadiyah Sulawesi Utara dan Tengah. Namun karena kesibukannya, beliau tidak bersedia menerima kedudukan itu. Bersama dengan sejumlah pengurus Muhammadiyah Gorontalo seperti Yusuf Polapa, Mohammad Dunggio dan Tom Olii, beliau memantapkan kesadaran umat islam akan pentingnya wadah persyerikatan Muhammadiyah.

Lewat buku Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial terbitan Penerbit Ombak (2012), Hasanudin dan Basri Amin menjelaskan tentang perkembangan persyerikatan Muhammadiyah di Gorontalo. Sejak tahun 1929 telah dirintis usaha untuk membuat grup-grup muhammadiyah di perkampungan Gorontalo. Pendirian grup tersebut mempunyai persyaratan yang harus dipenuhi bagi suatu kampung seperti masjid, taman pendidikan dan kegiatan tabligh. Selama kurun waktu 1929-1940 telah dibentuk 39 grup Muhammdiyah yang tersebar di kawasan Gorontalo.

Usaha Muhammadiyah mulai berkembang dengan terbentuknya Aisyiah pada tahun 1930 sebagai wadah kaum perempuan dibawah kepengurusan Marie Lamadilawo. Pada tahun 1931 dibentuk Gerakan Kepanduan Hizbul Wathon yang merupakan wadah kegiatan kepemudaan dbawah pimpinan Ibrahim Mohammad. Dalam kurun 1931-1932, Muhammadiyah Gorontalo mendatangkan tenaga pengajar guru agama Islam dari Yogyakarta. Kemudian pada kurun waktu 1932-1938 dilakukan pengiriman putra daerah Gorontalo untuk memperdalam pengetahuannya di Yogyakarta sebagai pusat kegiatan Muhammadiyah. Sejak 1934, organisasi Muhammadiyah di Gorontalo berubah status menjadi konsulat Muhammadiyah keresidenan Manado berkedudukan di Gorontalo yang diketuai Tom Olii dan Sekretaris Mohammad Dunggio. Perubahan ini disesuaikan dengan kedudukan keresidenan Manado yang mencakup Sulawesi wilayah utara dan tengah. Perubahan status ini telah mendorong pesatnya perkembangan Muhammadiyah di Gorontalo.

Dalam peristiwa patriotik 23 januari 1942, sejumlah tokoh persyerikatan Muhammadiyah ikut terlibat membantu Nani Wartabone diantaranya B. Datau yang aktif dalam rapat persiapan gerakan rakyat menentang Belanda, U.H. Buluati sebagai sekretaris komite12 dan Ibrahim Mohamad sebagai komandan Pasukan Pengawal Kota.
Bahkan Nani Wartabone tidak hanya melibatkan pribumi gorontalo saja tetapi juga berjuang bersama tokoh-tokoh dari luar etnik Gorontalo. Terdapat sejumlah tokoh Jawa yang terlibat diantaranya R.M Koesno Danupojo, M. Soegondo, dan R.M. Danuwatio yang aktif dalam komite 12. Ada tokoh Minahasa seperti Pendang Kalengkongan sebagai Komandan Polisi di Afdeeling Gorontalo. Tokoh Sangir diantaranya H.K.P. Saerang dan L. Manorek sebagai anggota Veld-politie. Tokoh keturunan Tionghoa seperti Soei Oei Hong sebagai ketua partai tionghoa dan Keng Hong yang terlibat dalam pasukan pengawal kota. Ada pula tokoh keturunan Arab seperti Segaf Alhasni dan Hasan Badjeber yang aktif dalam komite 12.

Selain pergerakan politik, Nani Wartabone juga memberikan kontribusi pada gerakan pendidikan dan ekonomi kerakyatan. Pada 1932 beliau mendirikan sekolah desa Muhammadiyah di Suwawa. Setahun berikutnya beliau mendirikan koperasi Muhammadiyah di Gorontalo. Peran beliau pun tidak dapat dipisahkan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta cabang Gorontalo dan Universitas Islam Gorontalo (UIG), yang menjadi cikal bakal IAIN Sultan Amay sekarang. Kedua universitas ini merupakan perguruan tinggi swasta pertama di daerah Gorontalo pada era tahun 1960-an. Beliau sempat menjadi ketua badan wakaf UIG.

Lewat Pusat Koperasi Kopra, beliau menyisihkan seratus rupiah per 100 kg kopra untuk melengkapi fasilitas perkuliahan bagi IKIP Negeri Manado cabang Gorontalo, membangun asrama mahasiswa Gorontalo di sejumlah daerah seperti di Manado, Makassar, Jakarta, Yogyakarta dan Bandung serta memberikan beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa. Atas jasa-jasa dalam pendirian perguruan tinggi di Gorontalo, beliau dianugerahi peniti emas jambura akademikus oleh civitas akademika Universitas Negeri Gorontalo. Universitas Muhammadiyah Gorontalo juga pada peringatan hari patriotik 23 januari tahun 2017 yang lalu telah memberi penghargaan kepada Nani Wartabone dengan menyematkan nama beliau menjadi nama kafilah kepanduan Hizbul Wathon kampus UM Gorontalo.

Melalui momentum peringatan hari patriotik 23 januari, kita berusaha meneladani sekaligus menjiwai semangat perjuangan Nani Wartabone untuk bisa diimplementasikan dalam rangka mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan provinsi Gorontalo di segala bidang, sehingga cita-cita masyarakat adil dan makmur dapat segera terwujud. Aamiin!

*Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar